Jumat, 6 Maret 2026

Negara Paling Sejahtera

Indonesia Jadi Negara Paling Sejahtera di Dunia Kalahkan Amerika, Hasil Riset Kampus Terkenal

Hasil studi dari Harvard University, Indonesia ternyata menduduki peringkat teratas sebagai negara paling sejahtera.

Tayang:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Indonesia Jadi Negara Paling Sejahtera di Dunia Kalahkan Amerika, Hasil Riset Kampus Terkenal
Via Kompas.com
NEGARA PALING SEJAHTERA -Bank Dunia mencatat 60,3 persen penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Kendati begitu hasil hasil studi dari Harvard University menyebut Indonesia menduduki peringkat teratas sebagai negara paling sejahtera 

TRIBUNGORONTALO.COM - Indonesia ternyata menduduki peringkat teratas sebagai negara paling sejahtera di dunia.

Hal ini berdasarkan hasil studi dari Harvard University, Baylor University, dan lembaga survei Gallup.

Menurut laporan Global Flourishing Study (GFS) atau Studi Kemakmuran Global, Indonesia bahkan mampu mengalahkan Amerika Serikat (AS).

Sebagaimana diberitakan Harvard Edu (1/5/2025), riset ini menelusuri lebih dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya sekadar mengukur kepuasan mereka terhadap hidup mereka.

Peneliti Harvard mewawancarai lebih dari 200.000 responden di 22 negara yang tersebar di enam benua berpenghuni, mencakup sekitar 64 persen dari total populasi dunia.

Indonesia menduduki puncak daftar, diikuti oleh Israel, Filipina, Meksiko, dan Polandia, menurut temuan peneliti Harvard yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health.

Berikut rincian daftarnya:

  1. Indonesia
  2. Israel
  3. Filipina
  4. Meksiko
  5. Polandia
  6. Nigeria
  7. Mesir
  8. Kenya
  9. Tanzania
  10. Argentina

Meskipun termasuk salah satu negara terkaya dalam daftar, Amerika Serikat justru menempati peringkat cukup rendah, yaitu di posisi ke-12, tepat di bawah Hong Kong.

Sementara itu, Inggris berada lebih bawah lagi, yakni di urutan ke-20.

Apa parameter kebahagiaan menurut peneliti?

Dilansir dari Fortune (1/5/2025), para peneliti menggambarkan kesejahteraan sebagai aspek kehidupan seseorang berjalan dengan baik. Ini menunjukkan bahwa hidup yang baik tidak hanya soal sehat dan bahagia.

Untuk mengukur hal ini, mereka mempertimbangkan sejumlah faktor tambahan, seperti kebahagiaan dan kepuasan hidup, kondisi mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan nilai-nilai moral, hubungan sosial yang kuat, serta kestabilan finansial dan materi.

Meskipun Indonesia bukan negara kaya, negara ini meraih skor tinggi dalam hal hubungan sosial dan sifat-sifat pro-sosial yang mendukung kehidupan bermasyarakat dan kebersamaan.

Sebaliknya, Jepang justru menempati posisi terbawah sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan penduduk paling rendah. 

Padahal, sebagai negara maju dengan tingkat harapan hidup yang tinggi, warga Jepang dikenal hidup cukup sejahtera secara ekonomi. Namun, banyak di antara mereka yang tidak memiliki teman dekat.

Salah satu penulis studi, Brendan Case menegaskan, temuan ini bukan berarti kekayaan, umur panjang, demokrasi, pertumbuhan ekonomi, atau kesehatan masyarakat tidak penting. 

"Namun, menarik untuk dipikirkan bahwa Studi Kemakmuran Global menimbulkan beberapa pertanyaan penting tentang kemungkinan adanya hal-hal yang harus dikorbankan dalam proses tersebut," ujarnya.

3 temuan penting

Tim riset Harvard mengidentifikasi tiga temuan penting yang berkaitan dengan usia, kesehatan mental, dan hubungan sosial. Tiga faktor tersebut sangat memengaruhi peringkat Amerika Serikat dalam studi ini.

Salah satu temuan utama adalah kaitan antara usia dan kesejahteraan ternyata berbeda-beda di setiap negara.

Selama ini, banyak pihak yang percaya bahwa kepuasan hidup cenderung tinggi pada usia muda, menurun saat paruh baya, lalu kembali meningkat seiring bertambahnya usia.

Namun, hal tersebut tidak selalu berlaku jika dilihat dari sisi kemakmuran, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara berpendapatan tinggi lainnya. 

Di AS, tingkat kemakmuran justru cenderung meningkat secara konsisten seiring bertambahnya usia.

Selain itu, kesehatan mental juga menjadi faktor penting. Meski kondisi fisik relatif stabil seiring waktu, banyak anak muda khususnya di AS terhambat oleh masalah kesehatan mental yang buruk.

Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan rutin dalam kegiatan kelompok, terutama kegiatan keagamaan seperti menghadiri gereja setiap minggu, umumnya membantu seseorang untuk lebih berkembang dalam hidupnya.

Kekayaan bukan jaminan kebahagiaan

Ada dua negara berpendapatan tinggi yang berhasil masuk ke dalam 5 daftar teratas, yakni Israel dan Polandia. 

Sebagian besar penduduk di negara maju melaporkan bahwa hubungan sosial dan rasa komunitas mereka kurang bermakna, kurang memuaskan, serta jarang merasakan emosi positif dibandingkan dengan mereka yang tinggal di negara berkembang.

Sebaliknya, orang-orang di negara-negara berkembang mungkin tidak memiliki penghasilan tinggi, tapi mereka justru menikmati hubungan persahabatan, pernikahan yang kuat, dan keterlibatan aktif dalam masyarakat, terutama dalam komunitas keagamaan.

"Kita perlu mencari cara untuk mendorong pembangunan ekonomi tanpa mengorbankan makna, tujuan, dan hubungan," tulis peneliti tersebut, dikutip dari New York Times.

Mereka juga menyatakan, penelitian ini memberi kita kesempatan untuk merenungkan bagaimana banyak negara maju mungkin telah kehilangan arah, serta membuka peluang untuk mencari jalan yang bisa membawa kita kembali menuju kehidupan yang lebih bahagia.

5 Kota Paling Bahagia di Dunia Tahun 2025, Ada dari Asia Tenggara

Sementara itu, Institute for the Quality of Life baru saja merilis daftar kota paling bahagia di dunia tahun 2025.

Penilaian kota-kota tersebut didasarkan pada enam kategori utama, yakni warga, pemerintahan, lingkungan, ekonomi, kesehatan, dan mobilitas.

Hasilnya, terdapat 31 kota yang mendapat julukan sebagai “Kota Emas” karena menunjukkan skor yang tinggi dalam semua aspek penilaian.

Dikutip dari BBC, Kamis (15/5/2025), berikut ini adalah lima kota teratas dalam daftar kota paling bahagia di dunia.

1. Kopenhagen, Denmark

Ibu Kota Denmark ini berada di posisi puncak sebagai kota paling bahagia di dunia tahun 2025. 

Kota ini unggul dalam aspek lingkungan (ruang hijau, pengelolaan sampah, dan keberlanjutan) serta ekonomi (pendapatan rata-rata yang tinggi, inovasi, dan perusahaan global).

Sementara itu, menurut warganya, kota ini sangat hidup dan ramah. 

“Selalu ada acara gratis, mulai dari Copenhagen Light Festival hingga pesta jalanan Distortion,” ujar Mari Anne Daura, warga Kopenhagen.

“Kehidupan kota yang dinamis inilah yang membuat saya memilih tinggal di sini dibanding Stockholm,” imbuhnya.

Kopenhagen juga dikenal ramah sepeda dan punya sistem metro yang efisien. 

“Sekitar sepertiga warga menggunakan sepeda,” kata Aaron Wertheimer, warga lainnya. 

Ia merekomendasikan wisatawan untuk mencoba bersepeda melintasi Jembatan Hans Christian Andersen.

2. Zurich, Swiss

Zurich mendapat nilai tinggi dalam kategori Warga dan Pemerintahan, dengan sistem digital yang memudahkan partisipasi publik dan kehidupan sehari-hari yang nyaris bebas stres.

“Sebagai ibu dua anak, Zurich sangat ideal untuk membesarkan keluarga,” ujar Raquel Matos Gonçalves. 

“Anak-anak bisa berangkat sekolah sendiri sejak TK, transportasi selalu tepat waktu, dan kota sangat bersih,” tambahnya.

“Sistem hukumnya juga jelas. Jika tidak tertulis ‘boleh’, berarti ‘tidak boleh’,” kata warga lain, Amelie Guiot.

Zurich juga punya lebih dari 1.000 air mancur dengan air minum gratis dan lebih dari 50 museum.

3. Singapura

Singapura mendapat skor tinggi dalam kategori “Kesehatan,” terutama karena keselamatan publik, cakupan vaksinasi, dan perlindungan biaya kesehatan. 

Kebijakan pemerintah yang mendukung perumahan dan biaya hidup juga mendapat nilai baik.

“Housing Development Board (HDB) membantu warga punya rumah sekaligus aset keuangan,” kata Hwee-Boon Yar, warga setempat. 

Singapura juga dikenal bersih, aman, dan inklusif secara budaya. Samuel Huang, pengusaha lokal, menyebut Singapura memadukan efisiensi dan kenikmatan hidup. 

“Kamu bisa rapat dengan klien global di pagi hari, lalu makan sate di tepi laut malam harinya,” ujarnya. 

Ia menyarankan turis untuk menjelajah kawasan Tiong Bahru, yang kaya akan sejarah.

4. Aarhus, Denmark

Aarhus, kota terbesar kedua di Denmark, menggabungkan fasilitas kota besar dengan nuansa komunitas kecil. Kota ini unggul di kategori Warga, Lingkungan, dan Kesehatan.

“Bukan soal kemewahan, tapi soal kota yang benar-benar mendukung kesejahteraan warganya,” ujar Carla Nina Pornelos.

Aarhus juga terkenal dengan jalur sepeda, program energi ramah lingkungan, serta festival musim panas yang meriah. 

Mathias Steen, warga lokal, menyebut kota ini “hidup” saat orang-orang berkumpul di taman atau berenang di pelabuhan.

5. Antwerpen, Belgia

Antwerpen mengungguli Ibu Kota Belgia, Brussels, dalam daftar kota paling bahagia di dunia.

Kota ini mencetak skor tinggi di kategori Warga, Pemerintahan, dan Lingkungan.

“Saya datang ke sini karena arsitektur dan makanan, tapi tinggal karena kualitas hidup,” ujar Grace Carter. 

Ia menyebut Antwerpen sebagai kota yang “tenang tapi efisien” dan punya banyak ruang hijau serta museum yang menghidupkan budaya.

Antwerpen juga mendukung keluarga pekerja, menyediakan perumahan sosial, dan mendorong gaya hidup berkelanjutan. 

Carter menyarankan para wisatawan untuk mampir ke pasar Sabtu di Theaterplein.

“Minum kopi sambil mendengar obrolan warga lokal, rasakan sendiri aura santai dan percaya diri kota ini,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Riset Harvard Tempatkan Indonesia Jadi Negara Paling Sejahtera, Kalahkan AS

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved