Human Interest Story
Iin Sutopo Penjual Lampu Botol di Kota Gorontalo Harap Tumbilotohe 2025 Digelar Secara Tradisional
Menjelang malam Tumbilotohe atau malam pasang lampu di Kota Gorontalo penjual lampu botol mulai bermunculan salah satunya Iin Sutopo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/sdagstrhyj.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Menjelang malam Tumbilotohe atau malam pasang lampu di Kota Gorontalo penjual lampu botol mulai bermunculan.
Seperti Iin Sutopo (40), penjual lampu botol di Jalan Samratulangi, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.
Iin merupakan warga asal Kelurahan Limba U1, mencari peruntungannya dengan menjual lampu botol dari pagi hingga larut malam.
Lapak usaha milik Iin ini buka sejak pukul 10.00 WITA hingga 23.00 WITA.
Baca juga: Pedagang Akui Penjualan Lampu Botol Tumbilotohe Ramadan 2025 Tak Seramai Tahun Lalu
Tak ada yang membantunya, ia kerap berjualan sendiri dari buka hingga tutup lapak lampu botolnya.
Namun tak jarang suaminya juga membantunya ketika sang suami selesai dengan pekerjaannya.
Usai menarik bentor, suaminya kadang menghampiri sang istri untuk membantunya berjualan.
"Saya buka dari pagi sampai tengah malam di sini menunggu pembeli," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (20/3/2025).
Kata Iin, pendapatannya sebagai penjual lampu botol dari tahun ke tahun mengatakan pendapatannya ditahun ini lebih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Iin menggeluti penjual lampu botol sudah sekira lima tahun setiap Ramadan.
Ia pun ditahun ini sering meraup cuan Rp70-100 ribu per harinya.
Baca juga: Dispar Gorontalo Pusatkan Festival Green Tumbilotohe 2025 di Siendeng, Gunakan Tohe Tutu
"Alhamdulillah sedikit meningkat untuk tahun ini," jelasnya.
Namun, meskipun dengan keuntungan yang didapatinya, Iin menuturkan pernah mendapatkan uang Rp10 ribu saja setelah seharian berjualan.
Sehingga, Iin tidak pernah berharap lebih dari usaha yang ia jalankan.
"Pendapatan ini tidak menentu pak, pernah saya seharian hanya mendapatkan uang Rp10 ribu," jelasnya.
Iin mengaku ia tetap bersemangat mencari tambahan rezeki meski tak ada pembeli sekalipun.
Apalagi salah satu penyemangatnya adalah ketiga anaknya.
Baca juga: Harga Minyak Tanah Jelang Tumbilotohe di Gorontalo Naik Signifikan
Sebagai seorang penjual, Iin berpendapat bahwa pendapatannya yang naik turun merupakan hal yang biasa.
"Tapi itu hal biasa, kalau dapat rezeki Alhamdulillah kalah belum dapat tidak apa-apa," kata dia.
Tantangan bagi Iin sebagai penjual lampu botol adalah ketika musim hujan tiba, ia harus segera mengatur barang jualannya agar tidak basah.
Iin hanya berjualan di lapak kecil terbuat dari bambu dengan ditutupi oleh terpal.
Sehingganya ketika hujan, dagangannya akan lebih cepat basah.
Baca juga: Cerita Rahma Napu Pedagang Lampu Botol Tumbilotohe di Kota Gorontalo, Ingin Jualan Laris Tahun Ini
"Kalau hujan saya harus cepat-cepat tutup lampu botol, kadang kalau hujannya deras harus dipindahkan di tempat aman, takut roboh lapak saya," paparnya.
Lampu botol milik Iin dipatok dengan harga Rp5 ribu untuk 4 botol.
Ia juga menjual sumbu yang diberi harga Rp10 ribu untuk satu gantung berisi 10 buah.
Iin berharap dirinya bisa meraup untung banyak agar baju lebaran milik anak-anaknya dapat dibeli.
Ia juga berharap kepada pemerintah untuk bisa menghidupkan kembali tradisi lampu botol dengan perayaan tradisional yang mulai menghilang.
"Semoga tradisi Tumbilotohe menggunakan lampu botol digelar kembali, agar dagangan kami juga laku," pungkasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.