Human Interest Story
Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid
Momentum sakral baru saja terukir di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Fadri Kidjab | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Fatmawaty-Mile-saat-ditemui-TribunGorontalocom.jpg)
Jarak yang harus ia tempuh setiap hari tidak main-main, yakni berkisar 36 kilometer. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan rute melelahkan yang harus ia lalui demi masa depan anak didiknya.
"Saya harus tiga kali ganti kendaraan setiap berangkat," ungkap Fatmawaty sembari mengelap keringat wajah.
Perjalanan dimulai dengan kendaraan pribadi, lalu berlanjut menggunakan jasa ojek motor untuk menembus jalur yang sempit.
Tak jarang, ia harus menumpang mobil open cup atau bak terbuka jika harus memobilisasi keperluan sekolah.
Debu jalanan dan teriknya matahari Gorontalo telah menjadi teman setia dalam pengabdiannya selama lebih dari 20 tahun.
Dedikasi ini semakin kuat sejak ia berhasil lulus sebagai Guru Penggerak pada tahun 2024 lalu.
Status sebagai Guru Penggerak itulah yang menjadi jembatan baginya untuk dipromosikan menjadi Kepala Sekolah.
Baca juga: Nama-nama 171 Kepala Sekolah Dilantik Bupati Gorontalo Hari Ini 6 Maret 2026
Tantangan di Masa Depan
Kini, setelah dikukuhkan kembali, tantangan yang ia hadapi di SDN 29 Tibawa justru semakin nyata di depan mata.
Bukan hanya soal jarak fisik, namun "jarak" teknologi yang menjadi momok utama di sekolah pelosok tersebut.
Di saat dunia membicarakan kecerdasan buatan, SDN 29 Tibawa masih harus berjuang keras mencari sinyal internet.
Ketiadaan infrastruktur jaringan yang memadai membuat digitalisasi pendidikan terasa seperti mimpi di siang bolong.
"Kami hanya mengandalkan voucher internet, itu pun kecepatannya sangat terbatas," keluhnya.
Kondisi ini membuat para guru sulit menerapkan model pembelajaran berbasis digital secara maksimal.
Padahal, kata Fatmawaty, semangat guru-guru di pelosok untuk melek teknologi sangatlah besar.
Puncak kesulitan terjadi saat agenda nasional seperti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tiba.