Human Interest Story
Nurhalizah Duslan Mahasiswi Gorontalo Cerita Pengalaman Kuliah Sambil Kerja, Penuh Tantangan
Nurhalizah Duslan (20),warga Paguyaman Pantai, Gorontalo, menceritakan pengalamannya bekerja sambil kuliah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nurhalizah-Duslan.jpg)
(Laporan: Mawar Hardiknas Tasya Datunsolang/Peserta Magang Universitas Negeri Gorontalo)
TRIBUNGORONTALO.COM – Nurhalizah Duslan (20), warga Paguyaman Pantai, Gorontalo, menceritakan pengalamannya bekerja sambil kuliah.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini merupakan mahasiswi semester keenam Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Ia tinggal bersama kakak kandungnya di Jalan Rusli Datau, Kelurahan Dulomo, Kecamatan Kota Utara, tepat di depan Waterboom Tiarak Park.
Kedua orang tua Nurhaliza telah meninggal dunia sejak ia masih duduk di bangku SMA.
Sehari-harinya, Nurhalizah kuliah dari pagi hingga sore, lalu menjual makanan pada malam hari di Lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo.
Nurhalizah menjual berbagai menu seperti lalapan, nasi goreng, geprek, gado-gado, soto ayam, jus, nutrisari, hingga roti bakar.
"Awalnya saya hanya ikut-ikut teman bekerja, terus saya mencoba sendiri. Ternyata bisa kuliah sambil kerja," ujar Nurhalizah saat ditemui pada Jumat (11/4/2025).
Ia kini bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga keperluan kampus.
"Saya kerja supaya tidak membebani kakak saya yang membiayai kuliah. Orang tua saya sudah tidak ada, jadi saya bantu untuk uang makan, uang bensin, kebutuhan harian," tuturnya.
Baca juga: Hati Andi Indalan Tergugah Lihat Anak Debt Collector Nginap di Polresta Gorontalo Kota: Kasihan!
Nurhalizah bekerja setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 02.00 Wita. Saat Ramadan, ia bekerja sejak pukul 16.30 hingga sahur.
Ia tidak pernah berhenti bekerja terkecuali sedang sakit atau ada jadwal perkuliahan di malam hari.
Setelah pukul 16.00 Wita, ia langsung menuju tempat kerja. Nurhaliza sudah memberi tahu pemilik usaha agar memaklumi jika datang terlambat karena masih harus menyelesaikan kuliah.
Gajinya dihitung harian, berkisar antara Rp 50.000 - Rp 100.000, tergantung penjualan.
"Tantangan terberat itu tugas, apalagi tugas kelompok. Kalau lagi ramai, saya tidak bisa pegang HP. Jadi saya biasa kirim materi tengah malam," tukasnya.