Berita Internasional
Misteri Kota Rudal Bawah Tanah Iran: Dibom Berkali-kali, Tetap Aktif
Tiga pekan serangan intensif oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur rudal balistik Iran telah menghancurkan sistem radar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-Komando-Pusat-AS-CENTCOM-merilis-rekaman-yang-menunjukkan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Serangan intensif AS dan Israel berhasil merusak sebagian besar fasilitas permukaan rudal Iran, namun gagal menghancurkan jaringan bawah tanahnya.
- Infrastruktur terowongan sedalam 500 meter yang dilengkapi rel internal membuat sistem peluncuran rudal tetap berfungsi.
- Akibatnya, Iran masih mampu melancarkan serangan meski digempur selama berminggu-minggu.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Tiga pekan serangan intensif oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur rudal balistik Iran telah menghancurkan sistem radar, meruntuhkan pintu masuk terowongan, serta membuat kawah pada ventilasi di puluhan lokasi militer.
Namun, Iran tetap meluncurkan rudal.
Menurut analisis citra satelit CNN dan kajian lembaga riset keamanan Israel, Alma Research, penyebabnya bukan berada di permukaan, melainkan ratusan meter di bawah tanah, di dalam jaringan “kota rudal” bawah tanah yang saling terhubung dengan rel kereta internal dan dipahat di dalam gunung.
Baca juga: Gempa Magnitudo 2,6 Guncang Barat Daya Gunungkidul, Ini Penjelasan BMKG
Fasilitas ini disebut-sebut tidak bisa sepenuhnya dijangkau oleh bom apa pun dalam arsenal Amerika Serikat maupun Israel saat ini.
Jaringan Bawah Tanah yang Sudah Lama Dibangun
Program rudal bawah tanah Iran bukanlah improvisasi baru.
Sejak 2020, sudah muncul laporan mengenai sistem rel otomatis yang membentang di dalam terowongan raksasa, digunakan untuk memindahkan rudal balistik dari ruang perakitan ke gudang penyimpanan hingga ke pintu peluncuran.
Kini, ketika Operasi Epic Fury memasuki pekan keempat, skala pembangunan fasilitas ini semakin terlihat jelas, bersamaan dengan keterbatasan serangan udara dalam menghancurkannya.
Temuan Citra Satelit: Rusak di Atas, Hidup di Bawah
Investigasi CNN menganalisis citra satelit dari 27 pangkalan bawah tanah Iran dengan total 107 terowongan.
Hasilnya:
77 persen pintu masuk terowongan berhasil dihantam serangan
Namun, alat berat terlihat kembali beroperasi hanya dalam 48 jam setelah serangan
Terowongan yang tertutup segera digali ulang dan kembali difungsikan
Temuan ini diperkuat oleh laporan Alma Research pada Januari 2026, yang menyimpulkan bahwa serangan hanya melumpuhkan fasilitas permukaan secara sementara.
Sementara itu, seluruh aset militer yang berada di bawah tanah tetap selamat.
Situs Yazd Jadi Sorotan
Salah satu lokasi yang paling sering diserang berada di dekat kota Yazd, Iran tengah.
Wilayah ini telah menjadi target serangan berulang kali oleh AS dan Israel, termasuk pada:
- 1 Maret
- 6 Maret
- 17 Maret
- dan beberapa hari setelahnya
Namun, analis independen Shanaka Anslem Perera menilai kerusakan yang terlihat hanya sebagian kecil dari keseluruhan sistem.
Ia menyebut jaringan terowongan di bawahnya tetap berfungsi, dengan pintu keluar alternatif dan sistem rel yang bisa mengalihkan jalur jika satu akses dihancurkan.
Mengapa Bom Tak Mampu Menembus?
Masalah utama terletak pada faktor geologi.
Mantan Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa fasilitas rudal dibangun hingga kedalaman 500 meter.
Sebagai perbandingan, bom penghancur bunker terkuat milik AS, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, hanya mampu menembus:
sekitar 60 meter beton bertulang atau sekitar 40 meter batuan sedang. Artinya, kedalaman fasilitas Iran lebih dari 12 kali lipat kemampuan penetrasi bom tersebut.
Menurut Perera, ini bukan sekadar keterbatasan teknis, melainkan “ketidakmungkinan secara fisika”.
Gunung, katanya, menjadi sistem pertahanan alami yang tidak bisa ditembus oleh serangan udara.
Strategi Iran: Infrastruktur, Bukan Sekadar Senjata
Perera menjelaskan, logika strategi Iran cukup sederhana namun efektif:
Setiap rudal yang menghantam wilayah Israel seperti Arad, Dimona, atau wilayah tengah, dirakit di bawah tanah, dipindahkan melalui rel, lalu diluncurkan dari pintu yang bisa dihancurkan dan dibangun kembali berkali-kali.
Ia menegaskan:
“Iran tidak mempersiapkan perang ini dengan membangun roket, tetapi dengan membangun rel kereta di dalam gunung.”
Menurutnya, roket bisa diganti, tetapi infrastruktur bawah tanah bersifat permanen.
Iran Tetap Menyerang, Narasi Berbeda Muncul
Selama Operasi Epic Fury, Iran terus meluncurkan rudal balistik, termasuk upaya serangan ke pangkalan gabungan AS-Inggris di Diego Garcia.
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi berjalan lebih cepat dari jadwal dan militer Iran telah “selesai”.
Namun, data citra satelit dan analisis lembaga independen menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Perang yang terlihat di permukaan memang menunjukkan kemajuan.
Tetapi perang yang sebenarnya, yang berlangsung setengah kilometer di bawah tanah, baru saja dimulai.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.