Human Interest Story
Punya Ladang Tomat, Petani Gorontalo Ini Ngaku Pernah Cuan Rp 40 Juta per Panen
Seorang petani di Gorontalo mampu menghasilkan Rp 40 juta dari ladang tomat. Ia adalah Samim Biahimo, petani di Desa Permata, Kecamatan Tilongkabila
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Samim-Baiahimo-Petani-Tomat-Selasa-652025.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Seorang petani di Gorontalo mampu menghasilkan Rp 40 juta dari ladang tomat.
Ia adalah Samim Biahimo, petani di Desa Permata, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango.
Jasi, begitulah ia disapa, membuktikan bahwa bertani tak melulu sengsara. Justru dari hasil pertaniannya, ia mengaku sejahtera.
Saat ini, Jasi tengah mengelola lahan tomat seluas satu pantango atau sekitar 2 ribu meter.
Lahan tersebut terletak di Kelurahan Dulomo, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo.
Hasil ladang inilah, ia menghidupi keluarga dan bahkan membangun impiannya.
Dengan pengelolaan yang baik, ia pernah meraup pendapatan hingga Rp40 juta dari satu kali masa panen.
"Saat itu harga tomat sedang bagus, satu kantong berisi 7 kilogram bisa laku mulai dari Rp60.000 hingga Rp100.000," ujarnya dengan semangat.
Harga tomat yang stabil di pasaran saat ini membuat Jasi tetap semangat mengembangkan usaha pertaniannya.
Ia menyebut bahwa satu kantong tomat isi 7 kg saat ini masih dihargai hingga Rp100.000, harga yang dinilainya masih cukup menggiurkan.
Yang menarik, Jasi tidak hanya mengandalkan satu lahan, ia menggarap dua lahan secara bergantian.
Setiap lahan ditanami tomat hingga lima kali berturut-turut, sebelum diganti dengan padi untuk menjaga kesuburan tanah.
"Kalau ditanami tomat terus-menerus, tanah jadi mudah kena penyakit. Jadi, setelah lima kali, saya tanam padi dulu untuk memulihkan kondisi tanah," jelasnya.
Tanaman tomat yang ia kelola membutuhkan waktu sekitar dua bulan lebih hingga masa panen.
Namun yang luar biasa, dalam satu musim tanam, Jasi bisa memanen hingga 15 kali, dengan interval panen setiap tiga hari.
Ini membuat pendapatan bisa mengalir secara rutin selama musim berlangsung.
Namun, perjalanan Jasi sebagai petani tomat tidak selalu mulus.
Ia menghadapi ancaman serius dari penyakit layu fusarium yang kerap datang secara tiba-tiba.
"Kadang tanaman tiba-tiba layu, padahal sebelumnya segar. Kalau sudah begitu, susah untuk diselamatkan," ujarnya.
Selain itu, belalang tanah juga menjadi ancaman saat proses pindah tanam.
Hama ini menyerang pucuk tanaman tomat yang masih muda.
Untuk mengatasinya, Jasi harus melakukan penyulaman atau mengganti tanaman yang rusak agar pertumbuhan tetap optimal.
Meski tantangan datang silih berganti, Jasi tetap bersyukur.
Harga pupuk yang masih terjangkau dan ketersediaan air dari saluran irigasi membuatnya tetap bisa bertani meski di musim panas.
"Kalau air dari irigasi kurang, saya pakai mesin Alkon. Tapi sejauh ini masih cukup," katanya.
Yang justru lebih mengkhawatirkan baginya adalah musim hujan.
Kelembaban tanah yang tinggi bisa menjadi pemicu penyakit tanaman, termasuk layu fusarium yang kini menjadi momok para petani tomat.
Meski demikian, semangat Jasi tidak pernah padam.
Ia percaya bahwa selama ada kemauan dan usaha, bertani bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait terus memberikan dukungan, khususnya dalam hal penyuluhan pertanian, akses bibit unggul, serta penanggulangan hama dan penyakit.
"Bertani itu butuh sabar dan kerja keras, tapi hasilnya sangat memuaskan kalau kita tekun," tutup Jasi, sambil tersenyum penuh harapan. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.