Berita Gorontalo
Ombak Tinggi, Rezeki Tipis! Nelayan Gorontalo Merana karena BBM Jadi Barang Mewah
Nasib sejumlah nelayan di Leato Selatan, Kota Gorontalo, kini tengah diuji cuaca buruk.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-nelayan-di-Leato-Selatan-Kota-Gorontalo-Provinsi-Gorontalo-Sabtu-2452025.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Leato -- Nasib sejumlah nelayan di Leato Selatan, Kota Gorontalo, kini tengah diuji cuaca buruk.
Angin kencang dan hujan yang tak menentu menjadi momok menakutkan, menghalangi mereka untuk menjaring rezeki dari laut.
Rikson B Asi, salah seorang nelayan, mengungkapkan betapa sulitnya kondisi saat ini.
"Biasanya cuaca, angin yang kencang membuat kami sulit mendapatkan ikan apalagi angin dari barat," keluhnya kepada Tribun Gorontalo, Sabtu (24/5/2025).
Akibatnya, hasil tangkapan merosot drastis.
Dalam sehari melaut, tak jarang mereka hanya membawa pulang satu kotak ikan, bahkan tak jarang hanya setengah kotak.
"Pendapatan ikan berkurang, kalau angin kencang itu kami tidak bisa bergerak," jelasnya dengan nada prihatin.
Kondisi ini tentu saja membuat para nelayan merugi.
Sekali melaut, mereka harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit, berkisar antara Rp1 hingga Rp2 juta untuk berbagai keperluan di laut.
"Jadi kalau pendapatan menurun tidak sebanding dengan pengeluaran, bisa-bisa kami minus," terang Rikson, yang telah 30 tahun menggantungkan hidupnya pada laut.
Jadwal melaut pun kini tak menentu, bisa berangkat pukul 13.00 WITA dan baru kembali setelah satu hingga tiga hari, tergantung jauhnya mereka mencari ikan.
Kesulitan tak hanya datang dari cuaca. Anis B Mootinelo, nelayan lainnya, mengungkapkan masalah krusial lain, yaitu ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Padahal, BBM adalah "nyawa" bagi perahu mereka untuk bisa melaut.
Proses mendapatkan BBM pun tak mudah. Nelayan harus mengurus surat rekomendasi.
Untuk tiga hari melaut, mereka membutuhkan sekitar 150 liter BBM jika menggunakan satu mesin, dan dua kali lipatnya jika menggunakan dua mesin.
"Kemarin lalu cukup sulit tapi sekarang sudah stabil, tapi kadang susah lagi," ujar Anis.
Ironisnya, jatah BBM yang seharusnya untuk nelayan seringkali dialihkan ke pengendara lain, membuat mereka gigit jari karena tak kebagian.
"Apalagi yang susahnya jatah kami dijual ke pengendara lain, jadi kami kadang tidak kebagian," keluhnya.
Di tengah kesulitan melaut, harga ikan di pasaran pun tak menentu.
Emi S Nani menambahkan, harga ikan bisa tiba-tiba naik atau turun.
Hanya harga ikan ekspor yang cenderung stabil.
"Harga ikan itu ada dua macam ada yang harga pelelangan dan harga ekspor kalau ekspor itu selalu tetap," tegasnya.
Saat ini, harga ikan halus di pasaran sekitar Rp20 ribu per kilogram, sedikit lebih baik dari harga sebelumnya yang sempat anjlok di kisaran Rp17-Rp18 ribu.
"Ini sudah bagus harga ikannya ketimbang harga-harga sebelumnya anjlok sekali," jelasnya.
Meskipun diterpa kesulitan, para nelayan tetap bersyukur karena masih menerima bantuan dari pemerintah.
Salah satu bantuan yang baru saja mereka terima adalah mesin tempel.
Sebanyak 15 mesin tempel telah dibagikan, dengan empat unit di antaranya merupakan hasil pengajuan proposal dari para nelayan ke dinas terkait.
Bantuan ini tentu menjadi angin segar di tengah badai kesulitan yang mereka hadapi.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.