Jumat, 6 Maret 2026

Human Interest Story

Curhat Ati Tahir Pindah ke Pasar Kayubulan Gorontalo, Bukan Untung malah 'Buntung'

Ati kecewa jualannya sepi pembeli, padahal ia merupakan pindahan dari pasar shopping Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Curhat Ati Tahir Pindah ke Pasar Kayubulan Gorontalo, Bukan Untung malah 'Buntung'
FOTO: Jefri Potabuga, TribunGorontalo.com.
NASIB PEDAGANG--Curhat Ati Tahir, Kamis (6/2/2025) Pedagang di pasar tradisional Kayubulan, Limboto, Kabupaten Gorontalo yang kian sepi pembeli, Ati berjualan dari pukul 06.30 hingga 15.00 Wita, namun sayangnya dagangnya sering tidak laku. Ia berharap agar pemerintah bisa menata kembali pasar tersebut. FOTO/JefriPotabuga 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Curahan hati (curhat) Ati Tahir (51) bertahan dalam nestapa, pedagang di pasar tradisional Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Ati kecewa jualannya sepi pembeli, padahal ia merupakan pindahan dari pasar shopping Limboto, Kabupaten Gorontalo. Sebelumnya ia berharap di pasar Kayubulan bisa merubah nasib.

"Karena pasar Shopping Limboto terbakar lalu, maka saya pindah ke pasar Kayubulan ini," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (6/2/2025).

Kenyataan pahit harus ia rasakan ternyata di pasar tradisional justru pendapatan menurun drastis.

"Penghasilan menurun sekali, memang sepi di pasar ini," ujar Ati.

Setiap hari ia berjualan barang harian di lapak itu, dari beras, telur, beberapa komoditas pangan lain serta rokok dan barang satset.

Ati berangkat dari rumahnya yang juga berada di Kayu Bulan sejak pagi hari.

Kemudian mulai membuka lapak pukul 06.30 Wita, jika dagangannya tak ada yang membeli ia sering pulang sekiranya pukul 15.00 Wita dengan perasaan kecewa.

Bahkan dalam sehari Ati hanya bisa meraup untung sedikit, biasanya barang yang laku hanya rokok eceran dengan harga Rp2.000 ribu.

"Adakalanya satu hari tidak ada biar hanya beras satu liter dan ada hanya beli rokok seribu atau dua ribu," ungkapnya dengan nada pilu.

Jadwal pasar sebetulnya hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Namun Ati tetap berjualan setiap hari. Hal itu ia lakukan karena ia masih membiayai anak perempuannya.

"Saya buka setiap hari, kalau tidak jualan siapa lagi yang bisa hidupin keluarga saya, apalagi saya masih punya seorang putri," jelasnya.

Untungnya, ekonomi keluarga juga masih didongkrak oleh suaminya yang juga seorang pedagang di sekitar jalan Trans Sulawesi.

"Suami saya juga jualan tapi di Jalan Ahmad A Wahab, di jalan utama situ," jelas Ati.

Ia mengaku tiga tahun terakhir sejak ia pindah ke pasar Kayu Bulan memang keadaan sudah sepi pembeli.

Hanya ada lima pedagang yang masih aktif berjualan termasuk dirinya.

Namun, biasanya yang jualan terkadang sehari dua lapak yang buka.

Kendati demikian, dijadwal pasar kebutuhan ekonomi masih bisa tertolong, sejumlah warga masih membeli di warung miliknya.

"Alhamdulillah kalau jadwal pasar biasanya saya mendapatkan uang Rp200 ribu tapi itu tidak setiap hari," terangnya.

Ati mengaku dirinya juga mendapatkan bantuan dari pemerintah, termasuk bantuan dari Baznas untuk tambahan modal jualannya.

"Soalnya bantuan pemerintah masih membantu saya, itu salah satu yang harus saya syukuri," bebernya.

Kenyataan pahit ini harus Ati telan sendirian, ia rencananya ingin pindah. Hanya saja proses pemindahan memakan waktu dan uang yang tidak sedikit.

Sementara pendapatannya masih saja tidak stabil, oleh karena itu Ati terpaksa bertahan dengan secercah harapan yang masih ada.

"Mau pindah juga, saya pindah ke mana? Apalagi proses pemindahan pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit, sedangkan saya belum punya uang yang cukup," bebernya.

Di lapak ini sering dimintakan retribusi sebesar Rp10 ribu setiap hari. Tapi terkadang Ati sering tidak ada uang untuk memberikannya.

Petugas pasar pun juga sering memaklumi itu, dan kadang mengerti kesusahan pedagang.

"Ada retribusinya tapi kalau tidak ada uang saya sering tidak kasih, Alhamdulillah petugasnya mengerti kesusahan kami," jelas Ati.

Ia menyebutkan, retribusi baginya cukup kecil apabila penjualannya stabil. Namun kenyataannya pengeluaran lebih banyak ketimbang pemasukan.

"Kalau pendapatan begini terus bisa-bisa, kita tidak makan," katanya.

Dari pantauan Tribun Gorontalo di lokasi, pasar ini terlihat sembraut.

Kotoran ada di mana-mana, dari kotoran burung, sampah bahkan jadi tempat burung walet. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved