Human Interest Story
Mengadu Nasib dari Tibawa ke Kota Gorontalo, Begini Cerita Rahman Rintis Usaha Jahit Pakaian
Dari kampung ke kota, Rahman Abd Jalil Hamim (27) menempuh perjalanan panjang demi membangun usaha jahit pakaian yang ia impikan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rahman-Abd-Jalil-Hamim-27-merupakan-warga-berasal-dari-Desa-Ilomata-Kecamatan-Tibawa.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Dari kampung ke kota, Rahman Abd Jalil Hamim (27) menempuh perjalanan panjang demi membangun usaha jahit pakaian yang ia impikan.
Rahman berasal dari Desa Ilomata, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.
Sejak Oktober 2024, ia memberanikan diri membuka usaha jahit di pertigaan Jalan Kalimantan, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo. Nama usahanya: Aisa Taylor, diambil dari nama anak pertamanya.
“Saya bangun usaha ini karena memang dari dulu suka menjahit, dan yang pastinya demi kebutuhan anak dan istri di rumah,” ujar Rahman kepada Tribun Gorontalo, Selasa (6/5/2025).
Ia bercerita, sebelumnya bekerja di tempat orang lain. Berbekal pengalaman dan keinginan mandiri, ia mulai merintis sendiri, meskipun modal terbatas.
“Dulu saya masih kerja sama orang. Saat ada kelebihan sedikit, saya bangun sendiri,” katanya.
Jarak Tibawa–Kota Gorontalo tak menghalanginya. Rahman sering bolak-balik, bahkan kadang menginap di lapak jika pekerjaan sedang banyak.
Lapak Rahman berdiri sederhana di sisi jalan. Namun dari situlah ia menjemput harapan, satu per satu pelanggan datang.
Ia melayani jahitan pakaian pria dan wanita, busana anak-anak, seragam sekolah, hingga permak baju.
Untuk jahit seragam baru, Rahman mematok harga mulai Rp200 ribu tergantung tingkat kesulitan.
Jika pelanggan memesan dalam jumlah besar seperti satu lusin, harga bisa lebih murah.
Untuk jahit potong dikenakan tarif Rp10 ribu, dan permak Rp15 ribu per pcs.
Usahanya buka setiap hari, Senin hingga Minggu, mulai pukul 10.00 Wita hingga tengah malam.
Bahkan jika sedang banyak pesanan, ia bisa bekerja hingga pukul 03.00 dini hari.
“Pernah dalam sehari itu hanya dapat uang Rp50 ribu, bahkan kurang. Tapi tidak apa-apa, saya tetap bersyukur,” tutur Rahman, ayah dua anak ini.