Bocah Tewas Tenggelam
Breaking News: Bocah SMP Tewas usai Terseret Arus Sungai Paguyaman Gorontalo
Seorang bocah laki-laki bernama Abdulrahman Pengo, pelajar kelas 1 SMP, dilaporkan meninggal dunia setelah terseret arus Sungai Paguyaman
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-suasana-rumah-duka-bocah-tenggelam.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang bocah laki-laki, Abdulrahman Pengo, dilaporkan meninggal dunia setelah terseret arus Sungai Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, pada Senin (5/1/2026) siang.
Informasi ini dibenarkan oleh warga setempat yang berada di sekitar lokasi.
Windi Mohi, warga Desa Sosial, menjelaskan bahwa rumah korban berada di wilayah pegunungan, tepat di sisi aliran sungai.
“Lokasi rumah korban berada di bagian atas pegunungan. Hanya saja aliran sungai melintas hingga ke samping rumahnya,” ujar Windi saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Senin (5/1/2026).
Menurut keterangan warga, sebelum kejadian nahas tersebut, pelajar kelas 1 SMP tersebut bermain di sungai bersama teman-temannya.
Saat itu, korban berada di bagian tengah arus sungai dan diduga mencoba mengukur ketinggian air. Namun, tiba-tiba arus besar datang dari arah pegunungan dan menyeret tubuh korban.
“Korban sempat ditahan oleh temannya, tetapi karena arus terlalu deras, pegangan itu terlepas,” jelas Windi.
Baca juga: Pengorbanan Sumitra, Niat Selamatkan Anak Malah Ikut Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo
Proses Pencarian
Korban kemudian terbawa arus cukup jauh dari lokasi awal. Pihak keluarga bersama warga setempat langsung melakukan pencarian dengan menyisir beberapa titik aliran sungai.
Setelah pencarian dilakukan, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
“Korban ditemukan tersangkut di kayu, dalam keadaan sudah meninggal dunia,” kata Windi.
Kasi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Gorontalo, Halidin La Bidin, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut korban telah ditemukan sebelum laporan resmi masuk ke pihak Basarnas.
“Iya, korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” ujarnya.
Halidin menambahkan, karena korban lebih dulu ditemukan oleh warga dan keluarga, proses pelaporan tidak dilanjutkan. Ia juga menjelaskan bahwa kondisi cuaca di wilayah Paguyaman memang sedang tidak bersahabat.
“Kejadiannya begitu cepat. Hujan dengan intensitas tinggi di kawasan Paguyaman menyebabkan debit air sungai meningkat secara tiba-tiba,” pungkasnya.
Kasus ini mengejutkan warga. Pasalnya beberapa waktu lalu, ibu dan anak juga dikabarkan terseret arus sungai Paguyaman.