Ojol Gorontalo
Driver Ojol Kuning dan Hijau di Gorontalo Meradang! tak Dapat THR hingga Diperlakukan Tak Manusiawi
Salah satu driver 'Biru', Topan Mursaha, mengatakan bahwa meski dirinya telah bekerja lebih dari satu tahun, ia tetap tidak mendapatkan THR.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Seorang-driver-ojek-online-atau-ojol-melaju-di-jalanan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Gorontalo mengaku kecewa dan marah setelah mengetahui bahwa mereka tidak akan mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR).
Padahal, THR sudah dijanjikan dalam Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan Nomor M/3/HK.04/III/2025.
Mereka menilai kebijakan yang diterapkan tidak adil dan tidak mencakup semua driver.
Salah satu driver 'Biru', Topan Mursaha, mengatakan bahwa meski dirinya telah bekerja lebih dari satu tahun, ia tetap tidak mendapatkan THR.
Baca juga: Kemendagri Dukung Usulan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail soal Perluasan Wilayah Kota Gorontalo
Alasannya karena ia dianggap tidak memenuhi kriteria tertentu yang ditetapkan oleh perusahaan aplikator.
"Mungkin ada pertimbangan dari perusahaan, seperti seberapa aktif saya dalam bekerja. Tapi saya sudah lebih dari setahun di aplikasi ini," ujar Topan kepada Tribun Gorontalo, Jumat (14/3/2025).
Menurut aturan dalam surat edaran, ojol dengan masa kerja 12 bulan atau lebih berhak menerima THR sebesar 20 persen dari rata-rata pendapatan bersih bulanan mereka.
Namun, banyak driver yang akhirnya tidak mendapatkan hak tersebut karena alasan tertentu yang tidak dijelaskan secara rinci oleh perusahaan.
Selain itu, seorang driver dari salah satu layanan ojol berwarna kuning mengungkapkan kekecewaannya atas kebijakan perusahaan.
Baca juga: Google Gemini Makin Canggih! Deep Research dan Gems Kini Gratis untuk Semua
Sebab, mereka yang sama sekali tidak memberikan THR. Menurutnya, alasan bahwa mereka hanya mitra kerja tidak masuk akal.
"Kami ini kerja lebih dari pegawai kantoran, tidak ada jam kerja tetap, harus selalu siaga. Tapi malah tidak dihargai sama sekali," ungkapnya dengan nada kesal.
Lebih jauh, ia juga mengeluhkan adanya potongan tidak jelas yang dikenakan pada setiap perjalanan yang mereka lakukan.
"Selalu ada potongan sekitar Rp500 per orderan, tapi kami tidak pernah tahu itu untuk apa," katanya.
Menurutnya, potongan itu memberatkan para driver, sebab di potong bahkan sebelum mereka menerima orderan.
Baca juga: Netflix Rilis Trailer Perdana Black Mirror Musim Ketujuh, Hadirkan Karakter Lama
Adapun potongan itu disebut sebagai komisi penumpang. Ia pun protes, lantaran komisi justru dipotong kepada pada driver.