Selasa, 17 Maret 2026

Kulit Wajah Jokowi

Kulit Wajah Jokowi Berubah Munculkan Berbagai Spekulasi Penyakit, Ini Penjelasan Ajudan

Kulit wajah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menjadi sorotan publik lantaran menimbulkan perubahan visual pada wajahnya.

Tayang:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Kulit Wajah Jokowi Berubah Munculkan Berbagai Spekulasi Penyakit, Ini Penjelasan Ajudan
Tribunnews
KULIT WAJAH - Wajah Presiden ke-7 RI Jokowi ramai diperbincangkan publik karena terlihat berbeda dari biasanya. Terlihat adanya bercak atau flek hitam di area wajah dan leher. Selain itu, kondisi rambut dan bagian kepala Jokowi juga menjadi sorotan, terutama karena terlihat menipis di beberapa bagian. (Tribun) 

TRIBUNGORONTALO.COM - Kulit wajah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menjadi sorotan publik lantaran menimbulkan perubahan visual pada wajahnya.

Perubahan wajah Presiden Jokowi sempat menimbulkan berbagai spekulasi di media sosial.

Ada yang menduga Jokowi menderita penyakit autoimun hingga kabar tidak berdasar mengenai Steven Johnson Syndrome (SJS), penyakit langka yang menyerang kulit dan membran mukosa.

Terlihat adanya bercak atau flek hitam di area wajah dan leher. Selain itu, kondisi rambut dan bagian kepala Jokowi juga menjadi sorotan, terutama karena terlihat menipis di beberapa bagian.

Baca juga: Polemik Ijazah Belum Selesai, Kini Tahun KKN Jokowi Pun Ikut Disorot Karena Adanya Ketidaksesuaian

Ajudan Jokowi, Komisaris Polisi Syarif Muhammad Fitriansyah, memastikan bahwa kondisi fisik mantan Gubernur DKI Jakarta itu secara umum dalam keadaan baik.

Namun, ia mengakui adanya peradangan akibat alergi yang memengaruhi tampilan wajah Presiden.

“Sedang proses pemulihan. Secara visual kita bisa lihat Bapak memang agak berubah. Secara fisik oke, tidak ada masalah. Secara medis disampaikan alergi beliau menyebabkan peradangan. Tapi saat ini pemulihannya mulai membaik,” ujar Syarif saat ditemui di Solo, Minggu (22/6/2025).

Kompol Syarif menegaskan bahwa informasi Jokowi menderia Autoimun dan Steven Johnson Syndrome adalah hoaks.

“Wah, hoaks itu, enggak benar itu,” kata Syarif dalam pernyataannya pada Kamis (5/6/2024), membantah kabar yang menyebut Jokowi mengalami SJS.

Syarif juga memastikan bahwa Jokowi tidak merasakan gejala seperti panas atau gatal yang biasa menyertai kondisi serius tersebut.

“Beliau enggak ada ngerasain panas, enggak ada ngerasain gatal. Jadi, pure hanya alergi biasa. Autoimun juga, enggak,” tegasnya.

Baca juga: Roy Suryo Ancam Jalur Hukum Jika Jokowi Tak Ralat Soal Dosen Pembimbing Skripsi

Absen di Hari Lahir Pancasila karena Alergi Kulit

Kekhawatiran mengenai kesehatan Jokowi kian mencuat setelah ia tidak menghadiri upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2025).

Syarif menyebutkan bahwa ketidakhadiran Presiden saat itu disebabkan oleh efek alergi kulit yang masih dalam masa pemulihan.

“Bapak saat ini sedang pemulihan dari alergi kulit pasca pulang dari Vatikan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa gejala alergi tersebut diduga muncul sebagai respons tubuh terhadap perubahan cuaca yang terjadi selama kunjungan kenegaraan di Vatikan.

