Puting Beliung di Gorontalo

Belum Terima Bantuan, Warga Telaga Biru Gorontalo Korban Puting Beliung Tidur Beralas Terpal

Sudah sebulan berlalu sejak angin puting beliung memorak-porandakan Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, pada 5 Mei 2025.

|
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
Photo by Arianto Panambang, TribunGorontaloc.om.
BENCANA PUTING BELIUNG - Kondisi rumah warga di Pentadio Timur usai sebulan terdampak angin puting beliung, Senin (9/6/2025). Warga berharap bantuan yang sebelumnya dijanjikan pemerintah daerah. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sudah sebulan berlalu sejak angin puting beliung memorak-porandakan Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, pada 5 Mei 2025.

Namun, hingga kini, ratusan warga yang rumahnya rusak parah masih menunggu uluran tangan pemerintah.

Janji bantuan perbaikan rumah yang sempat diungkapkan, belum juga terwujud, meninggalkan warga dalam ketidakpastian dan kesulitan.

Menurut data Dinas Sosial, sebanyak 104 unit rumah warga mengalami kerusakan akibat puting beliung yang terjadi pukul 14.30 Wita itu.

Rinciannya, 48 rumah rusak berat, 23 rusak sedang, dan 33 rusak ringan. Selain itu, dua kios, satu warung makan, dan satu tempat ibadah juga terdampak.

 
Kondisi Miris Warga Terdampak: Tidur Beralas Terpal, Terlilit Utang

Warga terdampak mengaku belum menerima bantuan apa pun untuk memperbaiki rumah mereka.

Yanti Djafar, warga Desa Pentadio Timur yang rumahnya rusak berat, mengeluhkan janji yang tak kunjung ditepati.

“Belum ada perbaikan, belum ada uang. Pemerintah sudah datang data-data saja, katanya mau kasih bantu sedikit, tapi sampai sekarang belum ada,” kata Yanti kepada TribunGorontalo.com, Senin (9/6/2025) sore.

Yanti menambahkan, pemerintah sempat meminta warga membuat rekening untuk pencairan dana bantuan, namun uang yang dijanjikan tak kunjung datang.

"Suami saya sudah pinjam uang ke saudara untuk beli seng, karena kalau hujan pasti bocor. Saudara sekarang sudah tanya-tanya kapan utang dibayar,” keluhnya, menunjukkan beban utang yang harus ditanggung demi bertahan.

Kondisi serupa dialami Amelia Igirisa, yang dapurnya masih terbuka dan ruang tengah rumahnya hanya beralas terpal seadanya.

“Kalau hujan, peralatan basah semua. Kompor tidak bisa dipakai, jadi kami tidak makan. Terpal di atap itu ayah saya yang pasang,” ujarnya pilu.

Uni Abuba juga merasakan hal yang sama, dengan bagian dapur rumahnya rusak parah dan belum diperbaiki karena ketiadaan dana.

"Sampai sekarang belum diperbaiki juga karena belum ada uang. Pemerintah datang cuman data-data," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved