Pasar Senggol Gorontalo
Warga Gorontalo Padati Center Point, Pasar Senggol Jadi Magnet Belanja di Penghujung Ramadan
Aktivitas ekonomi kerakyatan di Kabupaten Bone Bolango kini mulai menunjukkan geliat yang sangat signifikan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-Pasar-Senggol-di-kawasan-Center-Point-Bone-Bolango.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pasar Senggol di kawasan Center Point, Kabupaten Bone Bolango, resmi beroperasi sejak Jumat (13/03/2026) dan direncanakan berlangsung hingga malam takbiran Idulfitri
- Suasana pasar mulai dipadati warga pada Sabtu malam, dengan komoditas utama berupa pakaian muslim seperti gamis, baju koko
- Salah satu pedagang, Fitra (31), menyatakan bahwa aktivitas jual beli biasanya meningkat setelah waktu berbuka puasa hingga tengah malam
(Penulis: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Kawasan Center Point, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, menjadi pusat keramaian warga.
Pasar Senggol yang berlokasi di ikon daerah tersebut secara resmi telah memulai operasionalnya sejak Jumat (13/3/2026).
Para pedagang lokal maupun pendatang mulai menempati lapak-lapak yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara.
Mulai hari pertama, suasana di sekitar Center Point Bone Bolango berubah menjadi pusat perbelanjaan malam. Deretan tenda dan lapak kayu kini berdiri tegak di sepanjang sisi jalan kawasan tersebut.
Para pedagang terpantau sudah mulai menata barang dagangan mereka sejak siang hari. Mereka mempersiapkan segala kebutuhan teknis agar proses jual beli dapat berjalan lancar saat malam hari tiba.
Kegiatan rutin tahunan ini rencananya akan berlangsung hingga malam takbiran menjelang Hari Raya Idulfitri. Durasi operasional yang cukup panjang ini memberikan kesempatan bagi warga untuk berbelanja secara bertahap.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Sabtu (14/3/2026) malam, kerumunan warga mulai memadati area pasar. Cahaya lampu yang terang benderang menerangi setiap sudut lapak pedagang yang berjejer rapi.
Berbagai jenis produk fashion muslim mendominasi pemandangan di setiap unit lapak. Gantungan baju yang penuh dengan gamis, baju koko, hingga setelan anak-anak menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Penataan pakaian yang rapi di setiap rak memudahkan pembeli untuk memilih model yang mereka sukai. Pedagang terlihat sangat cekatan dalam menawarkan produk unggulan mereka kepada setiap warga yang melintas.
Beberapa manekin yang mengenakan tren busana muslim terbaru sengaja dipajang di bagian depan. Keberadaan manekin ini berfungsi sebagai media promosi visual untuk menarik perhatian calon pembeli dari kejauhan.
Sejumlah pengunjung wanita tampak berhenti cukup lama di depan lapak untuk memeriksa kualitas kain. Mereka sangat teliti dalam memilih bahan gamis agar nyaman saat dikenakan pada hari lebaran nanti.
Interaksi antara pedagang dan pembeli menciptakan suasana pasar yang sangat dinamis. Proses tawar-menawar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi berbelanja di Pasar Senggol Center Point ini.
Meskipun aktivitas sudah cukup ramai, pemandangan berbeda terlihat di beberapa sudut lokasi. Masih terdapat beberapa unit lapak yang kondisinya tampak kosong dan belum berpenghuni.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, terdapat sekitar delapan lapak yang hingga saat ini masih belum terisi. Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri bagi pengunjung maupun pedagang lainnya yang sudah aktif.
Salah satu pedagang yang sudah mulai beroperasi sejak hari pertama adalah Fitra (31). Pria ini merupakan warga asli dari Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, yang rutin mengikuti kegiatan ini.
Fitra mengaku bahwa dirinya sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam mengelola lapak di Pasar Senggol. Pengalaman tersebut membuatnya tidak ragu untuk segera membuka usahanya sejak pembukaan resmi dimulai.
Baca juga: 7 Fakta Kecelakaan Maut Kakak Beradik PNS Gorontalo, Panggilan Terakhir Fanni Jadi Sorotan
"Pasar senggol ini mulai dibuka kemarin hari Jumat tanggal 13. Saya juga langsung mulai jualan dari hari pertama," ujar Fitra saat ditemui di Center Point Bone Bolango, Sabtu (15/3/2026) malam.
Tahun 2026 ini merupakan tahun kedua bagi Fitra menjalankan usahanya di lokasi yang sama. Konsistensi ini ia lakukan karena melihat potensi keuntungan yang cukup besar di kawasan strategis tersebut.
Sebagai seorang kepala keluarga yang memiliki dua anak laki-laki, Fitra sangat menggantungkan harapannya pada momentum lebaran ini. Ia berupaya maksimal agar stok dagangannya dapat memenuhi selera konsumen tahun ini.
Fitra juga menjelaskan mengenai pola kunjungan masyarakat yang datang ke Pasar Senggol Center Point. Menurutnya, keramaian pasar sangat dipengaruhi oleh waktu pelaksanaan ibadah di bulan Ramadan.
Ia menuturkan bahwa aktivitas jual beli biasanya baru mulai meningkat setelah warga selesai berbuka puasa. Kondisi ini membuat para pedagang harus bersiap siaga sejak menjelang waktu magrib.
Waktu operasional lapak milik Fitra sendiri mengikuti kebiasaan umum para pedagang di kawasan tersebut. Mereka biasanya baru menutup lapak ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam.
"Kalau jualan di sini biasanya dari habis buka puasa sampai jam 12 malam," jelas Fitra kepada awak media.
Mengenai fenomena lapak yang masih kosong, Fitra memberikan sedikit informasi yang ia dapatkan dari pihak pengelola. Ia menyebutkan bahwa sebenarnya sudah ada calon pedagang yang memesan tempat tersebut sebelumnya.
Namun, karena satu dan lain hal, para calon pedagang tersebut belum bisa menempati lapak hingga Sabtu malam. Fitra menduga ada kendala teknis atau pengiriman barang yang menghambat mereka.
Baca juga: Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut
"Sesuai informasi dari panitia sebenarnya ada yang mau masuk, tapi batal. Jadi masih ada beberapa lapak yang kosong," katanya.
Meski demikian, Fitra tetap menaruh rasa optimistis yang tinggi terhadap keberlangsungan pasar tahun ini. Ia yakin bahwa sisa lapak kosong tersebut tidak akan bertahan lama karena tingginya peminat.
Ia memprediksi bahwa dalam beberapa hari ke depan, seluruh area pasar akan terisi penuh oleh pedagang baru. Apalagi, arus pengunjung dipastikan akan meledak saat mendekati sepuluh hari terakhir Ramadan.
Fitra juga merasa sangat bersyukur karena tingkat kunjungan pembeli sudah mulai naik secara perlahan. Meskipun pasar baru beroperasi dua hari, ia sudah bisa merasakan dampak positif terhadap omzet penjualannya.
"Alhamdulillah tadi sudah mulai ramai pembelinya," tambahnya dengan raut wajah berseri-seri.
Kehadiran Pasar Senggol di Center Point Bone Bolango ini memang menjadi solusi bagi warga lokal. Masyarakat tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke pusat kota hanya untuk mencari pakaian lebaran.
Selain sektor fashion, keberadaan pasar ini juga memicu munculnya pedagang kuliner di area sekitar. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan bagi berbagai lapisan masyarakat di Suwawa dan sekitarnya. (*)
| Pasar Senggol Kota Gorontalo Dipadati Pengunjung, Pakaian Anak hingga Bahan Kue Jadi Buruan |
|
|---|
| Pedagang Gorden Perdana Buka Lapak di Pasar Senggol Kota Gorontalo |
|
|---|
| Jualan di Pasar Senggol Gorontalo Rugi? Rukia Laiya Justru Sewa Tiga Lapak, Ini Alasannya |
|
|---|
| Jelang Pasar Senggol Gorontalo, Tenda di Jalan Imam Bonjol dan Letjen Suprapto Mulai Berdiri |
|
|---|
| Pasar Senggol Gorontalo Mulai Ramai Pengunjung, Pedagang Bersyukur |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.