“Ya, mungkin cuaca ya, di Vatikan. Jadi, penyesuaian, lalu pulang ke Indonesia, beberapa hari setelah itu baru muncul alerginya,” ujar Syarif.

Saat ini, proses pemulihan kesehatan Jokowi ditangani oleh tim medis di kediaman pribadinya yang terletak di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.

Dengan penanganan intensif dan pengawasan dari tim dokter, kondisi Presiden disebutkan semakin membaik.

Perubahan pada wajah Jokowi yang sempat menarik perhatian masyarakat luas, menurut Syarif, hanyalah efek dari peradangan ringan akibat alergi kulit, bukan kondisi medis serius seperti yang ramai diberitakan.

Jokowi Tegaskan Hanya Alergi

Presiden Jokowi sendiri telah memberi penjelasan langsung mengenai kondisi kesehatannya. Ia menegaskan bahwa yang dialaminya bukanlah penyakit berat, melainkan alergi kulit biasa.

“Kondisi saya sudah disampaikan, alergi biasa. Waktu ke Vatikan kemarin juga hanya alergi biasa,” kata Jokowi pada Jumat (6/6/2025).

Ia menambahkan bahwa alergi tersebut tidak memengaruhi kondisi tubuhnya secara keseluruhan.

“Badan tidak ada masalah, alergi biasa saja,” tegasnya.

Aktivitas Presiden pun tetap berjalan seperti biasa. Salah satunya, ia mengikuti salat Idul Adha di Graha Saba Buana pada pagi hari di tanggal yang sama.

Jokowi bahkan terlihat berinteraksi langsung dengan masyarakat tanpa menunjukkan tanda-tanda

Mengenal Stevens Johnson Syndrome

Nama Stevens Johnson Syndrome (SJS) sempat dikaitkan dengan perubahan pada wajah Jokowi, meski tidak terbukti.

SJS merupakan penyakit langka dan serius yang menyerang kulit dan selaput lendir, seperti mata, mulut, hidung, hingga area genital.

Gejala awalnya menyerupai flu, termasuk demam, kelelahan, batuk, dan nyeri tenggorokan. Selanjutnya, muncul ruam merah yang menyakitkan, lepuh berisi cairan, hingga pengelupasan kulit.

SJS tergolong kondisi darurat medis dan umumnya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Pemulihan bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Ruam khas SJS biasanya bermula dari dada atas, wajah, dan ekstremitas, lalu menyebar. Bintik-bintik tersebut berbentuk seperti lesi "target"—berwarna merah atau ungu gelap di tengah dan terang di tepinya.

Seiring waktu, lepuhan bisa pecah, meninggalkan luka terbuka yang rentan terhadap infeksi.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti SJS belum sepenuhnya diketahui, tetapi umumnya dipicu oleh penggunaan obat-obatan atau infeksi. Beberapa obat yang dapat memicu SJS antara lain:

  • Allopurinol (untuk asam urat)
  • Obat antikonvulsan dan antipsikotik
  • Sulfonamida antibakteri
  • Nevirapine
  • Obat pereda nyeri seperti ibuprofen, naproxen sodium, dan acetaminophen
  • Infeksi seperti pneumonia, virus herpes, HIV, virus Epstein-Barr, dan influenza juga bisa memicu SJS.

Adapun faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami SJS mencakup:

  • Sistem imun yang lemah
  • Riwayat SJS sebelumnya
  • Riwayat keluarga
  • Faktor genetik tertentu

Gejala Stevens Johnson Syndrome?

Pada awal gejala Stevens Johnson Syndrome muncul bisa seperti flu biasa. Gejalanya meliputi:

  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Kelelahan
  • Badan sakit-sakit
  • Batuk

Karena gejalanya mirip dengan pilek atau flu biasa, gejala Stevens Johnson Syndrome pada tahap awal sering tidak disadari penderitanya.

Pada tahap lanjut, 90 persen penderitanya merasakan gejala Stevens Johnson Syndrome pada selaput lendir.

