Banjir di Gorontalo
Warga Kelurahan Tenda di Kota Gorontalo Dihantui Genangan Air dan Pasir dari Gunung
Curah hujan yang tinggi memberikan rasa was-was bagi warga di Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulothalangi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Minarti Mansombo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Genangan-Air-dan-Pasir-dari-Gunung-gdhfg.jpg)
Lanjut ia, tidak semua warga sering terdampak banjir, sebagian besar berada di sekitar jalur air hingga warga yang terdekat dengan muara.
Baca juga: Mulai Malam Ini Gebyar Qunut di Batudaa Gorontalo, Ada Lomba Lari Karung hingga Makan Kacang
"Hanya sebagian saja yang kena pak, tidak semua," jelasnya.
Ia menambahkan banjir yang terjadi juga dikarenakan adanya sampah yang dibuang sembarangan.
"Sebenarnya sampah yang dibuang di sungai itu berdampak banjir tapi rata-rata warga di sini tidak punya pilihan lain," tambahnya.
Oleh karena itu warga mengharapkan solusi dari pemerintah terkait permasalahan banjir di kelurahan tersebut.
Dari pantauan Tribun Gorontalo di lapangan sebuah lorong yang mengarah ke bukit itu sudah dipenuhi banjir.
Bahkan pasir yang tak terhitung jumlahnya berserakan hingga ke jalan utama warga.
Begitu juga dirasakan oleh masyarakat di Puncak Lotu, Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo.
Beberapa bagian bukit juga tampak gundul, memperlihatkan struktur tanah yang rentan terhadap longsor susulan.
Tritanti Maruf, salah satu warga terdampak, mengungkapkan kesedihannya setelah rumah yang baru saja direnovasi hancur akibat longsor.
Ia kehilangan hampir seluruh harta bendanya, termasuk peralatan rumah tangga dan barang dagangan yang menjadi sumber mata pencahariannya sudah sembilan bulan lamanya warga di Puncak Lotu, Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, hidup dalam ketidakpastian akibat longsor yang terus mengancam pemukiman mereka.
Kondisi ini semakin parah setelah longsor susulan yang terjadi pada Selasa, 4 Februari 2025, memperburuk dampak yang sebelumnya telah dirasakan sejak 7 Juni 2024.
Baca juga: Blak-blakan Pemda Gorontalo Utara soal PSU: Jujur, Pemerintah Daerah Memang Tidak Siap
Terlihat bahwa longsor tersebut berasal dari bukit curam di belakang rumah warga.
Erosi tanah yang terjadi menyebabkan material longsoran berupa pasir dan tanah menimbun permukiman, bahkan hingga mencapai atap rumah.
"Sebelumnya longsornya cuma sedikit, tehel rumah masih kelihatan, tapi longsor susulan ini sudah parah, pasir tanah sampai di atas atap," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com saat ditemui, Jumat (7/3/2025).