Rabu, 4 Maret 2026

Puting Beliung di Gorontalo

Harapan Yanti Jafar yang Rumahnya di Pentadio Timur Gorontalo Tertimpa Kelapa Dampak Puting Beliung

Dampak angin puting beliung yang menerjang Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, masih menyisakan duka mendalam bagi warga.

Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Harapan Yanti Jafar yang Rumahnya di Pentadio Timur Gorontalo Tertimpa Kelapa Dampak Puting Beliung
FOTO: Arianto Panambang, TribunGorontalo.com
TERTIMPA POHON - Yanti Jafar (46) saat berada di belakang rumahnya yang tertimpa pohon kelapa, Senin (5/5/2025). Yanti saat ini membutuhkan bantuan untuk perbaikan kembali rumahnya yang rusak. FOTO: Arianto Panambang, TribunGorontalo.com 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Dampak angin puting beliung yang menerjang Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, masih menyisakan duka mendalam bagi warga.

‎Salah satu rumah yang terdampak parah adalah milik seorang penjual kantin, Yanti Jafar.

Wanita 46 tahun itu adalah warga Dusun 1. Yanti tampak sedih lantaran rumahnya rusak tertimpa pohon kelapa.

‎Dalam wawancara dengan TribunGorontalo.com Yanti mengaku jika saat kejadian mencekam itu, ia sedang jualan di kantin kampus  Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMG).

Saat itu kata dia, di rumah hanya ada ibunya yang sudah lanjut usia dan mengalami pikun.

Baca juga: Korupsi Rp 300 Triliun, Eks Dirjen Minerba Bambang Gatot Ariyono Hanya Divonis 4 Tahun Penjara

‎“Di rumah ada mama saya, neneknya anak-anak sudah tua dan pikun, dia tetap tiduran saat puting beliung lewat, tidak tahu apa-apa padahal kamar sudah rubuh dan atap seng terbang,” ujarnya Senin (5/5/2025) sore menjelang malam.

‎Bagian belakang rumah rusak parah, sementara atap ruang tengah ikut terangkat oleh kencangnya angin.

‎“Isi rumah semua basah, sampai kamar-kamar juga kena hujan,” tambahnya.

‎Sebelumnya, Yanti sempat berencana membeli pohon kelapa yang tumbang itu karena khawatir akan membahayakan.

‎Namun, rencana itu urung karena pemilik pohon tidak melepasnya.

‎“Memang saya mau beli pohon itu karena takut begini, tapi sama penjual tidak dikasih,” tuturnya lirih.

‎Saat ini, meski kondisi rumah rusak dan listrik padam karena khawatir terjadi konsleting, Yanti memilih tetap bertahan tinggal di rumah tersebut bersama ibunya dan dua anaknya.

‎“Saya tetap di sini, saya mau tinggal di mana lagi, ini rumah saya. Saya cuma menunggu bantuan saja sekarang,” jelasnya.

‎Total ada empat orang tinggal di rumah itu. Suaminya diketahui masih bekerja di tempat yang jauh sehingga belum bisa kembali membantu.

‎Sementara itu, pihak pemerintah desa telah mendata kerusakan dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menindaklanjuti bantuan bagi warga terdampak.

‎Sejak semalam, listrik di rumah Yanti tersebut masih belum dinyalakan karena kekhawatiran konslet dari instalasi yang terkena air hujan.

Baca juga: Curhat Pasutri di Gorontalo Kehilangan Segalanya Karena Puting Beliung, Rumah Roboh tak Tersisa

‎Yanti terpaksa menyalahkan lampu botol untuk penerangan dalam rumah. 

Data terbaru terungkap bahwa dampak angin puting beliung di Kabupaten Gorontalo rupanya menerjang tiga desa, pada Senin (5/5/2025) sore. 

Ketiga desa itu berada di Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.00 Wita ini mengakibatkan total 88 rumah rusak, termasuk kategori ringan dan berat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo, Udin M Pango, mengungkapkan bahwa tiga desa yang terdampak adalah Desa Ulapato A, Desa Pentadio Timur, dan Desa Timuato.

Secara detil ada 28 rumah terdampak di Desa Ulapato A, lalu 20 rumah di Desa Timuato, serta 40 rumah di Pentadio Timur. 

“Jumlah kerugian materil, kerusakan infrastruktur lain, serta apakah ada korban jiwa masih dalam proses pendataan oleh tim di lapangan,” jelas Udin.

Sementara itu Kepala Desa Pentadio Timur, Rahman Adam membenarkan 30 rumah di desanya terdampak angin puting beliung.

"Data sementara di desa kami ada 30 rumah terdampak," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com.

Seorang warga saat diwawancarai menceritakan dampak angin puting beliung itu. Ia masih mengingat jelas bagaimana dasyatnya angin tersebut. 

"Rumah ada yang roboh dan atap banyak yang copot," ungkap Zulkifli Podungge, warga Telaga Biru kepada TribunGorontalo.com, Senin (5/5/2025).

Bahkan satu unit mobil yang terparkir di Jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR) turut diamuk tornado.

"Ada juga mobil dihantam dengan angin, langsung roboh," terangnya.

Keterangan BMKG Gorontalo

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gorontalo menjelaskan perihal bencana alam yang terjadi sore tadi di Gorontalo, Senin (5/5/2025). 

Menurutnya, angin kencang yang merusak puluhan rumah di Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, merupakan fenomena puting beliung.

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Djalaluddin Gorontalo, Nike Noermasari Waluyo, puting beliung adalah fenomena alam.

Ini merupakan fenomena berupa angin kencang yang berputar menyerupai belalai, yang berasal dari awan Cumulonimbus (Cb). 

Kecepatan angin jenis ini dapat melampaui 50 kilometer per jam dan biasanya terjadi menjelang hujan lebat yang disertai kilat atau petir.

"Puting beliung sering kali muncul pada kondisi atmosfer yang sangat labil, di mana udara dalam keadaan sangat tidak stabil," ujar Nike kepada TribunGorontalo.com, Senin (5/5/2025).

Ia menambahkan, puting beliung sangat sulit diprediksi karena bersifat lokal dan erat kaitannya dengan fase pertumbuhan awan Cumulonimbus.

Dari hasil analisis citra radar cuaca, BMKG mendeteksi adanya sebaran awan konvektif signifikan yang bergerak dari arah barat.

Tepatnya awan itu bergerak dari wilayah Limboto menuju ke arah lokasi kejadian.

Aktivitas awan tersebut terpantau sebelum hujan lebat mengguyur wilayah Pentadio Timur antara pukul 13.38 hingga 14.08 Wita.

Berkaca pada kejadian ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya seperti hujan lebat, banjir, longsor, dan angin kencang, yang bisa terjadi kapan saja, khususnya di masa peralihan musim.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved