Rusia Vs Ukraina

Ukraina Siap Gencatan Senjata untuk Infrastruktur Energi, Tapi Ancam Balasan Keras Jika Diserang

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengonfirmasi hal ini dalam pernyataan video pada Selasa malam (25/3/2025).

Editor: Wawan Akuba
Departemen Perta
Prajurit Ukraina mengoperasikan tank T-72 buatan Soviet di wilayah Sumy, dekat perbatasan dengan Rusia, pada 12 Agustus 2024, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Ukraina menyatakan kesiapannya untuk mematuhi gencatan senjata yang melarang serangan terhadap infrastruktur energi, sesuai dengan kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengonfirmasi hal ini dalam pernyataan video pada Selasa malam (25/3/2025).

Kesepakatan tersebut dicapai setelah tiga hari perundingan antara pejabat Ukraina dan Rusia di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

“Kami telah sepakat dengan negosiator AS bahwa gencatan senjata terhadap infrastruktur energi dapat dimulai hari ini,” ujar Zelenskyy.

Namun, ia menegaskan bahwa jika Rusia tetap melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Ukraina, maka akan ada “balasan keras” dari pihaknya.

Pernyataan Zelenskyy menyoroti betapa rapuhnya kesepakatan yang lahir dari perundingan terpisah antara AS-Ukraina dan AS-Rusia di Riyadh.

Washington mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan kedua pihak yang berperang untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi serta mengambil langkah-langkah guna memastikan keamanan navigasi kapal di Laut Hitam.

Perundingan ini merupakan bagian dari upaya lebih luas yang didorong oleh pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mencapai gencatan senjata terbatas selama 30 hari.

Pekan lalu, Moskow dan Kyiv secara prinsip telah menyetujui gencatan senjata tersebut, tetapi hingga kini belum terealisasi karena kedua belah pihak masih terus melancarkan serangan drone dan roket.

Meskipun Zelenskyy mengapresiasi upaya AS dalam mencapai kesepakatan ini, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait detail teknis perjanjian tersebut.

Selain itu, perdamaian menyeluruh untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga tahun masih tampak jauh dari kenyataan.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved