Sabtu, 21 Maret 2026

Berita Internasional

Padahal Tak Ikut Perang di Iran, Tapi India Justru Jadi Korban Terbesar saat Selat Hormuz Ditutup

India bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik yang kian meluas antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Padahal Tak Ikut Perang di Iran, Tapi India Justru Jadi Korban Terbesar saat Selat Hormuz Ditutup
Tribun Timur
INDIA -- Dampak paling buruk dialami India saat selat Hormuz ditutup. 
Ringkasan Berita:
  • Penutupan Strait of Hormuz akibat konflik Iran berpotensi menghantam India, meski negara itu tidak terlibat langsung dalam perang. 
  • Dampak terbesar bukan hanya pada impor minyak, tetapi juga pasokan pupuk yang berujung pada kenaikan harga pangan. 
  • Jika harga makanan naik signifikan, jutaan warga India berisiko jatuh ke dalam kemiskinan dan memperparah krisis sosial.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- India bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik yang kian meluas antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel.

Jet tempurnya tidak menyerang Teheran, dan kapal perangnya tidak berada di garis depan.

Namun di antara negara-negara ekonomi besar dunia, justru India disebut sebagai pihak yang paling berisiko mengalami dampak besar jika Strait of Hormuz atau Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam waktu lama.

Selama ini, banyak yang mengira Amerika Serikat, China, atau negara-negara Teluk sebagai korban utama jika jalur vital tersebut terganggu. Namun anggapan itu dinilai keliru.

Baca juga: Geger! Iran Klaim Tembak Jet Siluman F-35, AS Masih Selidiki

Dampak paling serius justru diperkirakan akan menghantam India, bukan hanya dari sisi impor minyak, tetapi juga pada hal yang lebih mendasar: ketahanan pangan.

Ketergantungan Tinggi pada Jalur Vital Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling penting di dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan minyak global melewati kawasan ini. Bagi India, yang merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia, ketergantungan terhadap jalur ini sangat tinggi.

Sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentah India berasal dari impor. Meski telah melakukan diversifikasi sumber energi, hampir setengah dari impor tersebut, sekitar 2,5 juta barel per hari, masih melewati Selat Hormuz.

Pemerintah India memang menyatakan telah meningkatkan pasokan dari luar jalur tersebut serta memiliki cadangan strategis yang cukup untuk sekitar delapan minggu.

Namun langkah ini hanya menjadi solusi jangka pendek. Jika penutupan berlangsung lama, persoalan utama bukan lagi ketersediaan minyak, melainkan dampak berantai yang lebih luas.

Ancaman Nyata: Pupuk dan Produksi Pangan

Kerentanan terbesar India justru terletak pada rantai pasokan pupuk. Konflik di Asia Barat berpotensi langsung mengganggu pasokan bahan kimia penting untuk pertanian, yang menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.

India mengimpor lebih dari 9 juta ton urea setiap tahun, dengan sekitar setengahnya berasal dari Timur Tengah, khususnya Oman dan Arab Saudi. Untuk pupuk jenis DAP (diammonium phosphate), Arab Saudi menyumbang lebih dari 40 persen impor India.

Sementara untuk potash, India hampir sepenuhnya bergantung pada impor karena tidak memiliki cadangan dalam negeri yang memadai.

Masalah semakin kompleks karena produksi pupuk domestik juga bergantung pada gas alam.

Qatar sebagai pemasok utama LNG bagi India berperan penting dalam menjaga produksi urea tetap berjalan.

Jika pasokan energi terganggu akibat konflik di Selat Hormuz, produksi dalam negeri pun ikut terdampak.

Seorang sumber pemerintah bahkan mengakui bahwa jika konflik berkepanjangan, kondisi bisa menjadi “ketat”, sebuah istilah halus untuk menggambarkan potensi krisis besar di sektor pertanian.

Harga Pupuk Naik, Ancaman Kemiskinan Meningkat

Pasar global sudah mulai menunjukkan tanda-tanda bahaya. Harga urea yang sebelumnya di bawah 425 dolar AS per ton kini melonjak di atas 600 dolar.

Dalam kondisi pasokan terbatas, negara-negara kaya cenderung menimbun stok dengan harga tinggi, sementara negara berkembang seperti India harus bersaing dalam pasar yang semakin mahal.

Situasi semakin sulit karena China, yang sebelumnya menjadi alternatif pemasok, telah menghentikan ekspor pupuknya.

Dampaknya sangat nyata bagi masyarakat. Ketika harga pupuk naik, pemerintah dihadapkan pada dua pilihan sulit: menambah subsidi atau membebankan biaya ke petani.

Jika subsidi dibatasi, petani akan mengurangi penggunaan pupuk, yang berujung pada penurunan hasil panen.

Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, penurunan produksi pangan akan langsung memicu kenaikan harga makanan.

Dampaknya sangat besar, mengingat masyarakat miskin di India menghabiskan hingga 50–60 persen pendapatan mereka untuk membeli makanan.

Menurut studi Bank Pembangunan Asia, kenaikan harga pangan sebesar 10 persen saja dapat mendorong sekitar 30 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem.

Sementara itu, laporan ESCAP menyebut dampak serupa bisa menyeret hingga 64 juta orang ke jurang kemiskinan di Asia, dengan India sebagai negara yang paling terdampak.

Saat ini saja, India telah memiliki lebih dari 230 juta penduduk yang mengalami kekurangan gizi.

Lonjakan harga pangan berisiko memperburuk kondisi tersebut, bahkan mengancam stabilitas sosial.

Dampak Ekonomi Meluas

Kenaikan harga pangan juga akan memicu inflasi secara keseluruhan. Bank sentral India berpotensi menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya menekan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat terganggunya Selat Hormuz akan meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang.

Mulai dari pengiriman bahan pangan hingga barang elektronik, semuanya akan terdampak.

Setiap kenaikan 1 dolar harga minyak diperkirakan menambah beban impor India sekitar 2 miliar dolar per tahun. Jika harga mencapai 130 dolar per barel, pertumbuhan ekonomi India bisa melambat dari 7 persen menjadi sekitar 6 persen.

Upaya Pemerintah dan Tantangan Besar

Pemerintah India kini mulai mencari alternatif pasokan pupuk dari negara seperti Rusia, Belarus, dan Maroko.

Selain itu, pasokan gas untuk pabrik pupuk diprioritaskan, dan upaya diplomasi dilakukan untuk memastikan keamanan jalur pengiriman.

Namun langkah-langkah ini dinilai masih bersifat jangka pendek. Masalah utama tetap pada ketergantungan struktural India terhadap impor energi dan bahan baku pertanian.

Ancaman Nyata dari Konflik Jauh

Konflik Iran mungkin bisa berakhir dalam waktu dekat. Namun risiko yang terungkap dari situasi ini menunjukkan kerentanan besar dalam sistem ketahanan pangan India.

Jika harga pangan naik 10 persen, jutaan orang akan jatuh miskin. Jika naik 20 persen, yang sangat mungkin terjadi dalam konflik berkepanjangan, dampaknya bisa menjadi bencana kemanusiaan dan politik.

Inilah paradoks globalisasi: sebuah negara tidak perlu terlibat perang untuk menjadi korban terbesar.

Cukup dengan memiliki ketergantungan tinggi pada jalur pasokan yang berada di wilayah konflik.

Selat Hormuz kini menjadi alarm keras bagi India. Tantangannya bukan hanya menghadapi krisis saat ini, tetapi juga membangun sistem ketahanan pangan yang lebih kuat untuk masa depan.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved