Sabtu, 14 Maret 2026

Konflik Thailand Vs Kamboja

12 OrangTewas Akibat Serangan Militer Kamboja, Otoritas Thailand Evakuasi 40 Ribu Warga sipil

Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah menyebabkan 12 orang tewas.

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto 12 OrangTewas Akibat Serangan Militer Kamboja, Otoritas Thailand Evakuasi 40 Ribu Warga sipil
Kolase Tribunnews.com/HO
KONFLIK PERBATASAN -- Kolase foto bentrokan di perbatasan Thailand-Kamboja dan proses evakuasi warga. Sebanyak 12 nyawa melayang akibat konflik ini. 

TRIBUNGORONTALO.COM, THAILAND – Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah menyebabkan 12 orang tewas.

Semua korban merupakan warga negara Thailand, termasuk warga sipil.

Menurut laporan Independent, Kamis (24/7/2025), menjadi bentrokan paling mematikan sejak tahun 2011.

Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, menuduh pasukan Kamboja sengaja menargetkan warga sipil. 

Kedua negara bertetangga ini saling tuding, masing-masing mengklaim pihak lain yang memulai tembakan di sepanjang perbatasan sengketa sepanjang 817 km.

Kementerian Kesehatan Thailand mengonfirmasi bahwa 11 warga sipil dan seorang tentara tewas dalam pertempuran yang melanda wilayah Surin, Ubon Ratchathani, dan Sisaket. Hingga kini, jumlah korban tewas dari Kamboja belum jelas.

Phumtham Wechayachai menegaskan komitmennya untuk membela kedaulatan Thailand. Ia menyatakan bahwa Kamboja melancarkan serangan tanpa provokasi di Ubon Ratchathani, Buriram, Sisaket, dan Surin. 

“Tanpa ada provokasi, mereka menembaki senjata berat tanpa pandang bulu ke wilayah Thailand, yang memaksa pasukan Thailand untuk merespons,” kata Phumtham setelah melakukan pertemuan dengan Dewan Keamanan Nasional Thailand dikutip dari Thai PBS.

Sebagai respons, otoritas Thailand telah mengevakuasi sekitar 40.000 warga sipil dari 86 desa di dekat perbatasan. Sementara itu, otoritas Kamboja belum merilis data evakuasi warga sipil mereka.

Militer Thailand juga mengumumkan telah mengerahkan jet tempur F-16 untuk membombardir target militer di Kamboja.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh pesawat Thailand menjatuhkan bom di dekat Kuil Preah Vihear, yang terletak di dekat perbatasan.

Militer Thailand lebih lanjut melaporkan bahwa tentara Kamboja telah menggunakan persenjataan berat, termasuk peluncur roket BM-21, dan menembaki area sipil di Distrik Kab Choeng. Akibat serangan ini, rumah, rumah sakit, dan pom bensin mengalami kerusakan.

Lantas, apa sebenarnya akar permasalahan Thailand-Kamboja?

Sengketa perbatasan yang membentang lebih dari 800 km ini telah menjadi pemicu ketegangan berkala antara kedua negara.

Klaim yang disengketakan sebagian besar berakar pada peta tahun 1907 yang dibuat oleh penguasa kolonial Prancis. Kamboja menggunakan peta tersebut sebagai referensi, sementara Thailand menganggapnya tidak akurat.

Ketegangan sempat mereda setelah Mahkamah Internasional pada tahun 1962 dan 2013 memberikan kedaulatan atas kuil Preah Vihear kepada Kamboja

Namun, insiden pada Februari 2025, ketika pasukan Kamboja memasuki kuil kuno Preah Vihear dan menyanyikan lagu kebangsaan mereka, memicu pertengkaran singkat dengan pasukan Thailand.

Puncaknya pada Mei 2025, konflik kembali meletus saat angkatan bersenjata kedua negara saling tembak di "wilayah tak bertuan" yang menyebabkan satu tentara Kamboja tewas. 

Meskipun ada kesepakatan untuk meredakan situasi, pejabat kedua negara terus saling ancam dengan berbagai tindakan, termasuk pembatasan perbatasan oleh Thailand dan boikot ekonomi oleh Kamboja.

Situasi memanas secara dramatis setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat pada akhir Mei 2025. 

Puncaknya, awal pekan ini, Thailand menuduh Kamboja memasang ranjau darat baru di wilayah sengketa, setelah dua tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat.

Sebagai respons, Bangkok menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan mengumumkan pengusiran utusan Kamboja pada Rabu malam. 

Pada Kamis pagi, konflik semakin tak terkendali ketika militer Thailand mengerahkan kekuatan udara. 

Salah satu dari enam jet tempur F-16 melancarkan serangan, menghancurkan target militer Kamboja, menurut Kolonel Richa Suksuwanon, wakil juru bicara tentara Thailand.

Baca juga: Baku Tembak hingga Saling Tuduh, Apa Penyebab Konflik Thailand dan Kamboja?

Pemerintah Kamboja mengecam keras "agresi militer yang sembrono dan brutal" oleh Thailand, menuduh pelanggaran kedaulatan dan perjanjian sebelumnya. 

Phnom Penh juga mengklaim jet tempur Thailand menjatuhkan dua bom di jalan di wilayah Kamboja

Pasca-bentrokan, Thailand memerintahkan penutupan semua perlintasan perbatasan dengan Kamboja karena kekhawatiran eskalasi militer yang lebih luas.

Kedua negara juga telah mengeluarkan pernyataan yang saling menuduh sebagai pemicu pertempuran. 

Militer Thailand menyatakan Kamboja mengerahkan pesawat tanpa awak pengintai dan pasukan bersenjata berat, termasuk artileri dan roket jarak jauh BM21, memaksa pasukan Thailand membalas. 

Mereka juga menuduh Kamboja menyerang wilayah sipil di Thailand, termasuk sebuah rumah sakit, yang menyebabkan kematian.

Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengutuk agresi militer yang brutal Thailand. Mereka menuduh serangan awal dan pelanggaran perjanjian, serta menyatakan pasukannya bertindak membela diri.

Meskipun ada kekhawatiran akan perang penuh, Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan perselisihan ini rumit dan harus ditangani hati-hati sesuai hukum internasional.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menegaskan keinginannya untuk menyelesaikan masalah secara damai, namun tidak punya pilihan selain menanggapi agresi bersenjata. (*)

 

Sebagaian artikel ini telah tayang di KompasTV dengan judul Konflik Thailand-Kamboja Tewaskan 12 Orang, Bangkok Tuduh Phnom Penh Sangaja Targetkan Warga Sipil

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved