Warga Gorontalo Hanyut
Kronologi Ibu dan Anak Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo, Korban Pulang dari Kebun
Pihak kepolisian mengungkap kronologi Peristiwa hanyutnya seorang ibu rumah tangga bersama anaknya di Sungai Motoduto
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Proses-pencarian-Korban-hanyut-di-Sungai-Desa-Motoduto.jpg)
Kepala Desa Motoduto, Djafar Ujaili, membenarkan bahwa korban bersama suaminya memang berdomisili di Desa Motoduto.
Baca juga: Breaking News: 2 Warga Ambara Gorontalo Hanyut di Sungai Paguyaman
Korban Pulang dari Kebun
Sebelumnya dikabarkan dua warga Desa Ambara, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo, dilaporkan terseret arus Sungai Paguyaman saat hendak pulang dari kebun.
Peristiwa tersebut terjadi di Dusun Lima, Desa Motoduto, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, pada Sabtu sore.
Korban yang dilaporkan hilang masing-masing adalah Sumitra (28), seorang perempuan dewasa, dan Akbar Diangi (9), seorang bocah laki-laki.
Keduanya diketahui baru saja selesai beraktivitas di kebun sebelum mencoba menyeberangi sungai yang saat itu berarus deras.
Informasi awal menyebutkan, korban tidak sempat menyelamatkan diri karena derasnya arus dan kondisi sungai yang cukup dalam.
Tim SAR Gabungan Diterjunkan
Usai menerima laporan, tim SAR gabungan langsung diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pencarian.
Operasi pencarian dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) dengan metode berbeda.
SRU 1 melakukan pencarian menggunakan perahu karet di aliran Sungai Paguyaman dengan radius sekitar tiga kilometer.
Sementara SRU 2 menyisir anak Sungai Paguyaman sejauh 1,78 kilometer dari lokasi kejadian perkara (LKP).
Dalam operasi ini, sejumlah unsur SAR dilibatkan, di antaranya Tim Rescue Pos SAR Marisa, KPP Gorontalo, BPBD Kabupaten Boalemo, Polsek Boliyohuto, Babinsa Motoduto, Polda Gorontalo, Polres Gorontalo, serta aparat Desa Motoduto bersama masyarakat setempat.
Halidin mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi tim di lapangan.
Derasnya arus sungai menjadi hambatan utama dalam proses pencarian.
Selain itu, kondisi air yang keruh membuat jarak pandang terbatas bagi tim penyelam maupun petugas di perahu karet.
Hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut juga memperlambat proses pencarian.
Meski demikian, tim SAR gabungan tetap berupaya maksimal untuk menemukan kedua korban.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)