Senin, 16 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Rahim Badu Mulai Banyak Undangan Untuk Pimpin Doa Arwah di Boalemo Gorontalo Jelang Ramadan

Cerita Rahim Badu seorang tokoh agama asal Desa Pangi, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo yang makin banyak mendapatkan undangan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nawir Islim | Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Cerita Rahim Badu Mulai Banyak Undangan Untuk Pimpin Doa Arwah di Boalemo Gorontalo Jelang Ramadan
TRIBUNGORONTALO/NAWIRISLIM
DOA ARWAH - Rahim Badu pemangku adat dan agama di Boalemo Provinsi Gorontalo pada Rabu (12/02/2025). Rahim Badu mulai banyak mendapatkan banyak panggilan untuk doa arwah jelang Ramadan 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Cerita Rahim Badu seorang tokoh agama asal Desa Pangi, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo yang makin banyak mendapatkan undangan warga untuk memimpin doa arwah menjelang Ramadan.

Doa Arwah atau Mo'ngaruwah sendiri, dalam Bahasa Gorontalo adalah tradisi untuk mendoakan keluarga yang meninggal dunia.

Doa arwah dilaksanakan pada hari tertentu yakni hari ke 3, 5, 7,10, 20, 40, hingga 100 hari selepas orang meninggal dikebumikan.

Akan tetapi banyak masyarakat yang percaya, jika melakukan doa arwah menjelang puasa Ramadan, baik untuk para orang yang sudah meninggal.

"Selain untuk tetap mendoakan orang yang sudah meninggal, doa arwah ini juga untuk terus mengingatkan kita kepada orangtua atau saudara kita yang sudah meninggal dan ini selalu dibuat menjelang hari Ramadan," ungkap Rahim saat diwawancarai, pada Rabu (12/2/2025).

Rahim mengatakan bahwa banyak sekali masyarakat yang mengundangkan untuk memimpin doa.

"Mulai dari doa kubur hingga doa arwah dirumah, saya selalu diundang, yah ini juga untuk mendekatkan diri saya kepada Allah agar selalu mengingat akan mati," ujarnya.

Rahim mengatakan tidak pernah mematok harga untuk menjadi pemimpin doa.

"Apapun yang dikasih itu tentunya menjadi rejeki saya, dan saya pun walau tidak dikasih uang saya juga tidak mempermasalahkan hal tersebut," jelasnya.

Rahim  merupakan imam masjid di Desa Pangi, ia juga sering mengisi kajian hingga perayaan adat-adat lainnya.

"Saya juga mengisi kegiatan Isra miraj atau meraji kemarin di masjid-masjid, bahkan saya pernah diundang hingga ke Paguyaman Pantai untuk menjadi penceramah di tujuh hari," ujarnya.

Rahim mengharapkan bahwa akan ada lagi generasi muda yang harus menggantikan dirinya kelak, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.

"Usia saya sudah masuk 65 tahun, dan saya melihat sudah banyak anak muda yang jauh dari agama, saya harapkan semoga di masa depan nanti banyak anak muda yang bisa menggantikan saya, karena jika sudah habis, kasihan para warga yang nantinya tidak bisa didoakan lagi," pungkasnya

Ipda Oyong Abas Polisi Da'i dari Polres Boalemo Gorontalo, Hidayah Datang dari Pengalaman Pahit

POLISI DA'I - Ipda Oyong Abas, anggota Kepolisian Polres Boalemo Gorontalo. Sosok polisi yang kerap berdakwah di acara-acara keagamaan.
POLISI DA'I - Ipda Oyong Abas, anggota Kepolisian Polres Boalemo Gorontalo. Sosok polisi yang kerap berdakwah di acara-acara keagamaan. (Istimewa)

Inilah profil  Ipda Oyong Abas, seorang anggota Polri yang bertugas di Polres Boalemo.

Ipda Oyong Abas saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Operasi Satuan Intelkam.

Selain bertugas menjadi polisi, Ipda Oyong juga dikenal sebagai Da'i atau pemuka agama di Kabupaten Boalemo.

Ia kerap diundang di acara-acara keagamaan seperti tahlilan. Ipda Oyong juga sering bertugas sebagai khatib.

Namun tak banyak yang tahu, bahwa Ipda Oyong sempat mengalami momen menyedihkan.

Kala itu ia merasakan pengalaman pahit yang akhirnya mengubah hidupnya.

"Saya dulu mempunyai pengalaman pahit secara pribadi. Saat masih muda sering terlibat masalah yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Selasa (4/2/2025).

Usai mendapatkan hidayah, Ipda Oyong mulai mendalami ilmu agama di tengah kesibukannya.

"Untuk menjadi lebih baik, banyak hal yang harus dilalui, dan itu saya lakukan dengan niat tulus untuk mengubah hidup saya," jelasnya.

Ipda Oyong memulai karier kepolisian sejak tahun 2000 silam. Kini genap 24 tahun dirinya menjadi anggota Polri.

Polisi yang akrab disapa Ustadz ini lulus Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SPISS).

Ia merupakan angkatan ke-50 Resimen Wira Satya Adhipradana.

Ia memulai karir kepolisan nya sebagai bintara di Polres Limboto. Setelah itu, Oyong ditugaskan di Polres Pohuwato.

Dirinya sempat bertugas di Polda Gorontalo sebelum akhirnya mengabdi di Polres Boalemo.

ia menceritakan pengalamannya saat menangani berbagai macam kasus.

"Saya pernah di bagian Reskrim dan telah mengungkap banyak kasus dari yang kecil hingga yang besar," bebernya.

Diketahui, ia juga pernah bertugas di pos perbatasan Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

"Saat itu ada kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah, dan saya berjaga di pos perbatasan daerah yang memang cukup tegang pada saat itu," tukasnya,

Ipda Oyong lahir di Gorontalo, 24 Maret 1980.

Ia terlahir dari keluarga sederhana di Kelurahan Bulado, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.

"Saya merupakan dua bersaudara yang tinggal di tempat sederhana bagian barat kota Gorontalo," jelas Ipda Oyong.

Ipda Oyong memiliki hobi yang cukup menarik yakni membaca dan memancing.

Selama bertugas, Ipda Oyong mengaku sudah banyak melaksanakan program keagamaan untuk masyarakat.

"Mulai dari pembinaan rohani agama Islam terutama dalam kegiatan tausyiah agama, khutbah Jum'at dan giat pembinaan lainnya," ujarnya.

Ia mengaku nyaman ketika mempelajari ilmu-ilmu agama.

"Saya suka baca buku apalagi kitab alquran, yang didalamnya banyak sekali hal yang membuat saya tenang dan nyaman," jelasnya.

Ipda Oyong berpesan kepada setiap orang supaya tidak hanya mementingkan urusan dunia.

"Sesibuk apapun kita dalam profesi atau bekerja, agama wajib dijalankan karena tugas kita sebagai seorang beriman adalah dakwah kebaikan kepada sesama," pungkasnya. (*/Nawir)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved