Lipsus Harga Beras

Harga Bahan Pokok Melonjak, DPRD Kabupaten Gorontalo Sarankan Pemda Gelar Pasar Murah

Harga beras di Kabupaten Gorontalo yang kini tembus hingga Rp820 ribu per koli disoroti anggota DPRD Kabupaten Gorontalo.

|
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Arianto Panambang
BAHAN POKOK MAHAL - ‎Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo, Mohamad Rizal Badja saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Rabu (23/7/2925). Rizal meminta pemkab Gorontalo agar segera menggelar operasi pasar. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/ Arianto Panambang). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto – Harga beras di Kabupaten Gorontalo yang kini tembus hingga Rp820 ribu per koli disoroti anggota DPRD Kabupaten Gorontalo.

Mohamad Rizal Badja mendorong pemerintah daerah (pemda) segera menggelar pasar murah.

‎Rizal menilai kondisi harga beras yang tinggi saat ini sangat menyulitkan masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

‎Untuk itu, ia mendesak Pemkab dan Pemprov Gorontalo segera melakukan operasi pasar dengan melibatkan Bulog.

‎"Kami mendorong pada pemerintah Kabupaten Gorontalo dan juga pemerintah provinsi, di tengah polemik kenaikan harga beras ini, untuk segera melakukan operasi pasar. Artinya, melibatkan Bulog agar beban masyarakat bisa diringankan," ujar Rizal kepada TribunGorontalo.com, Rabu (23/7/2025).

‎Menurut Rizal, operasi pasar dapat menjadi langkah awal memecah kebuntuan di tengah krisis harga pangan.

‎Ia juga menilai program pasar murah yang sempat digelar oleh pemerintah provinsi sebelumnya cukup membantu.

‎"Pasar murah juga menjadi salah satu solusi. Sekarang ini, baru pemerintah provinsi yang punya program pasar murah. Kami harap Pemkab Gorontalo bisa ikut berperan agar masyarakat terbantu," katanya.

‎Terkait peran DPRD sendiri, Rizal mengaku pihaknya telah menampung berbagai keluhan dan aspirasi dari masyarakat.

‎Ia memastikan dalam waktu dekat Komisi II DPRD akan memanggil Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk membahas kemungkinan intervensi kebijakan terhadap harga beras.

‎"Kami akan undang instansi terkait dan membicarakan agar ada intervensi yang jelas dari pemda. DPRD akan mendorong itu agar kondisi beras mahal ini tidak berkepanjangan dan masyarakat tidak terus-menerus kesusahan," tegas Rizal.

‎Tak hanya mendorong langkah konkret dari pemerintah, Rizal juga menghimbau kepada masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.

‎"Kami berharap masyarakat bisa melakukan efisiensi dalam belanja. Belilah barang yang memang dibutuhkan, jangan sampai terjebak pada keinginan. Dan yang paling penting, jangan mudah tergoda pinjaman online. Itu hanya menambah beban di kemudian hari," imbaunya.

‎Rizal menekankan bahwa di tengah krisis seperti sekarang, peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok, terutama beras yang menjadi kebutuhan utama setiap rumah tangga. 

Baca juga: Jawaban Hamim Pou saat Ditanya Apakah Ingin Kembali ke Dunia Politik Pasca Putusan PN Gorontalo

Harga bahan pokok

Harga beras di Pasar Sentral Kota Gorontalo terus merangkak naik hingga menembus Rp800 ribu per koli atau karung.

Kenaikan harga yang signifikan ini mulai dirasakan para pedagang sejak beberapa bulan terakhir.

Non Abdullah, pedagang beras asal Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, mengaku harga beras yang ia ambil dari distributor awalnya hanya Rp600 ribu per koli.

Namun perlahan naik menjadi Rp650 ribu, lalu Rp660 ribu, hingga kini mencapai Rp780 ribu per koli.

“Sekarang harga pengambilan sudah Rp780 ribu, jadi kita jual Rp800 ribu,” kata Non kepada Tribun Gorontalo, Selasa (22/7/2025).

Untuk jenis beras tertentu, seperti Pandan Wangi, harganya kini tembus Rp16 ribu per kilogram atau Rp14 ribu per liter.

Sementara untuk beras Membramo, harganya Rp14 ribu per kilogram atau Rp12 ribu per liter.

“Kalau kualitasnya bagus, harganya juga naik,” tambahnya.

Kenaikan harga beras ini berdampak pada omzet para pedagang.

Non mengaku, biasanya pelanggan membeli beras satu koli penuh, tetapi sekarang hanya membeli sekitar 20 kilogram.

“Karena mahal, orang beli sedikit-sedikit saja. Pendapatan saya turun,” keluhnya.

Menurut Non, kenaikan harga beras diduga karena banyak petani gagal panen akibat serangan hama.

“Banyak padi diserang tikus dan ulat, jadi hasil panen rusak,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ramla Bakari, pedagang beras lainnya di Pasar Sentral.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved