Human Interest Story

Junaidi Karim Pemuda Asal Wonosari, Penjual Bawang Merah, dengan Semangat Pantang Menyerah

Junaidi Karim (26) seorang pemuda berasal dari Desa Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, penjual bawang merah.

|
Penulis: Nawir Islim | Editor: Minarti Mansombo
zoom-inlihat foto Junaidi Karim Pemuda Asal Wonosari, Penjual Bawang Merah, dengan Semangat Pantang Menyerah
TribunGorontalo.com/Nawir Islim
HUMAN INTEREST STORY-Junaidi Karim Pemudah Wonosari, Penjual Bawang Merah, dengan Semangat Pantang Menyerah. Di tengah keramaian Pasar KTM Wonosari, di antara teriakan pedagang yang saling bersahutan dan langkah kaki pembeli yang lalu lalang, ada satu wajah muda yang nyaris tak pernah absen dari sudut pasar itu. Foto (TribunGorontalo.com/Nawir Islim) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo--Di tengah keramaian Pasar KTM Wonosari, di antara teriakan pedagang yang saling bersahutan dan langkah kaki pembeli yang lalu lalang, ada satu wajah muda yang nyaris tak pernah absen dari sudut pasar itu. 

Junaidi Karim (26) seorang pemuda berasal dari Desa Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, penjual bawang merah dengan semangat pantang menyerah.

Setiap pagi sebelum matahari sempurna naik, Junaidi sudah bersiap. Mengenakan kaos lusuh dan celana jeans yang warnanya mulai pudar, ia menata karung-karung bawang merah di lapaknya yang sederhana. 

Baca juga: Satpam Rumah Sakit di Bekasi jadi Korban Penganiayaan Keluarga Pasien, Korban Sampai Muntah Darah

Tak ada spanduk besar atau payung mewah. Hanya tumpukan umbi segar, timbangan digital, dan senyum ramah yang selalu ia sediakan untuk siapa saja yang mampir.

“Saya sudah jualan dari 2019. Dulu mulai dari nol, bener-bener nol. Pernah satu hari nggak laku sama sekali, tapi saya tetap di sini,” katanya.

Junaidi bukan hanya pedagang. Ia adalah suami, ayah, sekaligus tulang punggung keluarga. Istrinya, Yanti, yang kini lebih banyak mengurus rumah dan anak semata wayang mereka yang masih berusia 3 tahun, menjadi alasan terbesar Junaidi untuk terus bertahan, bahkan saat harga bawang anjlok atau dagangannya kehujanan dan rusak.

“Kalau ingat anak di rumah, saya nggak boleh ngeluh. Saya pikir, kalau bukan saya yang cari uang, siapa lagi?” ujarnya pelan.

Baca juga: Sosok Carlo Acutis, Remaja London yang Akan Menjadi Santo Milenial Pertama

Setiap minggu, Junaidi menyetir mobil pickup bekas miliknya ke Boliyohuto atau Limboto. Perjalanan bisa makan waktu berjam-jam, apalagi jika cuaca buruk. Tapi ia menikmati semua itu. 

Ia hafal betul tikungan-tikungan sempit di jalan poros, tahu kapan harus menginjak rem, dan kapan harus sabar jika terjebak macet di pasar tumpah.

“Bawang yang bagus itu harus segar. Makanya saya sendiri yang ambil. Nggak bisa asal-asalan. Pelanggan sudah percaya, jadi saya juga harus jaga kualitas,” katanya sambil membenarkan letak timbangan.

Nama Junaidi mulai dikenal. Pembeli dari Desa Mustika, Sukamaju, bahkan dari Paguyaman pun sering datang khusus mencari “bawang Junaidi” karena katanya lebih bersih, lebih awet, dan yang paling penting: harga bisa nego asal senyum dulu.

“Biar dagang, saya tetap manusia. Harus bisa ramah, jangan hanya mikirin untung. Kadang ada ibu-ibu yang uangnya kurang, saya ikhlaskan saja. Rezeki nggak lari ke mana,” ucapnya.

Dulu, Junaidi sempat ingin merantau. Tapi setelah menikah dan punya anak, ia memilih tinggal dan menghidupi kampung halaman. 

Kini, ia justru bermimpi membuka kios tetap, bukan hanya lapak dadakan. Ia juga ingin suatu saat nanti menyewa gudang kecil agar bisa jual bawang dalam jumlah besar, bukan eceran lagi.

“Kalau bisa besar, saya ingin kasih lapangan kerja juga. Siapa tahu ada anak muda Wonosari yang mau ikut belajar,” katanya, penuh harap.

Baca juga: Trump Beri TikTok Tambahan Waktu 75 Hari, Larangan Ditunda hingga 19 Juni

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved