Minggu, 15 Maret 2026

Banjir Talumolo Gorontalo

20 Tahun Warga Talumolo Gorontalo Was-was Ketika Hujan Datang, Takut Banjir Menerjang

Selasa sore kemarin, hujan kembali jadi petaka untuk warga Talumolo, Kota Gorontalo. Banjir bandang menerjang permukiman. 

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 20 Tahun Warga Talumolo Gorontalo Was-was Ketika Hujan Datang, Takut Banjir Menerjang
FOTO: Arianto Panambang, TribunGorontalo.com
BANJIR TALUMOLO - Warga Talumolo, Kota Gorontalo, Yusuf bercerita sudah 20 tahun bersahabat dengan banjir sejak 2005. Foto (TribunGorontalo.com/Arianto Panambang). 

Yusuf berharap ada solusi nyata dari pemerintah agar Talumolo tak lagi menjadi langganan banjir."Kami ingin ada perhatian. Kalau terus begini, sampai kapan kami harus hidup dalam kekhawatiran setiap kali hujan turun?" tutup Yusuf. 

Sementara itu, Mei Tantu dan Wati Tantu hanya bisa pasrah. Banjir bandang yang menerjang Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, sore tadi, telah menghancurkan persiapan mereka untuk menjalani ibadah puasa.

Di antara banyak kerugian yang mereka alami, kehilangan stok beras menjadi hal paling berat.

Beras yang telah mereka siapkan khusus untuk bulan puasa kini rusak, bercampur lumpur, tak lagi bisa dikonsumsi.

"Pokoknya beras, gula, supermie, telur untuk puasa semua rusak," ujar Mei dengan nada sedih.

Banjir datang begitu cepat, membuat Mei dan warga lainnya tak punya waktu untuk menyelamatkan barang-barang mereka.

Saat air mulai naik sekitar pukul 15.00 Wita, Mei sedang memasak untuk persiapan berbuka puasa di dapurnya.

Tiba-tiba, air bah dari arah jembatan hanya beberapa meter dari rumahnya langsung menerjang permukiman warga.

"Air dari sebelum Magrib, tanggul roboh di sebelah," kata Mei sambil terus membersihkan lumpur yang menutupi lantai rumahnya.

Volume air yang besar membuat tanggul tak mampu menahan arus deras.

Air langsung meluap dan menggenangi puluhan rumah di Talumolo.

Hingga kini, Mei dan Wati masih berusaha keras membersihkan rumah mereka dari lumpur.

Bekas banjir terlihat jelas di dinding rumah, menandakan ketinggian air yang hampir mencapai satu meter.

Tak hanya dapur, material lumpur juga memenuhi teras dan ruang utama rumah mereka.

Barang-barang yang masih bisa diselamatkan, seperti pakaian dan beberapa perabotan, terpaksa disusun di atas kursi agar memudahkan proses pembersihan.

Namun, tak ada banyak tenaga bantuan. Hampir semua warga sibuk dengan rumah mereka masing-masing, berusaha menyelamatkan apa yang tersisa.(*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved