Sabtu, 7 Maret 2026

Berita Viral

Buntut Polemik Lagu Bayar Bayar Bayar, Vokalis Band Sukatani Kini Dinonaktifkan sebagai Guru SD

Kini vokalis band Sukatani, Novi Chitra Indiyaki, harus dinonaktifkan dari jabatannya sebagai guru SD.

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Buntut Polemik Lagu Bayar Bayar Bayar, Vokalis Band Sukatani Kini Dinonaktifkan sebagai Guru SD
Instagram sukatani
LAGU BAND SUKATANI - Kolase foto Novi Citra Indiryati atau Twister Angel vokalis band Sukatani yang membawakan lagu bayar bayar bayar viral di media sosial, Jumat (21/02/2025). Nasib Novi Citra Indiryati usai viral bawakan lagu 'bayar bayar bayar' dipecat sebagai guru. 

Ia juga menambahkan bahwa sekolah merupakan bagian dari penyelenggaraan pelayanan publik, sehingga pengambil keputusan harus mendasarkan pada asas-asas pelayanan publik.

"Dinas Pendidikan setempat perlu hadir untuk menjernihkan permasalahan. Jika terbukti ada hak-hak yang dilanggar, harus diupayakan pemulihan, pemenuhan, dan perlindungan hak dimaksud," pungkasnya. 

Profil Band Sukatani

Sukatani dikenal sebagai band punk new wave dengan ciri khas yang sulit dilewatkan: lirik tajam, kritik sosial yang menggigit, dan penampilan bertopeng yang ekspresif. 

Grup ini digawangi oleh Alectroguy dan Twister Angel, dua musisi yang aktif di skena musik independen. 

Mereka kerap tampil di panggung-panggung underground dan membagikan karya-karya mereka di platform digital seperti Spotify dan YouTube. 

Didirikan pada Oktober 2022, Sukatani lahir dari keresahan terhadap berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat. 

Dalam beberapa wawancara, mereka menyebutkan bahwa musik adalah senjata mereka untuk menyuarakan ketidakadilan dan menyoroti persoalan yang sering terabaikan. 

Sebelum membentuk Sukatani, Twister Angel sudah malang melintang di dunia musik sejak 2013, menjadi vokalis di beberapa band di Purwokerto. 

Keinginan untuk menciptakan karya yang lebih bebas akhirnya membawanya menggandeng Alectroguy, dan lahirlah Sukatani.

Sukatani mengusung genre punk dengan sentuhan anarcho-punk, sebuah subgenre yang dikenal dengan sikap anti-otoritarian dan semangat anarki. 

Ciri khas mereka makin diperkuat dengan penampilan yang nyentrik: jaket kulit, manik-manik, spike, serta topeng kain panjang berwarna-warni. 

Musik mereka terinspirasi dari band anarcho-punk era 80-an dan gelombang awal proto-punk. 
Namun, beberapa pendengar juga merasakan nuansa post-punk dengan sensibilitas new wave dalam karya-karya mereka. 

Lebih dari sekadar band, Sukatani juga aktif dalam isu sosial dan lingkungan hidup. Identitas daerah asal mereka pun terasa kental, terutama lewat penggunaan dialek Banyumasan dalam lirik-lirik mereka. 

Album Gelap Gempita, yang dirilis pada 24 Juli 2023, menjadi contoh nyata dari ciri khas itu. Lirik-liriknya menyuarakan kritik politik yang tajam dan lugas, seperti dalam lagu berjudul Gelap Gempita. 

"Di dalam otak mereka hanyalah kekuasaan, di dalam hati mereka tak ada kepuasan, di dalam cara mereka terpampang kedzaliman." 

Sukatani mungkin sedang berada di tengah pusaran kontroversi, tapi bagi para penggemarnya, band ini tetap menjadi suara lantang dari Purbalingga yang tak takut berbicara soal ketidakadilan. (*)

 


Artikel ini dioptimasi dari Kompas.com dan TribunWow.com

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved