Jumat, 13 Maret 2026

Berita Kota Gorontalo

'Wajah Asli Kota Tua Gorontalo Bisa Hilang' Kepala Disparpora Khawatir Pembangunan Gedung Baru

Kota Gorontalo memiliki potensi besar dalam pariwisata perkotaan, terutama di kawasan Kota Tua. 

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto 'Wajah Asli Kota Tua Gorontalo Bisa Hilang' Kepala Disparpora Khawatir Pembangunan Gedung Baru
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
KOTA TUA -- Potret pembangunan di Kota Tua, Kota Gorontalo, Kepala Disparpora Kota Gorontalo khawatir pembangunan gedung baru bisa mengancam eksistensi Kota Tua. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu) 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kota Gorontalo memiliki potensi besar dalam pariwisata perkotaan, terutama di kawasan Kota Tua

Potensi ini bisa terancam dengan adanya pembangunan gedung-gedung baru yang menggantikan bangunan lama.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kota Gorontalo, Zamronie Agus, menegaskan pentingnya melestarikan bangunan cagar budaya (CB) dan objek yang diduga cagar budaya (ODCB) di kawasan tersebut.

“Ada enam bangunan cagar budaya, sementara objek yang diduga cagar budaya jumlahnya lebih dari seratus. Hampir semuanya berada di kawasan Kota Tua, baik di Kecamatan Hulonthalangi maupun Kota Selatan,” jelas Zamronie kepada TribunGorontalo.com, Senin (18/8/2025).

Menurut Zamronie, perlindungan dan pelestarian cagar budaya berada di bawah ranah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. 

Sementara itu, Disparpora berperan mengemas kawasan tersebut menjadi daya tarik wisata.

Ia menyoroti fenomena maraknya bangunan lama yang diganti dengan bangunan baru. Kondisi ini dinilai dapat mengurangi minat wisatawan.

“Semua bangunan yang ada di kawasan itu harus dipertahankan keasliannya. Jika direnovasi hingga dibongkar total dan mengubah wajah aslinya, tentu akan mengurangi daya tarik objek yang bisa kita tawarkan,” tegasnya.

Baca juga: Kena Semprot Bupati Thariq Modanggu Soal Sampah, Siapa Kadis DLH Gorontalo Utara?

Zamronie berharap ada kolaborasi lintas pihak untuk mengedukasi para pemilik bangunan agar tidak merusak wajah asli Kota Tua

Ia menekankan pentingnya kawasan ini, terutama karena Kota Gorontalo memiliki keterbatasan destinasi wisata alam.

“Panjang pantai kita hanya sekitar 10 kilometer, dari Tanjung Kramat hingga Leato Selatan. Dari total tersebut, sebagian besar sudah menjadi permukiman masyarakat, sementara akses jalan dan area parkir juga terbatas,” bebernya.

Kondisi inilah yang membuat nilai jual wisata pantai kurang maksimal. 

Dengan begitu, keberadaan Kota Tua menjadi andalan utama pariwisata di Kota Gorontalo.

Dari pantauan TribunGorontalo.com, sejumlah bangunan lama di kawasan Klenteng Tulus Harapan Kita, Jalan Sultan Hasanuddin, hingga Jalan S Parman, Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan, memang mulai berganti dengan bangunan baru.

Meskipun demikian, Zamronie menilai Kota Gorontalo sudah memiliki industri pariwisata yang cukup lengkap, mulai dari hotel, jasa travel, hingga restoran. 

Hal ini membuat wisatawan lebih memilih menginap di Kota Gorontalo, meskipun destinasi utamanya berada di luar kota.

“Biasanya wisatawan berwisata pagi dan pulang sore. Malamnya mereka punya waktu luang. Nah, jeda waktu inilah peluang kita untuk menawarkan wisata perkotaan, misalnya wisata Kota Tua di malam hari,” pungkasnya.

 


(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved