Human Interest Story
Curhat Ati Tahir Pindah ke Pasar Kayubulan Gorontalo, Bukan Untung malah 'Buntung'
Ati kecewa jualannya sepi pembeli, padahal ia merupakan pindahan dari pasar shopping Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/NASIB-PEDAGANG-Curhat-Ati-Tahir-Kamis-622025.jpg)
Ia mengaku tiga tahun terakhir sejak ia pindah ke pasar Kayu Bulan memang keadaan sudah sepi pembeli.
Hanya ada lima pedagang yang masih aktif berjualan termasuk dirinya.
Namun, biasanya yang jualan terkadang sehari dua lapak yang buka.
Kendati demikian, dijadwal pasar kebutuhan ekonomi masih bisa tertolong, sejumlah warga masih membeli di warung miliknya.
"Alhamdulillah kalau jadwal pasar biasanya saya mendapatkan uang Rp200 ribu tapi itu tidak setiap hari," terangnya.
Ati mengaku dirinya juga mendapatkan bantuan dari pemerintah, termasuk bantuan dari Baznas untuk tambahan modal jualannya.
"Soalnya bantuan pemerintah masih membantu saya, itu salah satu yang harus saya syukuri," bebernya.
Kenyataan pahit ini harus Ati telan sendirian, ia rencananya ingin pindah. Hanya saja proses pemindahan memakan waktu dan uang yang tidak sedikit.
Sementara pendapatannya masih saja tidak stabil, oleh karena itu Ati terpaksa bertahan dengan secercah harapan yang masih ada.
"Mau pindah juga, saya pindah ke mana? Apalagi proses pemindahan pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit, sedangkan saya belum punya uang yang cukup," bebernya.
Di lapak ini sering dimintakan retribusi sebesar Rp10 ribu setiap hari. Tapi terkadang Ati sering tidak ada uang untuk memberikannya.
Petugas pasar pun juga sering memaklumi itu, dan kadang mengerti kesusahan pedagang.
"Ada retribusinya tapi kalau tidak ada uang saya sering tidak kasih, Alhamdulillah petugasnya mengerti kesusahan kami," jelas Ati.
Ia menyebutkan, retribusi baginya cukup kecil apabila penjualannya stabil. Namun kenyataannya pengeluaran lebih banyak ketimbang pemasukan.
"Kalau pendapatan begini terus bisa-bisa, kita tidak makan," katanya.
Dari pantauan Tribun Gorontalo di lokasi, pasar ini terlihat sembraut.
Kotoran ada di mana-mana, dari kotoran burung, sampah bahkan jadi tempat burung walet. (*)