Human Interest Story

Curhat Ati Tahir Pindah ke Pasar Kayubulan Gorontalo, Bukan Untung malah 'Buntung'

Ati kecewa jualannya sepi pembeli, padahal ia merupakan pindahan dari pasar shopping Limboto, Kabupaten Gorontalo.

|
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Jefri Potabuga, TribunGorontalo.com.
NASIB PEDAGANG--Curhat Ati Tahir, Kamis (6/2/2025) Pedagang di pasar tradisional Kayubulan, Limboto, Kabupaten Gorontalo yang kian sepi pembeli, Ati berjualan dari pukul 06.30 hingga 15.00 Wita, namun sayangnya dagangnya sering tidak laku. Ia berharap agar pemerintah bisa menata kembali pasar tersebut. FOTO/JefriPotabuga 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Curahan hati (curhat) Ati Tahir (51) bertahan dalam nestapa, pedagang di pasar tradisional Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Ati kecewa jualannya sepi pembeli, padahal ia merupakan pindahan dari pasar shopping Limboto, Kabupaten Gorontalo. Sebelumnya ia berharap di pasar Kayubulan bisa merubah nasib.

"Karena pasar Shopping Limboto terbakar lalu, maka saya pindah ke pasar Kayubulan ini," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (6/2/2025).

Kenyataan pahit harus ia rasakan ternyata di pasar tradisional justru pendapatan menurun drastis.

"Penghasilan menurun sekali, memang sepi di pasar ini," ujar Ati.

Setiap hari ia berjualan barang harian di lapak itu, dari beras, telur, beberapa komoditas pangan lain serta rokok dan barang satset.

Ati berangkat dari rumahnya yang juga berada di Kayu Bulan sejak pagi hari.

Kemudian mulai membuka lapak pukul 06.30 Wita, jika dagangannya tak ada yang membeli ia sering pulang sekiranya pukul 15.00 Wita dengan perasaan kecewa.

Bahkan dalam sehari Ati hanya bisa meraup untung sedikit, biasanya barang yang laku hanya rokok eceran dengan harga Rp2.000 ribu.

"Adakalanya satu hari tidak ada biar hanya beras satu liter dan ada hanya beli rokok seribu atau dua ribu," ungkapnya dengan nada pilu.

Jadwal pasar sebetulnya hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Namun Ati tetap berjualan setiap hari. Hal itu ia lakukan karena ia masih membiayai anak perempuannya.

"Saya buka setiap hari, kalau tidak jualan siapa lagi yang bisa hidupin keluarga saya, apalagi saya masih punya seorang putri," jelasnya.

Untungnya, ekonomi keluarga juga masih didongkrak oleh suaminya yang juga seorang pedagang di sekitar jalan Trans Sulawesi.

"Suami saya juga jualan tapi di Jalan Ahmad A Wahab, di jalan utama situ," jelas Ati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved