HUT RI di Gorontalo
Pria Berpenampilan Feminim saat Perayaan HUT RI di Gorontalo Akan Dibawa ke Barak Militer
Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengambil sikap tegas terhadap pria berperilaku selayaknya wanita (waria) dalam perayaan HUT ke-80
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/asatpolPP-Kabupaten-Gorontalo-Taufik-Margono-saat-diwawancarai-TribunGorontalocom-Selasa.jpg)
“Saya tidak melanggar HAM. Yang melanggar itu mereka, karena menggabungkan laki-laki dan perempuan. Itu yang melanggar fitrah,” tegasnya.
“Mereka itu sakit, kami akan bawa mereka ke Kompi untuk dibina. Kami juga sudah menyediakan RS Boliyohuto yang menangani sakit jiwa, termasuk camat yang akan kami bawa ke sana jika ada waria beraktivitas saat HUT RI,” tambahnya.
Pihak Pemkab juga menyatakan telah menyiapkan Rumah Sakit Boliyohuto sebagai tempat rehabilitasi bagi waria yang dianggap perlu pembinaan, termasuk mereka yang ditertibkan saat kegiatan HUT RI.
Baca juga: Profil Mutia Imran, Bintang Dangdut Muda Gorontalo Berjuang di DAcademy 7
Ultimatum Bupati Gorontalo
Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, menegaskan bahwa tidak akan ada penampilan waria dalam seluruh rangkaian kegiatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 di Kabupaten Gorontalo.
Ia bahkan memberikan ultimatum kepada camat yang membiarkan hal itu terjadi.
“Kalau ada di kecamatan, camatnya akan kena sanksi. Saya suruh camatnya pakai rok jika mereka (waria) tampil. Coba saja,” ujar Sofyan Puhi kepada TribunGorontalo.com, Jumat (1/8/2025).
Menurut Sofyan, pihaknya tidak melarang aktivitas para waria selama mereka menggunakan pakaian dan berperilaku sesuai jenis kelamin biologis.
“Kami tidak melarang mereka beraktivitas. Hanya kami sampaikan, kalau beraktivitas, pakailah pakaian sesuai jenis kelaminnya. Jika dia perempuan, pakai pakaian perempuan. Jika laki-laki, pakai pakaian laki-laki. Tapi kalau laki-laki memakai pakaian perempuan, kami tindak tegas,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa larangan ini juga mencakup gerakan atau gaya yang dianggap tidak sesuai dengan identitas kelamin.
“Gerakannya juga harus laki-laki, dong. Jangan memakai pakaian laki-laki tapi gerakannya perempuan. Itu berbahaya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sofyan menyatakan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan langkah-langkah khusus untuk menangani waria yang tetap nekat tampil feminin dalam kegiatan 17 Agustus.
“Tahap pertama kita imbau. Tahap kedua, Satpol PP akan bertindak. Tahap ketiga, kita paksa mereka untuk diobati karena mereka itu sakit. Kita ambil paksa untuk kita obati,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Kita sudah siapkan Rumah Sakit Boliyohuto, di sana itu rumah sakit narkoba dan jiwa. Kita obati di situ, termasuk camatnya juga kita obati.”
Sofyan juga menanggapi kritik bahwa kebijakannya dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM). Menurutnya, justru para waria yang melanggar.