Jumat, 6 Maret 2026

Berita Kota Gorontalo

Harga Tanah di Kota Gorontalo Tembus Rp1,6 Juta per Meter, Ini Zona Termurah dan Termahal

Berdasarkan data Zona Nilai Tanah (ZNT) tahun 2025, selisih harga antarwilayah bisa sangat mencolok.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Harga Tanah di Kota Gorontalo Tembus Rp1,6 Juta per Meter, Ini Zona Termurah dan Termahal
TribunGorontalo.com
PETA KOTA GORONTALO -- Harga tanah di Kota Gorontalo tahun 2025 mengalami perubahan signifikan berdasarkan pembaruan Zona Nilai Tanah (ZNT) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Harga tanah di Kota Gorontalo terus mengalami perubahan.

Berdasarkan data Zona Nilai Tanah (ZNT) tahun 2025, selisih harga antarwilayah bisa sangat mencolok.

Harga dari yang termurah di kisaran Rp262 ribu, hingga yang termahal menyentuh Rp1,652 juta per meter persegi.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Gorontalo, Kusno Katili, saat ditemui TribunGorontalo.com di ruang kerjanya, Kamis (19/6/2025).

“Untuk tahun 2025 kita memiliki data yang diperbaharui dari tahun 2024, itu yang kita gunakan di tahun ini,” jelas Kusno sambil menunjuk peta zona nilai tanah yang terpajang di dinding kantornya.

Dari pembaruan tersebut, Kota Gorontalo terbagi ke dalam delapan zona nilai tanah. Kusno menyebutkan bahwa zona termahal berada di Kecamatan Kota Selatan, dengan harga tanah mulai dari Rp1.155.000 sampai Rp1.652.000 per meter persegi.

Sementara zona termurah berada di angka Rp262.000 hingga Rp374.000, tersebar di beberapa titik di Kota Tengah, Dungingi, dan Sipatana.

“Yang berwarna hijau ini sebagian ada di Kota Tengah dan ada juga di wilayah Dungingi dan Sipatana,” ujarnya, merujuk pada warna-warna di peta ZNT. Zona hijau mewakili wilayah dengan harga tanah terendah, sementara zona merah adalah area termahal.

Menurut Kusno, pembangunan masih menjadi faktor utama penyebab naiknya harga tanah.

“Biasanya di wilayah-wilayah pembangunan itu harga tanah cenderung meningkat,” jelasnya.

Namun ia juga menekankan bahwa kebutuhan menjadi faktor penting. Ketika tanah dibutuhkan oleh pengembang atau pemerintah, nilainya akan naik.

Sebaliknya, jika pemilik tanah yang ingin segera menjual, maka harga bisa saja turun.

“Kalau tanah ini butuh dijual maka biasanya nilainya akan turun,” bebernya.

Letak geografis dan aksesibilitas juga memengaruhi harga tanah. Dua lokasi di kecamatan yang sama bisa berbeda harga, tergantung seberapa dekat jaraknya dengan jalan utama atau pusat aktivitas kota.

“Akses ke lokasi itu mudah ini juga dapat mempengaruhi harga tanah,” imbuh Kusno.

Dampak bagi Masyarakat

Kusno mengakui bahwa naiknya harga tanah memberikan dampak signifikan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kenaikan harga memicu mereka untuk bergeser ke pinggiran kota.

“Usaha menengah ke bawah itu sering ke pinggiran kota, karena di dalam satu wilayah itu ada namanya pengaruh perkembangan pembangunan,” ujarnya.

Bagi investor besar, fluktuasi harga mungkin bukan persoalan besar. Tapi bagi masyarakat umum, daya beli tanah semakin tergerus oleh lonjakan nilai jual.

Saat ditanya soal praktik mafia tanah, Kusno menyatakan bahwa sejauh pengamatannya, Kota Gorontalo masih tergolong aman.

Ia mengklasifikasikan mafia tanah sebagai praktik terstruktur yang melibatkan oknum di banyak instansi.

“Kalau di kota kita belum bisa kategori mafia tanah, kalau kita klasifikasikan mafia tanah di Kota Gorontalo belum nampak,” tegasnya.

Menurutnya, koordinasi antarlembaga dan stakeholder di Gorontalo terbilang kuat sehingga potensi penyimpangan bisa ditekan.

“Saya lihat di Gorontalo, koordinasi antara stakeholder sangat bagus. Kita bisa meminimalisir masalah tanah. Selama dua tahun saya di Gorontalo saya melihat belum ada yang mengarah ke sana,” tutur Kusno.

Namun ia juga mengingatkan, persoalan pertanahan kerap muncul setelah transaksi berlangsung, terutama ketika nilai tanah naik tajam pasca penjualan.

“Nanti setelah tanah naik baru biasanya muncul masalah, padahal tadinya tidak bermasalah tapi tiba-tiba bermasalah,” tandasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved