Berita Kota Gorontalo
Harga Tanah di Kota Gorontalo Tembus Rp1,6 Juta per Meter, Ini Zona Termurah dan Termahal
Berdasarkan data Zona Nilai Tanah (ZNT) tahun 2025, selisih harga antarwilayah bisa sangat mencolok.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PETA-KOTA-GORONTALO-Harga-tanah-di-Kota-Gorontalo-tahun-2025.jpg)
Dampak bagi Masyarakat
Kusno mengakui bahwa naiknya harga tanah memberikan dampak signifikan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kenaikan harga memicu mereka untuk bergeser ke pinggiran kota.
“Usaha menengah ke bawah itu sering ke pinggiran kota, karena di dalam satu wilayah itu ada namanya pengaruh perkembangan pembangunan,” ujarnya.
Bagi investor besar, fluktuasi harga mungkin bukan persoalan besar. Tapi bagi masyarakat umum, daya beli tanah semakin tergerus oleh lonjakan nilai jual.
Saat ditanya soal praktik mafia tanah, Kusno menyatakan bahwa sejauh pengamatannya, Kota Gorontalo masih tergolong aman.
Ia mengklasifikasikan mafia tanah sebagai praktik terstruktur yang melibatkan oknum di banyak instansi.
“Kalau di kota kita belum bisa kategori mafia tanah, kalau kita klasifikasikan mafia tanah di Kota Gorontalo belum nampak,” tegasnya.
Menurutnya, koordinasi antarlembaga dan stakeholder di Gorontalo terbilang kuat sehingga potensi penyimpangan bisa ditekan.
“Saya lihat di Gorontalo, koordinasi antara stakeholder sangat bagus. Kita bisa meminimalisir masalah tanah. Selama dua tahun saya di Gorontalo saya melihat belum ada yang mengarah ke sana,” tutur Kusno.
Namun ia juga mengingatkan, persoalan pertanahan kerap muncul setelah transaksi berlangsung, terutama ketika nilai tanah naik tajam pasca penjualan.
“Nanti setelah tanah naik baru biasanya muncul masalah, padahal tadinya tidak bermasalah tapi tiba-tiba bermasalah,” tandasnya.(*)