Pelecehan Anak di Gorontalo
Oknum Guru Ngaji Sering Lecehkan Murid di Masjid Gorontalo, Kedok Terbongkar setelah Korban Curhat
Seorang guru mengaji sekaligus imam masjid di Kabupaten Gorontalo diduga telah mencabuli seorang anak di bawah umur.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-pria-mengajarkan-alquran.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang guru mengaji sekaligus imam masjid di Kabupaten Gorontalo diduga telah mencabuli seorang anak di bawah umur.
Kasus ini terbongkar setelah korban memberanikan diri menceritakan perlakuan buruk yang dialaminya kepada seorang teman.
Berdasarkan laporan kepolisian, dugaan pencabulan ini terjadi berulang kali sejak Mei hingga Agustus 2025.
Ironisnya, perbuatan bejat itu sering dilakukan di dalam masjid saat korban sedang mengikuti kegiatan mengaji.
Awalnya, pelaku yang merupakan lansia itu meraba kepala korban dengan dalih kasih sayang.
Namun, perbuatannya semakin tidak senonoh hingga menyentuh bagian sensitif korban.
Awal kedok pelaku terbongkar
Ibu korban baru mengetahui kejadian ini pada Sabtu (23/8/2025) setelah anaknya bercerita.
Kisah ini sebelumnya telah diceritakan korban kepada temannya, yang kemudian ditanggapi serius oleh orang tua teman tersebut.
Sang ibu mengaku anaknya sempat ketakutan saat menceritakan perbuatan sang guru mengaji.
Sebelum kasus ini terbongkar, terduga pelaku sempat meminta korban untuk kembali datang ke masjid saat salat subuh. Sejak saat itu, ibu korban melarang anaknya mendekati masjid tersebut.
Baca juga: RS Bhayangkara Gorontalo Bantah Isu Gaji Nakes Telat Dibayar, Ini Faktanya
Pihak keluarga sempat mencoba menyelesaikan kasus ini melalui jalur mediasi dengan pemerintah setempat.
Namun, upaya tersebut gagal karena pelaku tidak tidak hadir.
"Mediasi belum jadi karena dia tidak datang," ungkap ibu korban.
Merasa tidak tenang dan menginginkan keadilan, ibu korban akhirnya memutuskan untuk melapor ke polisi.
"Karena tidak ada tindak lanjut, saya langsung ke Polres. Sore itu juga saya buat laporan," jelasnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Gorontalo, Iptu Wawan Suryawan, membenarkan adanya laporan tersebut.
"Iya, orang tua korban sudah melapor di Polres," ujar Wawan saat dikonfirmasi, Jumat (29/8/2025).
Kanit PPA Polres Gorontalo, Aipda Stalin Kadir, menambahkan bahwa korban dan keluarganya akan segera dimintai keterangan. Pihak kepolisian juga akan memanggil saksi-saksi terkait.
Korban sudah menjalani visum dengan didampingi Dinas P2TP2A Kabupaten Gorontalo.
Hingga kini, polisi masih mengumpulkan bukti-bukti untuk mendalami kasus yang telah mengguncang masyarakat Kabupaten Gorontalo ini.
Baca juga: RS Bhayangkara Gorontalo Bantah Isu Gaji Nakes Telat Dibayar, Ini Faktanya
Cara Mencegah Anak Menjadi Korban Pelecehan
Pelecehan anak adalah masalah serius yang bisa menimpa siapa saja. Sebagai orang tua atau orang dewasa, kita memiliki peran penting untuk melindungi mereka.
Mencegah anak menjadi korban pelecehan membutuhkan kombinasi dari pendidikan, komunikasi, dan menciptakan lingkungan yang aman.
Ajarkan Anak tentang Batasan Tubuh dan Pelecehan
Ajarkan konsep 'rahasia baik' dan 'rahasia buruk'.
Rahasia baik adalah kejutan menyenangkan, seperti rencana pesta ulang tahun.
Rahasia buruk adalah sesuatu yang membuat anak merasa tidak nyaman, takut, atau bingung, dan harus segera diceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya.
Berikan anak kosakata yang tepat untuk anggota tubuhnya. Gunakan nama yang benar untuk bagian tubuh mereka dan ajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh bagian pribadi mereka, begitu pula sebaliknya.
Tanamkan pemahaman bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.
Anak berhak mengatakan "tidak" jika ada seseorang yang menyentuh atau membuat mereka tidak nyaman, bahkan jika orang itu adalah anggota keluarga atau teman dekat.
Bangun Komunikasi yang Terbuka dan Aman
Jadilah orang dewasa yang bisa dipercaya. Ciptakan hubungan yang hangat dan tidak menghakimi agar anak merasa nyaman untuk berbagi cerita apa pun tanpa takut dimarahi atau dihukum.
Dengarkan saat anak berbicara.
Berikan perhatian penuh saat anak menceritakan sesuatu, terutama jika mereka tampak gelisah, cemas, atau menceritakan kejadian yang aneh.
Lakukan percakapan terbuka secara rutin. Bicarakan apa yang mereka alami di sekolah, di rumah teman, atau di internet. Ini akan membantu Anda mendeteksi perubahan perilaku atau hal-hal yang tidak biasa.
Ajarkan anak siapa saja orang dewasa yang bisa mereka percaya.
Beritahu mereka untuk segera bercerita kepada Anda, guru, atau anggota keluarga lain yang tepercaya jika mereka mengalami atau melihat sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman.
(TribunGorontalo.com/Red)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.