Selasa, 17 Maret 2026

Banjir Talumolo Gorontalo

20 Tahun Warga Talumolo Gorontalo Was-was Ketika Hujan Datang, Takut Banjir Menerjang

Selasa sore kemarin, hujan kembali jadi petaka untuk warga Talumolo, Kota Gorontalo. Banjir bandang menerjang permukiman. 

Tayang:
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 20 Tahun Warga Talumolo Gorontalo Was-was Ketika Hujan Datang, Takut Banjir Menerjang
FOTO: Arianto Panambang, TribunGorontalo.com
BANJIR TALUMOLO - Warga Talumolo, Kota Gorontalo, Yusuf bercerita sudah 20 tahun bersahabat dengan banjir sejak 2005. Foto (TribunGorontalo.com/Arianto Panambang). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Kota Gorontalo – Rupanya bukan kali ini, Selasa sore (4/3/20254), saja warga Kelurahan Talumolo, Kota Gorontalo, harus berurusan dengan banjir.

Selasa sore kemarin, hujan kembali jadi petaka untuk warga Talumolo, Kota Gorontalo. Banjir bandang menerjang permukiman. 

Pantauan sejak sore kemarin, puluhan rumah terendam banjir, memaksa warga untuk berjibaku dengan genangan air.

Malam setelah hujan mereda, warga langsung bergerak membersihkan rumah masing-masing.

Baca juga: Rumah Penuh Lumpur, 9 Warga Talumolo Gorontalo Nginap Sementara di Masjid

Genangan air yang masuk ke dalam rumah menyisakan lumpur tebal dan sampah yang terbawa arus.

Bau khas banjir menyelimuti gang-gang sempit di Talumolo. Tampak beberapa rumah kosong ditinggalkan oleh penghuninya.

Salah seorang warga, Yusuf yang sudah tinggal di Talumolo selama lebih dari dua dekade, banjir bukanlah hal baru.

Ia mengaku sudah 20 tahun hidup berdampingan dengan bencana musiman ini.

Rasa khawatir selalu menghantui setiap kali hujan deras mengguyur Kota Gorontalo sejak 2005.

Baca juga: Alfamart Berbagi Berkah Saat Ramadan 2025, Sebar 54.000 Paket Berbuka

"Kami ini sudah 20 tahun bersahabat dengan banjir. Kalau hujan deras turun, kami pasti was-was. Takut air naik lagi seperti ini," ujar Yusuf saat diwawancarai TribunGorontalo.com.

Menurutnya, air yang berasal dari gunung seolah terjebak di permukiman mereka, tidak mengalir dengan lancar ke Sungai Bone. Hal ini diduga menjadi salah satu penyebab utama banjir yang terus berulang.

"Mungkin karena saluran air yang tersumbat atau ada perubahan di aliran sungai, jadi airnya tidak tembus ke sungai bone," tambahnya.

Kata Yusuf warga harus mengalami kerugian materi, dari perabotan rumah tangga yang rusak hingga barang-barang berharga yang tak sempat diselamatkan seperti beras untuk sahur yang terendam banjir.

"Warga lain sudah mengungsi ke rumah keluarga mereka, kalau yang lain tetap bertahan dan membersihkan rumahnya, tapi tetap was-was dengan hujan susulan," tuturnya.

Baca juga: Meski Banjir Sebetis Orang Dewasa, Warga Kota Gorontalo Tetap Antusias Berburu Takjil Ramadan 2025

Meski berkali-kali mengalami hal serupa, Yusuf dan warga lainnya tetap bertahan.

Yusuf berharap ada solusi nyata dari pemerintah agar Talumolo tak lagi menjadi langganan banjir."Kami ingin ada perhatian. Kalau terus begini, sampai kapan kami harus hidup dalam kekhawatiran setiap kali hujan turun?" tutup Yusuf. 

Sementara itu, Mei Tantu dan Wati Tantu hanya bisa pasrah. Banjir bandang yang menerjang Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, sore tadi, telah menghancurkan persiapan mereka untuk menjalani ibadah puasa.

Di antara banyak kerugian yang mereka alami, kehilangan stok beras menjadi hal paling berat.

Beras yang telah mereka siapkan khusus untuk bulan puasa kini rusak, bercampur lumpur, tak lagi bisa dikonsumsi.

"Pokoknya beras, gula, supermie, telur untuk puasa semua rusak," ujar Mei dengan nada sedih.

Banjir datang begitu cepat, membuat Mei dan warga lainnya tak punya waktu untuk menyelamatkan barang-barang mereka.

Saat air mulai naik sekitar pukul 15.00 Wita, Mei sedang memasak untuk persiapan berbuka puasa di dapurnya.

Tiba-tiba, air bah dari arah jembatan hanya beberapa meter dari rumahnya langsung menerjang permukiman warga.

"Air dari sebelum Magrib, tanggul roboh di sebelah," kata Mei sambil terus membersihkan lumpur yang menutupi lantai rumahnya.

Volume air yang besar membuat tanggul tak mampu menahan arus deras.

Air langsung meluap dan menggenangi puluhan rumah di Talumolo.

Hingga kini, Mei dan Wati masih berusaha keras membersihkan rumah mereka dari lumpur.

Bekas banjir terlihat jelas di dinding rumah, menandakan ketinggian air yang hampir mencapai satu meter.

Tak hanya dapur, material lumpur juga memenuhi teras dan ruang utama rumah mereka.

Barang-barang yang masih bisa diselamatkan, seperti pakaian dan beberapa perabotan, terpaksa disusun di atas kursi agar memudahkan proses pembersihan.

Namun, tak ada banyak tenaga bantuan. Hampir semua warga sibuk dengan rumah mereka masing-masing, berusaha menyelamatkan apa yang tersisa.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved