Berita Gorontalo
Ombak Tinggi, Rezeki Tipis! Nelayan Gorontalo Merana karena BBM Jadi Barang Mewah
Nasib sejumlah nelayan di Leato Selatan, Kota Gorontalo, kini tengah diuji cuaca buruk.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-nelayan-di-Leato-Selatan-Kota-Gorontalo-Provinsi-Gorontalo-Sabtu-2452025.jpg)
"Kemarin lalu cukup sulit tapi sekarang sudah stabil, tapi kadang susah lagi," ujar Anis.
Ironisnya, jatah BBM yang seharusnya untuk nelayan seringkali dialihkan ke pengendara lain, membuat mereka gigit jari karena tak kebagian.
"Apalagi yang susahnya jatah kami dijual ke pengendara lain, jadi kami kadang tidak kebagian," keluhnya.
Di tengah kesulitan melaut, harga ikan di pasaran pun tak menentu.
Emi S Nani menambahkan, harga ikan bisa tiba-tiba naik atau turun.
Hanya harga ikan ekspor yang cenderung stabil.
"Harga ikan itu ada dua macam ada yang harga pelelangan dan harga ekspor kalau ekspor itu selalu tetap," tegasnya.
Saat ini, harga ikan halus di pasaran sekitar Rp20 ribu per kilogram, sedikit lebih baik dari harga sebelumnya yang sempat anjlok di kisaran Rp17-Rp18 ribu.
"Ini sudah bagus harga ikannya ketimbang harga-harga sebelumnya anjlok sekali," jelasnya.
Meskipun diterpa kesulitan, para nelayan tetap bersyukur karena masih menerima bantuan dari pemerintah.
Salah satu bantuan yang baru saja mereka terima adalah mesin tempel.
Sebanyak 15 mesin tempel telah dibagikan, dengan empat unit di antaranya merupakan hasil pengajuan proposal dari para nelayan ke dinas terkait.
Bantuan ini tentu menjadi angin segar di tengah badai kesulitan yang mereka hadapi.(*)