Kebakaran Sekolah di Gorontalo
4 Tahun Pascakebakaran Ruang Kelas, Siswa SDN 7 Bulango Utara Belajar di Perpustakaan
Empat tahun berlalu sejak api menghanguskan bangunan sekolah, sebanyak sembilan siswa kelas 1 di SDN 7 Bulango Utara, Desa Kopi
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-seorang-anak-laki-laki-di-dalam-ruang-kelas-SDN-7-Bulango-Utara.jpg)
Ringkasan Berita:
- Ruang Belajar Darurat: Sebanyak 9 siswa kelas 1 terpaksa belajar di perpustakaan. Suasana yang penuh tumpukan buku dan penataan yang tidak sesuai standar kelas membuat siswa cepat merasa jenuh
- Kondisi Fisik Bangunan: Ruang kelas yang terbakar pada Mei 2022 masih terbengkalai dengan puing kayu menghitam, atap bolong, dan lantai yang mulai ditumbuhi rumput liar
- Fasilitas Sanitasi: Kebakaran juga menghanguskan toilet siswa, memaksa seluruh siswa dan guru berbagi satu toilet yang sama.
TRIBUNGORONTALO.COM – Empat tahun berlalu sejak api menghanguskan bangunan sekolah, sebanyak sembilan siswa kelas 1 di SDN 7 Bulango Utara, Desa Kopi, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Mereka terpaksa menjalani aktivitas belajar mengajar di ruang perpustakaan karena satu ruang kelas yang terdampak kebakaran pada Mei 2022 silam tak kunjung diperbaiki.
Pantauan TribunGorontalo.com pada Kamis (12/3/2026), sisa-sisa petaka kebakaran tersebut masih membekas jelas. Kondisi ruang kelas yang belum tersentuh renovasi itu tampak memprihatinkan; puing-puing kayu yang menghitam, pecahan kaca, hingga papan tulis rusak masih berserakan di lokasi.
Atap bangunan terlihat bolong di berbagai sisi, sementara lantai kelas mulai ditutupi rumput liar lantaran bertahun-tahun ditinggalkan.
Kepala SDN 7 Bulango Utara, Salma Podungge, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi ini. Menurutnya, atmosfer perpustakaan sama sekali tidak ideal untuk mendukung fokus belajar siswa sekolah dasar.
“Di perpustakaan banyak buku dan penataannya tidak seperti ruang kelas. Anak-anak kadang merasa jenuh karena memang itu bukan ruang belajar yang sebenarnya,” ungkap Salma.
Nasib siswa kelas 1 ini berbanding terbalik dengan siswa kelas 2 dan 3. Dari tiga kelas yang terbakar, baru dua ruangan yang berhasil direhabilitasi secara bertahap pada tahun 2023 dan 2024.
Sebelumnya, kondisi bahkan lebih miris. Siswa sempat menempati bangunan perumahan tua yang bocor dan gelap gulita saat hujan turun. "Anak-anak belajar dalam kondisi yang tidak nyaman," tambahnya.
Baca juga: Breaking News: Lapangan Taruna Remaja Mendadak Ramai Sejak Pagi, Warga Antre Penukaran Uang Baru
Kendala Anggaran dan Administrasi
Mandeknya perbaikan satu ruang kelas sisa ini dipicu oleh kendala administratif. Pihak sekolah diwajibkan melampirkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dari konsultan dalam sistem Dapodik untuk mengajukan bantuan.
Namun, keterbatasan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menjadi tembok penghalang. Dengan jumlah total siswa hanya 60 orang, sekolah hanya menerima dana sekitar Rp50 juta per tahun yang sudah habis terserap untuk operasional harian.
"Untuk membuat RAB itu biasanya membutuhkan tenaga konsultan dan tentu memerlukan biaya. Sementara dana yang dimiliki sekolah sangat terbatas," jelas Salma.
Selain ruang kelas, SDN 7 Bulango Utara juga masih kekurangan fasilitas sanitasi karena toilet siswa ikut hangus terbakar. Saat ini, seluruh siswa dan guru terpaksa berbagi satu toilet yang sama.
Keluhan Orang Tua Siswa
Kondisi ini mulai berdampak pada motivasi belajar siswa. Adi Akuba, salah satu orang tua murid, mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan.
"Kadang anak saya malas belajar kalau ruang kelasnya tidak memadai. Harusnya perbaikan pendidikan jadi prioritas pemerintah," tegas Adi.