Minggu, 8 Maret 2026

Seputar Perang

Inggris Beli 12 Jet Tempur Nuklir F-35A, Pertama Sejak Perang Dingin Berakhir

Pemerintah Inggris mengumumkan pembelian 12 jet tempur F-35A buatan Lockheed Martin, yang mampu membawa senjata nuklir taktis.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Inggris Beli 12 Jet Tempur Nuklir F-35A, Pertama Sejak Perang Dingin Berakhir
kredit foto: UNIT JURU BICARA IDF
Sebuah pesawat F-35 berdiri di landasan pacu di Pangkalan Angkatan Udara Nevatim. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Pemerintah Inggris mengumumkan pembelian 12 jet tempur F-35A buatan Lockheed Martin, yang mampu membawa senjata nuklir taktis.

Langkah ini digambarkan sebagai ekspansi paling besar dari kekuatan nuklir Inggris dalam satu generasi terakhir.

Pembelian jet F-35A akan memungkinkan Angkatan Udara Inggris untuk kembali membawa senjata nuklir dari udara—untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dingin, menurut pernyataan resmi Downing Street, kantor Perdana Menteri.

“Di era ketidakpastian yang ekstrem ini, kita tidak bisa lagi menganggap perdamaian sebagai sesuatu yang pasti,” kata Perdana Menteri Keir Starmer.

Kekuatan Nuklir Inggris Tak Lagi Hanya dari Laut

Selama ini, penangkal nuklir Inggris sepenuhnya bergantung pada armada kapal selam bersenjata nuklir yang secara bergilir selalu berpatroli di laut.

Namun, pengadaan jet F-35A akan membuka jalur baru peluncuran nuklir dari udara, memperkuat fleksibilitas militer Inggris di tengah meningkatnya ketegangan global.

Langkah ini juga menjadi sinyal penting bahwa Inggris serius meningkatkan kesiapan militernya.

Pemerintahan Starmer tengah memperbesar anggaran pertahanan, termasuk peningkatan armada kapal selam.

Hal ini untuk menghadapi agresivitas Rusia dan ketidakpastian akibat Amerika Serikat yang kian menarik diri dari peran tradisionalnya sebagai pelindung utama Eropa.

NATO, Senjata Nuklir, dan Tanggung Jawab Baru Inggris

Pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan KTT NATO di Den Haag, Belanda, di mana para anggota Eropa sepakat untuk menargetkan belanja pertahanan dan keamanan hingga 5 persen dari pendapatan nasional.

Seorang pejabat Inggris mengatakan, Amerika Serikat akan menyediakan bom nuklir taktis B61 untuk digunakan pada jet-jet baru tersebut, sebagai bagian dari rencana untuk memberikan Inggris peran lebih besar dalam keamanan Eropa.

Dengan akuisisi F-35A, Inggris akan dapat menyediakan dual-capable aircraft (pesawat berkemampuan ganda) untuk NATO—yang bisa membawa senjata konvensional maupun nuklir—jika terjadi konflik besar.

“Ini adalah kontribusi besar lain dari Inggris untuk NATO,” ujar Sekjen NATO Mark Rutte.

Biaya Fantastis dan Komitmen Ekonomi

Setiap unit F-35A dihargai sekitar 80 juta pound sterling (sekitar Rp1,8 triliun).

Total biaya untuk 12 unit hampir mencapai 1 miliar pound sterling (sekitar Rp22 triliun).

Downing Street menyebutkan bahwa pembelian ini akan mendukung sekitar 20.000 lapangan pekerjaan di Inggris serta menegaskan komitmen kuat negara itu terhadap NATO.

Dari Trident ke F-35A: Diversifikasi Kekuatan Nuklir

Selama ini, sistem nuklir Inggris hanya bertumpu pada peluncuran melalui kapal selam Trident—yang sempat mengalami kegagalan dalam dua uji coba terakhir, termasuk satu pada 2023 yang tidak mencapai target.

Terakhir kali Inggris memiliki kemampuan nuklir berbasis udara adalah pada tahun 1998, saat bom gravitasi WE-177 resmi ditarik dari layanan.

Senjata nuklir taktis seperti B61 dirancang untuk digunakan di medan perang, berbeda dengan senjata nuklir strategis yang diluncurkan lintas benua.

F-35A akan memperluas opsi militer Inggris dan menyelaraskan kekuatan mereka dengan sekutu NATO seperti Prancis dan Amerika Serikat, yang memiliki sistem nuklir berbasis darat, laut, dan udara.

Sebagai catatan, AS menarik senjata nuklir terakhirnya dari wilayah Inggris pada 2008, mencerminkan keyakinan bahwa ancaman perang setelah Perang Dingin telah mereda. Kini, arah kebijakan tampak berbalik.

Pemerintah Inggris juga berkomitmen untuk menaikkan belanja pertahanan dan keamanan hingga 5?ri Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2035—sesuai target NATO—dan memperingatkan bahwa negara harus mulai “bersiap secara aktif untuk kemungkinan perang di dalam negeri” untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved