Rabu, 18 Maret 2026

Warga Gorontalo Hanyut

Pengorbanan Sumitra, Niat Selamatkan Anak Malah Ikut Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo

Sumitra (26), warga Desa Ambara, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo, hanyut bersama putranya, Akbar Diangi (9), di Sungai Paguyaman

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Pengorbanan Sumitra, Niat Selamatkan Anak Malah Ikut Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo
Istimewa
PENGORBANAN IBU -- Potret pihak kepolisian dan warga mencari keberadaan korban hanyut di Sungai Paguyaman. Pengorbanan Sumitra menyelamatkan anaknya diceritakan oleh korban selamat kepada polisi. 
Ringkasan Berita:
  • Sumitra rela melepaskan pegangan demi meraih anaknya yang kesulitan melawan derasnya arus
  • Yasin berhasil selamat dengan berpegangan pada batang kayu
  • Pengorbanan Sumitra ini diceritakan langsung oleh Yasin Isini

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sumitra (26), warga Desa Ambara, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo, hanyut bersama putranya, Akbar Diangi (9), di Sungai Paguyaman, Desa Motoduto, Kecamatan Boliyohuto, Sabtu (3/1/2026). 

Ia rela melepaskan pegangan demi meraih anaknya yang kesulitan melawan derasnya arus, meski akhirnya ikut terseret.

Peristiwa memilukan itu terjadi ketika Sumitra bersama anaknya dan seorang kerabat, Yasin Isini (50), hendak menyeberangi sungai sepulang dari kebun jagung.

Kondisi sungai saat itu sedang meluap. Arus deras membuat warga sekitar khawatir, bahkan seorang saksi sempat menyarankan agar mereka menyeberang lebih awal sebelum air semakin tinggi.

Meski mendapat peringatan, rombongan tetap berusaha menyeberang dengan saling berpegangan tangan. Yasin berada di depan, Sumitra di tengah, dan Akbar di belakang.

Langkah mereka semula terlihat hati-hati. Namun di tengah perjalanan, Akbar mulai kesulitan. Bocah itu berteriak memanggil ibunya, meminta pertolongan.

Mendengar jeritan anaknya, Sumitra spontan melepaskan pegangan dari Yasin demi meraih tangan Akbar.

Tindakan penuh kasih itu justru membuat keduanya kehilangan keseimbangan. Arus deras langsung menyeret Sumitra dan Akbar menjauh.

Yasin sempat berusaha menolong, namun hanya dirinya yang berhasil selamat setelah berpegangan pada batang kayu di tepi sungai.

Sementara Sumitra dan Akbar hilang terbawa arus, meninggalkan kepedihan mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.

Kasi Humas Polres Gorontalo, AKP Wawan Suryawan, menjelaskan bahwa laporan pertama diterima Polsek Boliyohuto sekitar pukul 15.00 Wita.

“Yasin berhasil selamat karena sempat berpegangan pada batang kayu di tepi sungai,” terang Wawan.

Tim gabungan dari Polsek, Koramil, dan pemerintah kecamatan segera turun ke lokasi untuk melakukan pencarian.

Malam harinya, Basarnas Gorontalo bergabung dalam operasi SAR. Pencarian difokuskan di titik terakhir korban terlihat.

Tim menyusuri aliran Sungai Motoduto hingga Sungai Besar Paguyaman dengan perahu karet dan penyelam.

Dalam pencarian, ditemukan dua potong pakaian yang diduga milik korban: celana biru milik Akbar dan kemeja cokelat milik Sumitra.

ORANG HANYUT -- Potret pencarian korban hanyut di Sungai Desa Motoduto, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Sabtu (4/1/2026). Dua warga Ambara dikabarkan hanyut.
ORANG HANYUT -- Potret pencarian korban hanyut di Sungai Desa Motoduto, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Sabtu (4/1/2026). Dua warga Ambara dikabarkan hanyut. (Istimewa)

Penemuan itu semakin menguatkan dugaan bahwa keduanya terseret jauh oleh arus sungai.

Namun hingga pukul 21.30 Wita, korban belum ditemukan. Pencarian dihentikan sementara karena kondisi gelap dan arus yang berbahaya.

Minggu pagi, operasi dilanjutkan dengan melibatkan lebih banyak unsur SAR, termasuk BPBD Boalemo, Polda Gorontalo, dan masyarakat setempat.

Kepala Desa Motoduto, Djafar Ujaili, membenarkan bahwa Sumitra dan suaminya memang berdomisili di desa tersebut.

Suami korban, Rinto Dayangi, ikut serta dalam pencarian, berharap istrinya dan anaknya segera ditemukan.

Menurut warga, Sumitra dikenal sebagai sosok ibu yang penuh kasih dan selalu mengutamakan anaknya.

Tindakan refleksnya untuk menolong Akbar dianggap sebagai wujud nyata pengorbanan seorang ibu.

Peristiwa ini menjadi pengingat betapa derasnya arus sungai bisa berubah menjadi ancaman mematikan.

Tim SAR menghadapi banyak kendala, mulai dari derasnya arus, air keruh, hingga hujan lebat yang mengguyur lokasi.

Meski demikian, semangat pencarian tidak surut. Semua pihak berharap Sumitra dan Akbar segera ditemukan, apapun kondisinya.

Hingga kini, pencarian masih terus dilakukan dengan membagi tim ke beberapa sektor sungai.

SRU pertama menyisir aliran utama Sungai Paguyaman sejauh tiga kilometer menggunakan perahu karet.

SRU kedua menelusuri anak sungai sejauh hampir dua kilometer dari lokasi kejadian.

Warga sekitar juga ikut membantu dengan menyusuri tepian sungai, berharap ada tanda-tanda keberadaan korban.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Rabu, 18 Maret 2026 (28 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:28
Subuh 04:38
Zhuhr 11:59
‘Ashr 15:01
Maghrib 18:02
‘Isya’ 19:10

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved