Human Interest Story
Punya Ladang Tomat, Petani Gorontalo Ini Ngaku Pernah Cuan Rp 40 Juta per Panen
Seorang petani di Gorontalo mampu menghasilkan Rp 40 juta dari ladang tomat. Ia adalah Samim Biahimo, petani di Desa Permata, Kecamatan Tilongkabila
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Samim-Baiahimo-Petani-Tomat-Selasa-652025.jpg)
Ini membuat pendapatan bisa mengalir secara rutin selama musim berlangsung.
Namun, perjalanan Jasi sebagai petani tomat tidak selalu mulus.
Ia menghadapi ancaman serius dari penyakit layu fusarium yang kerap datang secara tiba-tiba.
"Kadang tanaman tiba-tiba layu, padahal sebelumnya segar. Kalau sudah begitu, susah untuk diselamatkan," ujarnya.
Selain itu, belalang tanah juga menjadi ancaman saat proses pindah tanam.
Hama ini menyerang pucuk tanaman tomat yang masih muda.
Untuk mengatasinya, Jasi harus melakukan penyulaman atau mengganti tanaman yang rusak agar pertumbuhan tetap optimal.
Meski tantangan datang silih berganti, Jasi tetap bersyukur.
Harga pupuk yang masih terjangkau dan ketersediaan air dari saluran irigasi membuatnya tetap bisa bertani meski di musim panas.
"Kalau air dari irigasi kurang, saya pakai mesin Alkon. Tapi sejauh ini masih cukup," katanya.
Yang justru lebih mengkhawatirkan baginya adalah musim hujan.
Kelembaban tanah yang tinggi bisa menjadi pemicu penyakit tanaman, termasuk layu fusarium yang kini menjadi momok para petani tomat.
Meski demikian, semangat Jasi tidak pernah padam.
Ia percaya bahwa selama ada kemauan dan usaha, bertani bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait terus memberikan dukungan, khususnya dalam hal penyuluhan pertanian, akses bibit unggul, serta penanggulangan hama dan penyakit.
"Bertani itu butuh sabar dan kerja keras, tapi hasilnya sangat memuaskan kalau kita tekun," tutup Jasi, sambil tersenyum penuh harapan. (*)