Berita Internasional
Trump Tuduh Xi Jinping Bersekongkol dengan Putin dan Kim Jong Un Lawan Amerika
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan tuduhan keras kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KOLASE-Parade-Militer-Raksasa-Tiongkok.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan tuduhan keras kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Ia menuduh Xi tengah “bersekongkol” dengan Rusia dan Korea Utara untuk melemahkan Amerika.
Ia pun mendesak Beijing agar mengakui peran Washington dalam membantu Tiongkok meraih kemerdekaan pada Perang Dunia II.
“Mohon sampaikan salam hangat saya kepada Vladimir Putin dan Kim Jong Un, saat kalian bersekongkol melawan Amerika Serikat,” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Rabu (3/9).
Cuitan itu ditulis hanya beberapa jam sebelum Xi berpidato dalam parade militer terbesar Tiongkok yang memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.
Parade megah di Lapangan Tiananmen itu dihadiri lebih dari 20 pemimpin asing, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Kehadiran mereka menegaskan semakin eratnya poros Beijing dengan mitra otoritarian di tengah meningkatnya ketegangan dengan Barat.
Dalam pidatonya, Xi menegaskan dunia kini dihadapkan pada pilihan antara “perdamaian atau perang” serta “dialog atau konfrontasi”.
Ia berjanji memperkuat angkatan bersenjata Tiongkok demi melindungi kedaulatan dan integritas wilayah nasional.
Pernyataan inilah yang secara luas dipandang sebagai sindiran terhadap isu Taiwan.
Parade tersebut menampilkan barisan pasukan dengan langkah tegap khas “goose-step”, skuadron jet tempur, hingga sistem rudal canggih yang melintas di lapangan.
Unjuk kekuatan itu tidak hanya menandai modernisasi militer Tiongkok, tetapi juga menegaskan ambisi Beijing memperluas pengaruhnya di Asia.
Delapan pemimpin Asia Tenggara turut hadir, sementara pemimpin Barat hampir tidak terlihat.
Kehadiran mendadak Kim Jong Un menjadi sorotan utama.
Partisipasinya menandakan menghangatnya hubungan Pyongyang-Beijing, bahkan ketika Korea Utara dilaporkan mengirim pasukan ke Rusia untuk membantu perang di Ukraina.