Lipsus Chromebook
Chromebook Bantuan di SDN 50 Kota Gorontalo Masih Awet, tapi Siswa Kesulitan Mengoperasikan
Chromebook bantuan pemerintah pusat di SDN 50 Dumbo Raya, Kota Gorontalo, memang masih berfungsi baik meski sudah digunakan sejak tahun 2020.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BANTUAN-PEMERINTAH-Kondisi-laptop-chromebook-di-SDN-50-Dumbo-Raya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Chromebook bantuan pemerintah pusat di SDN 50 Dumbo Raya, Kota Gorontalo, memang masih berfungsi baik meski sudah digunakan sejak tahun 2020.
Namun, di balik kondisinya yang awet, para siswa, terutama di kelas rendah, ternyata kesulitan mengoperasikannya.
SDN 50 Dumbo Raya tercatat menerima 15 unit Chromebook pada 2020, sebagai bagian dari program bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.
Guru kelas IV SDN 50, Moh Hidayat Rauf, mengatakan semua unit masih terawat dengan baik.
“Alhamdulillah sampai sekarang kondisinya baik semua,” ujar Hidayat kepada Tribun Gorontalo, Kamis (17/7/2025).
Dalam praktiknya, laptop Chromebook ini digunakan siswa dan guru untuk mendukung proses belajar mengajar, misalnya untuk mencari materi melalui internet atau untuk pelaksanaan ujian berbasis digital.
Namun, Hidayat mengakui tidak semua siswa mudah menggunakan perangkat tersebut. Anak-anak di kelas rendah (kelas 1–4) justru kerap kesulitan.
“Anak-anak kelas rendah kita bimbing, tapi memang agak sulit. Kecuali anak-anak kelas 5–6, mereka sudah lumayan mahir,” ungkapnya.
Akibatnya, pemanfaatan Chromebook di luar jadwal ujian pun tidak maksimal.
Seringkali hanya beberapa unit saja yang benar-benar dipakai dalam kegiatan belajar di kelas.
Dari 15 unit yang ada, rata-rata hanya lima unit yang aktif digunakan sehari-hari, sementara sisanya disimpan di lemari sekolah.
Selain faktor kesulitan pengoperasian, jumlah Chromebook juga jauh dari cukup untuk menampung seluruh siswa di satu kelas.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni Ambon - Jayapura Juli 2025: Tiket KM Ciremai Rp 289.000
“Rata-rata siswa di setiap kelas itu 20 sampai 30 orang, jadi tidak cukup kalau mau dipakai barengan,” kata Hidayat.
Untuk mengatasi keterbatasan itu, para guru terpaksa meminta bantuan orang tua agar siswa membawa ponsel pintar dari rumah.
Selain itu, pembelajaran juga dibuat berkelompok agar penggunaan laptop bisa bergantian.