Pesantren Luka Akbar
InWECNA Gorontalo Gelar Pesantren Luka Akbar, Dihadiri Tenaga Kesehatan hingga Pelajar
Workshop bertajuk Pesantren Luka Akbar Jilid IV digelar di Indoor David Bobihoe Akib Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) pada Kamis (12/3/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-workshop-Pesantren-Luka-Akbar-jilid-IV-di-indoor.jpg)
Ringkasan Berita:
- InWECNA Gorontalo menggelar Workshop Pesantren Luka Akbar Jilid IV di Universitas Muhammadiyah Gorontalo (12/3/2026) untuk mengedukasi mahasiswa dan tenaga kesehatan mengenai teknik perawatan luka terbaru
- Narasumber utama, Ns. Muhammad Yusuf, memperkenalkan metode balutan modern yang lebih efektif mempercepat penyembuhan, mengurangi rasa nyeri
- Meski lebih unggul, penerapan modern dressing di fasilitas kesehatan masih terkendala sistem pembiayaan
(Penulis: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Workshop bertajuk Pesantren Luka Akbar Jilid IV digelar di Indoor David Bobihoe Akib Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) pada Kamis (12/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga sekitar 16.00 Wita tersebut diikuti oleh mahasiswa, tenaga kesehatan, serta pelajar sekolah menengah kejuruan.
Workshop ini menghadirkan Ketua Indonesian Wound Education and Care Network Association (InWECNA) Gorontalo, Ns Muhammad Yusuf, sebagai narasumber utama. Ia membawakan materi mengenai konsep dasar perawatan luka serta penerapan modern dressing pada luka akut dan kronis.
Saat memberikan sambutan ia mengatakan pentingnya pembaruan pengetahuan bagi tenaga kesehatan agar mampu mengikuti perkembangan ilmu dalam penanganan luka.
Menurutnya, metode perawatan luka yang selama ini banyak digunakan di masyarakat masih bersifat konvensional, seperti penggunaan kasa dan salep yang sering menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasien saat pergantian balutan.
“Kegiatan ini untuk memperkenalkan penerapan modern dressing pada luka akut maupun kronis,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan balutan modern memberikan sejumlah keuntungan bagi pasien, di antaranya mengurangi rasa nyeri saat pergantian perban serta membantu mempercepat proses penyembuhan luka.
Baca juga: Breaking News: Lapangan Taruna Remaja Mendadak Ramai Sejak Pagi, Warga Antre Penukaran Uang Baru
Balutan modern tidak mudah menempel pada jaringan luka sehingga dapat meminimalkan perdarahan ketika balutan diganti. Selain itu, daya serap balutan modern juga lebih baik sehingga frekuensi pergantian balutan tidak perlu dilakukan setiap hari.
“Pergantian balutan bisa sampai dua hingga tiga hari sekali,” jelasnya.
Meski demikian, penerapan metode tersebut di fasilitas kesehatan masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya terkait sistem pembiayaan layanan kesehatan.
Ia menilai klaim pembiayaan untuk perawatan luka modern masih relatif rendah sehingga belum semua fasilitas kesehatan dapat menerapkannya secara optimal.
“Kendala utama saat ini terkait klaim BPJS,” katanya.
Sejarah Singkat InWECNA
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Yusuf juga menjelaskan secara singkat latar belakang terbentuknya Indonesian Wound Education and Care Network Association (InWECNA).