Minggu, 22 Maret 2026

Viral Gorontalo

Klarifikasi Manajemen Pani Gold Mine soal Video Viral Pesta di Desa Hulawa Gorontalo

Manajemen Pani Gold Mine (PGM) akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait beredarnya video viral yang memperlihatkan hiburan musik

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Klarifikasi Manajemen Pani Gold Mine soal Video Viral Pesta di Desa Hulawa Gorontalo
Istimewa
VIDEO VIRAL -- Tangkapan layar video viral. Manajemen Pani Gold Mine merilis klarifikasi soal video viral pesta di Desa Hulawa, Gorontalo Utara 
Ringkasan Berita:
  • Manajemen Pani Gold Mine (PGM) menegaskan kegiatan dalam video viral bukan pesta
  • PGM menegaskan komitmen membantu warga terdampak banjir di Desa Hulawa
  • Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Limonu Hippy dan Mikson Yapanto, menyesalkan kejadian tersebut karena dianggap mencerminkan minimnya empati sosial

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Manajemen Pani Gold Mine (PGM) akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait beredarnya video viral yang memperlihatkan hiburan musik dengan tarian tak pantas.

Pesta yang digelar di area tambang emas PGM, Desa Hulawa, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, itu menjadi sorotan di tengah musibah banjir yang melanda wilayah tersebut.

External Affairs Pani Gold Project, Kurniawan Siswoko, menegaskan bahwa kegiatan yang terekam dalam video tersebut bukanlah pesta sebagaimana yang berkembang di masyarakat.

“Acara itu bukan pesta sebagaimana yang dipahami publik,” ujar Kurniawan dalam video yang diterima TribunGorontalo.com, pada Jumat (2/1/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan acara internal perusahaan yang berisi doa bersama dan penggalangan donasi spontan untuk membantu warga terdampak banjir.

Acara itu juga dirangkaikan dengan malam final lomba menyanyi karyawan, yang sebelumnya telah melalui tahapan penyisihan beberapa minggu sebelumnya.

Menurutnya, lomba menyanyi tersebut menjadi wadah bagi karyawan untuk menyalurkan bakat seni sekaligus mempererat silaturahmi.

Namun, pihak perusahaan mengakui bahwa rangkaian acara tersebut tercoreng oleh penampilan yang tidak pantas.

“Acara itu tercederai oleh penampilan penyanyi yang seronok,” jelas Kurniawan.

Baca juga: Warga Dambalo Gorontalo Terkena Panah Wayer saat Berkendara di Malam Tahun Baru

Permintaan Maaf dan Evaluasi

Sehubungan dengan beredarnya video tersebut di ruang publik, manajemen PGM menyatakan telah melakukan evaluasi internal secara menyeluruh.

Perusahaan juga menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat Pohuwato, khususnya warga Bumi Panua.

“Manajemen Pani Gold Mine (PGM) telah melakukan evaluasi internal secara menyeluruh atas kejadian tersebut serta menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat Bumi Panua atas adanya penampilan yang tidak mencerminkan kepekaan, etika, dan nilai-nilai perusahaan,” tegasnya.

Kurniawan menambahkan, perilaku dalam video tersebut tidak sejalan dengan prinsip profesionalisme, empati sosial, serta tata perilaku perusahaan.

Sebagai tindak lanjut, manajemen menyatakan telah mengambil langkah sesuai ketentuan internal serta memperkuat disiplin dan kepedulian sosial di lingkungan perusahaan.

PGM juga menegaskan komitmen untuk tetap terlibat dalam proses pemulihan pascabanjir di Desa Hulawa dan wilayah terdampak lainnya.

Bantuan yang diberikan antara lain pembersihan rumah dan masjid, perbaikan akses jalan, perbaikan pipa PDAM, serta penyaluran makanan selama masa pemulihan.

“Kami menyampaikan empati yang mendalam kepada seluruh warga terdampak banjir, dan berharap proses pemulihan dapat berjalan dengan baik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal,” katanya.

Terkait sanksi terhadap karyawan yang terlibat, Kurniawan menyebutkan bahwa langkah disipliner akan diterapkan, meski detailnya belum disampaikan.

Baca juga: Breaking News: Kebakaran Rumah Warga Isimu Selatan Gorontalo, Polisi Ungkap Penyebab dan Kerugian

Sorotan DPRD Gorontalo

Klarifikasi PGM muncul setelah sorotan publik dan kritik dari sejumlah anggota DPRD Provinsi Gorontalo.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Limonu Hippy, menyampaikan penyesalan mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menilai kegiatan itu mencerminkan minimnya empati sosial di tengah situasi bencana.

“Tidak memiliki hati nurani dan rasa sepenanggungan,” tegasnya.

Menurut Limonu, fakta bahwa kegiatan tersebut berlangsung di Desa Hulawa yang tengah dilanda banjir, semakin melukai perasaan masyarakat Pohuwato. Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah sebelumnya telah mengeluarkan edaran agar seluruh pihak menahan diri dan tidak menggelar kegiatan seremonial.

Limonu menegaskan, edaran tersebut seharusnya menjadi acuan bersama dan wajib ditaati, termasuk oleh perusahaan yang beroperasi di wilayah terdampak bencana. Ia berharap pimpinan perusahaan memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terlibat.

“Mengetahui atau tidak kegiatan tersebut, permintaan maaf saja tidak cukup,” ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Gorontalo lainnya, Mikson Yapanto, juga menyesalkan kejadian tersebut. Ia menyebut pesta itu merupakan inisiatif oknum pegawai internal perusahaan.

Mikson mengungkapkan bahwa dirinya telah menghubungi direktur perusahaan saat kejadian berlangsung, dan pegawai yang terlibat telah diberhentikan. Ia menilai kegiatan tersebut sangat tidak pantas dilakukan di tengah kondisi masyarakat yang sedang tertimpa banjir.

Meski demikian, Mikson mengakui perusahaan telah menunjukkan kepedulian dengan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak, membersihkan saluran air, serta melakukan reboisasi di beberapa lereng sebagai upaya pencegahan banjir.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved