Jalan Rusak Gorontalo
Pemkab Gorontalo Siapkan Rp 200 Juta Perbaiki Jalan Rusak di Pentadio
Pemerintah Kabupaten Gorontalo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memastikan jalan rusak
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/JALAN-RUSAK-Potret-jalan-rusak-di-Desa-Pentadio-Barat-Kecamatan-Telaga-Biru.jpg)
Ia menambahkan, pihak desa sudah berkoordinasi dengan PUPR terkait kondisi jalan itu, dan pemerintah desa juga terus menyampaikan laporan masyarakat.
“Pak kades langsung menghubungi pihak PU, dan jawaban dari mereka memang sudah jelas jalan ini akan diperbaiki,” kata Yayu.
Pantauan Tribun Gorontalo, kondisi kerusakan memang terlihat nyata di sepanjang Jalan Yan Lamatenggo, Dusun II Pentadio Barat.
Belasan titik jalan rusak parah dengan lubang besar yang menganga. Beberapa ruas memang masih bisa dilalui, namun di ujung jalan genangan air seperti kolam kecil menutup badan jalan.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan kerbau. Air menutup lubang-lubang dalam sehingga sulit diperkirakan kedalamannya.
Beberapa becak motor (bentor) kerap sulit lewat setelah terjebak di genangan. Motor yang melintas pun nyaris tergelincir.
Erwin Pakaya, warga lainnya, menegaskan aksi blokade jalan adalah puncak kesabaran.
“Ini sudah ketiga kali kami tutup jalan, karena rusaknya sudah terlalu lama. Dua tahun dibiarkan begitu saja tanpa ada pemeliharaan. Tahun lalu dijanjikan akan diperbaiki, tapi sampai sekarang belum ada juga,” keluhnya.
Abdul Radjak Pakaya pun menambahkan, kerusakan jalan ini sudah berulang kali memakan korban.
“Banyak sekali lubang-lubang di sepanjang jalan ini. Sudah sering ada yang jatuh, apalagi anak-anak sekolah yang tiap hari lewat sini. Kami tutup sampai ada perbaikan, tidak akan dibuka sebelum itu,” ujarnya tegas.
Tulisan pada baliho yang dipasang warga mencerminkan jeritan hati mereka: “Jalan ditutup, karena pemerintah daerah menutup mata”, serta sindiran pedas “Pastikan kendaraan anda bisa terbang melewati jalan ini”.
Pemandangan itu bukan sekadar potret jalan yang rusak, melainkan simbol nyata dari keputusasaan warga.
Selama dua tahun mereka bersabar, namun janji yang dinanti tak kunjung ditepati. Kini, dengan suara lantang, warga memilih menutup jalan sendiri sampai pemerintah benar-benar membuka mata.(*/Jefry)