Gejala pada tahap ini meliputi:

  • Rasa terbakar atau perih di mata
  • Kotoran mata atau kerak
    Sensitivitas terhadap cahaya
  • Sakit saat buang air kecil
  • Sesak napas
  • Luka atau lepuh di dalam mulut
  • Kesulitan menelan
  • Mata adalah bagian mukosa yang paling sering terkena, daripada alat kelamin, saluran napas, dan tenggorokan.

Ruam Stevens Johnson Syndrome

Gejala khas pada Stevens Johnson Syndrome adalah ruam yang muncul 1-3 hari setelah gejala lainnya muncul.

Penampilan dan lokasi ruam ini bisa berubah dari hari ke hari.

Umumnya, ruam Stevens Johnson Syndrome berkembang seperti ini:

  • Biasanya, pertama kali muncul di dada bagian atas, wajah, serta tangan dan kaki;
    Saat pertama kali muncul, ruam tampak seperti bintik-bintik merah, ungu, atau coklat dengan berbagai ukuran;
  • Bintik-bintik tersebut kemudian menjadi lebih gelap di bagian tengah dan lebih terang di bagian tepinya. Ini terkadang disebut lesi "target" karena bentuknya seperti sasaran tembak;
  • Dalam hitungan jam hingga hari, penyakit ini mulai menyebar ke bagian tubuh lainnya. Paling sering menyebar ke perut, lengan, dan kaki;
  • Saat menyebar, bintik-bintik merah tersebut menyatu dan membentuk lepuh berisi cairan;
  • Lepuhan akhirnya pecah dan kulit mulai mengelupas. Hal ini mengekspos area kulit yang luas dan menimbulkan risiko infeksi.

Ruam ini bisa sangat menyakitkan, terutama saat kulit mulai melepuh.

Kondisi tersebut juga bisa menyebabkan dehidrasi dan infeksi kulit.

Apa penyebab Stevens Johnson Syndrome?

Penyebab pasti Stevens Johnson Syndrome sulit diidentifikasi. Namun, kelainan kulit langka ini biasanya terjadi karena dipicu oleh pengobatan, infeksi, atau keduanya.

Obat-obatan yang bisa menjadi penyebab Stevens Johnson Syndrome meliputi:

  • Obat anti asam urat, seperti allopurinol
  • Obat untuk mengobati kejang dan penyakit mental (antikonvulsan dan antipsikotik)
  • Sulfonamida antibakteri (termasuk sulfasalazine)
  • Nevirapine (Viramune, Viramune XR)
  • Obat pereda nyeri, seperti asetaminofen (Tylenol, lainnya), ibuprofen (Advil, Motrin IB, lainnya) dan naproxen sodium (Aleve)
    Sementara, penyebab Stevens Johnson Syndrome yang kurang umum adalah infeksi.

Adapun infeksi yang dapat menjadi pemicu Stevens Johnson Syndrome muncul meliputi:

  • Pneumonia
  • Cytomegalovirus
  • Human immunodeficiency virus (HIV)
  • Virus herpes simpleks (HSV)
  • Virus Epstein-Barr (EBV)
  • Virus influenza
  • Virus Coxsackie

Adapun faktor risiko yang menyebabkan Stevens Johnson Syndrome terjadi, seperti:

  • Sistem kekebalan tubuh yang melemah
  • Riwayat Stevens Johnson Syndrome
  • Keluarga memiliki riwayat Stevens Johnson Syndrome
  • Genetik, karena memiliki variasi genetik tertentu bisa membuat seseorang berisiko lebih tinggi terkena Stevens Johnson Syndrome.

Demikianlah fakta-fakta tentang Stevens Johnson Syndrome yang dituding menjadi penyebab Jokowi sakit kulit hingga hari ulang tahunnya ke-64 kemarin. (*/Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Jokowi Sakit Kulit Dituding Steven Johnson Syndrome, Ketahui Ini Faktanya 

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved