Human Interest Story
Sosok Muhamad Laniu, Guru Honorer Penjaga Tradisi Gorontalo
Hidup Muhamad Laniu adalah cerminan pengabdian tanpa henti. Jejak langkahnya tak pernah lepas dari jalan untuk melayani masyarakat
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Muhamad-Laniu-pezikir-atau-ahlulu.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Hidup Muhamad Laniu adalah cerminan pengabdian tanpa henti. Ia mengabdikan diri untuk masyarakat dan agama di Desa Modelidu, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Lahir pada 1968, Muhamad Laniu tumbuh di desa yang sederhana. Ia lulus dari Madrasah Aliyah Al-Yusra Gorontalo pada 1989 sebagai bagian dari angkatan pertama.
Tak lama berselang, pada 1990, ia dipercaya menjadi Kepala Dusun di Dulamayo Utara. Di sela tugasnya, ia tetap mengajar sebagai guru honor di SDN 3 Dulamayo Utara sekaligus menjadi guru mengaji bagi anak-anak.
“Waktu itu saya mengajar beberapa kelas. Itu saya lakukan sepenuh hati tujuannya untuk mencerdaskan anak bangsa,” kenangnya, Minggu (14/9/2025).
Pengabdiannya terus berlanjut. Pada 1994, ia didaulat menjadi Sekretaris Desa Dulamayo Utara. Empat tahun kemudian, ia pindah ke Ulapato B yang kelak menjadi Desa Modelidu. Di sana, ia kembali menjabat sebagai Kepala Dusun 4 pada 1999–2002.
Mengusulkan Pemekaran Desa
Dalam sebuah rapat gabungan tiga desa, Muhamad Laniu tak hanya hadir. Ia memberanikan diri mengusulkan tiga hal, yakni pemekaran kecamatan, pembukaan jalan, dan pemekaran Desa Modelidu dari Ulapato B.
“Usul itu langsung direspons Bupati, bahkan menjadi pijakan awal lahirnya Desa Modelidu,” ujarnya.
Setelah desa resmi terbentuk pada 2003, ia kembali dipercaya menjadi Sekretaris Desa hingga 2005.
Perannya sebagai imam bermula dari sebuah momen tak terduga. Pada suatu malam doa arwah tahun 2005, imam yang diundang tak kunjung datang.
Ia memberanikan diri mengambil buku berisi doa-doa, lalu melantunkan bacaan dengan suara lirih. Dari momen sederhana itu, ia mulai dikenal sebagai "hatibi," pemimpin doa dalam acara arwah maupun doa kubur.
Pada 2006, Muhamad Laniu terpilih menjadi Kepala Desa Dulamayo Utara hingga 2012. Meski sibuk, ia tetap haus akan ilmu. Ia menempuh kuliah S1 pada 2007–2011 di salah satu perguruan tinggi di Gorontalo.
Setelah masa jabatannya berakhir, ia kembali pada jalan yang paling ia cintai: menjadi imam dan pezikir.
Hingga kini, ia masih sering diundang untuk memimpin doa dalam acara arwah, tahlilan, hingga menjadi pezikir dalam peringatan Maulid Nabi dan walimah haji. Suaranya yang merdu saat melantunkan “meraji” selalu menghadirkan keharuan.
“Melayani masyarakat lewat doa itu lebih menenangkan hati saya. Apalagi kalau melihat warga merasa terhibur dan mendapatkan ketenangan batin, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.