Berita Internasional
Krisis Energi Global Makin Nyata, Sri Lanka Ubah Sistem Kerja Jadi 4 Hari Sepekan
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Arab Saudi, memicu kekhawatiran krisis energi global akibat terganggu pasokan minyak di Selat Hormuz
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/110722-unjuk-rasa-sri-lanka.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM — Ketidakstabilan yang meningkat di kawasan Timur Tengah,terutama di negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Iran, kembali memicu kekhawatiran akan krisis bahan bakar global.
Gangguan rantai pasok serta melonjaknya harga minyak mentah membuat negara-negara Asia yang bergantung pada impor seperti India dan Jepang mulai merasakan tekanan.
Kekhawatiran inflasi meningkat, anggaran makin ketat, dan isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan utama.
Baca juga: Wisata Hiu Paus Botubarani Jadi Lokasi Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447H di Gorontalo
Di tengah situasi tersebut, Sri Lanka mengambil langkah drastis dengan mengubah sistem kerja nasional demi menghemat bahan bakar.
Libur Tambahan di Hari Rabu
Dalam kebijakan yang terbilang radikal, pemerintah Sri Lanka resmi menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan untuk banyak institusi publik.
Mulai 18 Maret, hari Rabu ditetapkan sebagai hari libur tambahan setiap minggu.
Kebijakan ini bertujuan untuk menekan konsumsi bahan bakar, terutama dari aktivitas perjalanan harian masyarakat.
Langkah ini merupakan bagian dari respons darurat pemerintah untuk menghemat cadangan energi yang semakin menipis, di tengah ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak global.
Pemerintah Siaga Hadapi Krisis
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, menegaskan bahwa negaranya harus bersiap menghadapi situasi terburuk.
“Kita harus siap menghadapi yang terburuk, tetapi tetap berharap yang terbaik,” ujarnya dalam rapat darurat tingkat tinggi.
Kebijakan ini juga berlaku bagi sekolah dan universitas, sementara layanan penting seperti kesehatan, pelabuhan, dan layanan darurat tetap beroperasi normal.
Kenapa Rabu?
Pemerintah sengaja memilih hari Rabu agar tidak terjadi libur panjang berturut-turut yang dapat mengganggu pelayanan publik.
Selain itu, Sri Lanka juga menerapkan sistem “National Fuel Pass”, yang mewajibkan masyarakat mendaftar untuk mendapatkan akses bahan bakar secara terbatas.
Pemerintah juga mendorong penerapan kerja jarak jauh serta penggunaan energi yang lebih efisien di berbagai sektor.
Pejabat pemerintah, Prabath Chandrakeerthi, bahkan mengimbau sektor swasta untuk mengikuti langkah serupa dengan meliburkan karyawan setiap hari Rabu.
Belajar dari Krisis 2022
Sri Lanka berupaya menghindari terulangnya krisis ekonomi tahun 2022, yang menyebabkan antrean panjang BBM, pemadaman listrik, hingga gelombang protes besar.
Sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, gangguan di Selat Hormuz dapat memberikan dampak besar secara global.
Negara Asia Ikut Beradaptasi
Langkah Sri Lanka bukan satu-satunya. Sejumlah negara Asia juga mulai mengambil kebijakan unik untuk menghemat energi.
Thailand mendorong penggunaan pakaian ringan guna mengurangi penggunaan AC, sementara Myanmar menerapkan aturan berkendara ganjil-genap.
Bangladesh memberlakukan pemadaman listrik bergilir dan penyesuaian hari libur, sedangkan Filipina dan Vietnam mendorong kerja jarak jauh, penggunaan transportasi umum, serta pembatasan perjalanan.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa krisis energi global kini mulai memaksa banyak negara beradaptasi dengan cara-cara yang tidak biasa. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.