Viral Internasional
Ryan Routh Divonis Penjara Seumur Hidup Usai Gagal Bunuh Donald Trump di Klub Golf
Ryan Wesley Routh, pria yang sempat menggegerkan dunia melalui upayanya menghabisi nyawa Donald Trump di sebuah klub golf di Florida
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Ryan-Houth-dan-Donald-Trump.jpg)
Agen Secret Service yang sedang melakukan sterilisasi area melihat adanya laras logam yang menyembul dari pagar. Tanpa ragu, agen tersebut melepaskan tembakan ke arah semak-semak untuk menetralisir ancaman.
Meskipun Routh tidak sempat melepaskan satu pun tembakan dari senjatanya, posisinya dianggap sudah sangat mengancam nyawa Trump. Di lokasi persembunyiannya, FBI menemukan dua ransel, kamera GoPro, dan peralatan pengintaian lainnya.
Setelah tembakan dilepaskan petugas, Routh menjatuhkan senjatanya dan melompat ke dalam mobil SUV Nissan hitam.
Saksi mata berhasil mencatat plat nomor kendaraan tersebut, yang belakangan diketahui merupakan plat nomor curian dari mobil Ford tahun 2012.
Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, menjelaskan bahwa pengejaran berlangsung selama 45 menit. Petugas kepolisian dari berbagai divisi dikerahkan untuk menutup akses jalan guna menangkap pria bersenjata tersebut.
Routh akhirnya menyerah tanpa perlawanan berarti saat dikepung di Interstate 95. Penangkapan ini mengakhiri drama ancaman pembunuhan kedua yang dialami Trump dalam waktu singkat setelah insiden penembakan di Butler, Pennsylvania.
Latar Belakang dan Motivasi Pelaku
Ryan Routh bukanlah sosok yang asing dengan isu politik luar negeri. Pria berusia 59 tahun ini dikenal sebagai pendukung setia Ukraina dalam konfliknya melawan Rusia.
Bahkan, Routh diketahui pernah melakukan perjalanan langsung ke Ukraina dengan tujuan membantu upaya perang di sana. Namun, laporannya menunjukkan bahwa ia ditolak oleh angkatan bersenjata Ukraina karena dianggap tidak memenuhi syarat.
Meski gagal memberikan kontribusi nyata di medan perang, obsesinya terhadap politik terus berlanjut. Catatan menunjukkan bahwa Routh awalnya adalah pendukung Trump pada pemilu 2016 sebelum akhirnya berubah menjadi pembenci fanatik.
Perubahan sikap politiknya terlihat dari berbagai pernyataan dukungan dan kontribusi finansial yang ia berikan kepada politisi pesaing Trump di tahun-tahun berikutnya. Ia merasa Trump telah mengkhianati nilai-nilai yang ia yakini.
Dalam dokumen persidangan, terungkap bahwa perencanaan pembunuhan ini sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Routh melakukan riset mendalam mengenai jadwal dan kebiasaan bermain golf Donald Trump.
Tuduhan yang dijatuhkan kepadanya meliputi upaya pembunuhan kandidat presiden, penyerangan terhadap perwira federal, serta beberapa pelanggaran kepemilikan senjata api ilegal.
Persidangan Routh di Fort Pierce menjadi perhatian nasional karena mengungkap celah keamanan bagi kandidat presiden. Banyak pihak memuji kesigapan Secret Service dalam insiden kedua ini.
Keputusan Hakim Cannon untuk menjatuhkan vonis seumur hidup dianggap sebagai pesan kuat bagi siapa pun yang mencoba menggunakan kekerasan dalam proses politik.
Hakim menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik tidak boleh dibenarkan melalui jalur pembunuhan.