Berita Internasional
Siapa yang Telepon Trump hingga Amerika Tunda Serang ke Iran?
Rencana serangan militer terhadap Iran yang disebut-sebut sudah berada di ambang pelaksanaan mendadak batal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRESIDEN-AS-DONALD-TRUMP-MENELPON.jpg)
Ringkasan Berita:
- Rencana serangan militer terhadap Iran dilaporkan nyaris dilaksanakan sebelum sebuah panggilan telepon tingkat tinggi kepada Donald Trump mengubah keputusan di menit-menit terakhir.
- Tak lama setelah penundaan tersebut, Trump mengklaim menerima informasi bahwa Iran menghentikan eksekusi terhadap para pembangkang.
- Meski ketegangan militer mereda, situasi kemanusiaan di Iran masih memprihatinkan dengan ribuan korban jiwa akibat gelombang protes.
TRIBUNGORONTALO.COM, Internasional -- Rencana serangan militer terhadap Iran yang disebut-sebut sudah berada di ambang pelaksanaan mendadak batal.
Bukan karena perubahan strategi militer, melainkan karena sebuah panggilan telepon dari seorang pemimpin negara sekutu Amerika Serikat yang masuk ke Gedung Putih pada saat-saat terakhir.
Laporan The New York Times mengungkap bahwa telepon tersebut berisi permintaan agar Donald Trump menahan diri dan tidak segera melancarkan serangan ke Iran, dengan alasan perlunya waktu tambahan untuk menghadapi potensi dampak dan balasan yang lebih luas.
Permintaan itu datang ketika situasi di kawasan sudah sangat tegang.
Baca juga: Petuah Zidane untuk Pelatih Real Madrid: Para Pemain Harus Menyukai Anda
Pada saat yang sama, sejumlah kedutaan besar di Teheran dilaporkan dievakuasi dan wilayah udara mulai dibersihkan, langkah yang selama ini kerap menjadi pertanda awal operasi militer besar.
Banyak pihak meyakini serangan hanya tinggal menunggu perintah akhir. Namun, percakapan tingkat tinggi itu disebut mengubah arah keputusan.
Sumber resmi yang dikutip TribunGorontalo.com menyebutkan bahwa Trump akhirnya memilih menunda eskalasi, membuka ruang bagi perkembangan baru yang muncul tak lama setelahnya.
Klaim Mengejutkan Trump: Eksekusi di Iran Dihentikan
Beberapa jam setelah keputusan penundaan tersebut, Trump menyampaikan pernyataan mengejutkan kepada publik.
Ia mengklaim telah menerima informasi dari “sumber-sumber yang sangat penting dari pihak seberang” yang menyatakan bahwa pembunuhan terhadap pembangkang di Iran telah dihentikan.
“Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran telah berhenti, dan tidak ada rencana untuk eksekusi,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa tidak ada rencana pelaksanaan hukuman mati, seraya menyebut informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
Trump juga menegaskan akan sangat marah jika klaim itu terbukti tidak benar.
Gedung Putih kemudian memperkuat pernyataan tersebut dengan menyebut bahwa sekitar 800 eksekusi di Iran telah dihentikan, dan Trump terus memantau situasi secara langsung.
“Kami menyelamatkan banyak nyawa kemarin,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan NBC News.
Respons Iran dan Tekanan Diplomatik Kawasan
Tak lama setelah pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Fox News bahwa tidak ada rencana untuk menggantung para pengunjuk rasa.
Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal meredanya ancaman hukuman mati, meski belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran internasional.
Di sisi lain, tekanan diplomatik juga datang dari kawasan Timur Tengah. Delegasi dari Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir dilaporkan secara terpisah meminta pemerintahan Trump agar tidak menyerang Iran, mengingat risiko meluasnya konflik regional yang sulit dikendalikan.
Di Dalam Iran, Krisis Kemanusiaan Tetap Membara
Meski ketegangan militer mereda, situasi di dalam Iran justru semakin gelap. Pemerintah Iran dilaporkan memutus akses internet secara nasional, membatasi arus informasi dari dan ke luar negeri.
Dua pejabat Iran yang dikutip The New York Times menyebutkan bahwa sedikitnya 3.000 orang telah tewas sejak gelombang protes meluas ke berbagai wilayah.
Direktur Iran Human Rights, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyebut kekerasan yang terjadi sebagai kejahatan kemanusiaan terencana.
“Ada laporan mengerikan tentang pengunjuk rasa yang ditembak saat melarikan diri, penggunaan senjata kelas militer, hingga eksekusi di jalan terhadap pengunjuk rasa yang terluka. Semua ini menunjukkan upaya pembunuhan massal terhadap warga sipil,” ujarnya.
Ia mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak guna menghentikan kekerasan yang masih berlangsung.
Kasus Erfan Soltani Jadi Simbol Tekanan Global
Sorotan juga tertuju pada Erfan Soltani (26), seorang demonstran yang sebelumnya dilaporkan menghadapi ancaman hukuman mati.
Soltani disebut sebagai pengunjuk rasa pertama yang terancam dieksekusi sejak protes terbaru pecah.
Keluarganya sempat menyatakan bahwa Soltani bisa dieksekusi kapan saja.
Namun, media pemerintah Iran kini menyebut dakwaan terhadapnya adalah bersekongkol melawan keamanan internal negara dan propaganda terhadap rezim, dakwaan yang tidak otomatis berujung hukuman mati jika diputus pengadilan.
Selain Soltani, seorang pemilik toko yang juga sempat terancam eksekusi kini dilaporkan tidak lagi menghadapi hukuman mati.
(*)
| Mayoritas Senat Dukung Trump, Hasilnya Amerika Bisa Lanjutkan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Ledakan Guncang Ibukota Iran di Hari Kelima Perang dengan Amerika, Serangan Terjadi saat Fajar |
|
|---|
| Terungkap! CCTV Iran Diretas untuk Lacak Rute Harian Ali Khamenei Sebelum 30 Rudal Ditembakkan |
|
|---|
| Fantastis! Amerika Rugi Rp 12 Triliun Hanya dalam 24 Jam Serang Iran, Ini Rincian Biayanya |
|
|---|
| Serangan Udara Hantam Ibu Kota Iran, Amerika Serikat Disebut Turut Terlibat |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.