Lipsus Desa Digital

Program Desa Digital Lamahu Gorontalo Mati Suri Diterpa Krisis Anggaran

Program canggih yang sempat bersinar terang di tahun 2017 itu, kini tak lagi berfungsi di tahun 2025.

|
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga
DESA DIGITAL -- Potret jalan di Desa Lamahu, Kabupaten Bone Bolango. Desa Lamahu pernah menjadi desa digital di Gorontalo sejak 2017. 

TRIBUNGORONTALO.COM, BONE BOLANGO – Mimpi Desa Lamahu menjadi desa digital nan modern kini pupus sudah. 

Program canggih yang sempat bersinar terang di tahun 2017 itu, kini tak lagi berfungsi di tahun 2025. 

Lantas, mengapa demikian bisa terjadi? Klise tapi menyakitkan, anggaran yang tak lagi mencukupi.

Warga Desa Lamahu di Kecamatan Bulango Selatan, Bone Bolango, Gorontalo, dulunya bisa menikmati fasilitas kekinian seperti CCTV, Wi-Fi gratis, dan lampu penerang jalan otomatis. Semua itu kini hanya jadi kepingan masa lalu.

Kepala Desa Lamahu, Hasan Hasiru, dengan berat hati membenarkan kabar duka ini saat ditemui TribunGorontalo.com pada Jumat (25/7/2025). 

"Program desa digital, hari ini sudah tidak jalan lagi," ungkapnya lirih.

Badai COVID-19 dan prioritas anggaran jadi biang keladi. Hasan menjelaskan, program ini mulai mandek sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada tahun 2020. 

"Setelah adanya corona itu kita sudah tidak jalan karena anggaran diarahkan untuk penanganan virus ini sehingga tidak mencukupi untuk biaya desa digitalisasi," bebernya.

Setelah pandemi mereda, Hasan sempat bertekad untuk menghidupkan kembali denyut digital di desanya. 

Namun, tembok besar bernama aturan baru anggaran dana desa kembali menghadang. 

Sejak sekitar tahun 2022, dana desa mulai dibagi ke berbagai program prioritas wajib dari pusat, seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang sudah berjalan sejak COVID-19, hingga program ketahanan pangan.

"Karena ini mengandalkan dana desa, jadi anggaran sudah di-plotting oleh kementerian harus jalankan program BLT yang sudah jalan dari COVID, kemudian juga ada ketahanan pangan dan lain-lain," paparnya. 

Baca juga: Jeritan Petani Gorontalo - Dihantam Kekeringan hingga Diteror Hama, Untung Hanya Seujung Kuku

Alhasil, program digitalisasi desa, yang sebenarnya menjadi prioritas desa sesuai aturan Kementerian Desa, terpaksa tersisihkan. 

"Desa memprioritaskan itu tapi dari sisi anggaran kita kalah," ucap Hasan pasrah.

Bayangkan biaya operasionalnya! Hasan menyebut, anggaran yang dibutuhkan untuk desa digitalisasi ini cukup besar, apalagi untuk perawatan 60 unit alat yang tersebar. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved