Basarnas Gorontalo
44 Warga Meninggal Akibat Bencana di Gorontalo, 19 Hilang Sepanjang 2024
Basarnas Gorontalo mengungkap telah melakukan 42 kali operasi pencarian dan penyelamatan sepanjang 2024 silam.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Ponge Aldi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Tim-gabungan-Basarnas-Gorontalo-mengevakuasi-korban-tanah-longsor.jpg)
"Apabila ada oknum yang meminta bayaran, harap laporkan kepada kamu, karena kami tidak pernah menerima bayaran dari warga yang sudah kami bantu," katanya.
Ibrahim mengatakan evakuasi korban dalam penanggulangan bencana sudah menjadi tugas pokok dan fungsi dari Basarnas.
Pihaknya meminta masyarakat tidak sungkan melaporkan jika ada kejadian membahayakan manusia dan darurat, terutama soal kebencanaan.
Lanjut Ibrahim saat ini Basarnas Gorontalo memiliki sejumlah peralatan canggih yang akan digunakan jika terjadi bencana.
Dia menjelaskan tugas, pokok dan fungsi lebih detail Basarnas Gorontalo untuk diketahui warga.
"Kami sendiri telah diatur dalam undang-undang nomor 29 tahun 2014 tentang pencarian dan pertolongan dan juga tupoksi Basarnas," jelasnya.
Katanya Basarnas menangani kecelakaan pesawat, kecelakaan kapal, bencana tanggap darurat, kondisi membahayakan manusia dan penanganan kecelakaan khusus.
"Kalau penanganan kecelakaan khusus sendiri itu kami berkoordinasi lantas Polri," ujarnya.
Ia menerangkan upaya Basarnas untuk pencarian dengan melakukan operasi SAR selama tujuh hari. "Dalam kurung korban tiga hari korban ditemukan maka kita hentikan pencarian," jelasnya.
Namun dalam kurung waktu tujuh hari korban tidak ditemukan maka status korban dinaikan jadi korban hilang. "Operasi SAR dihentikan kemudian kami berkoordinasi dengan pihak keluarga, membuat surat pernyataan dari pihak keluarga, apakah setuju operasi SAR dihentikan," tuturnya.
Akan tetapi sesuai aturan, pihak Basarnas bisa membuka kembali operasi SAR setelah tujuh hari.
"Tetapi dengan syarat kami mengetahui tanda-tanda dari si korban atau informasi dari luar korban ini benar-benar korban yang kita cari dan sudah ditemukan dan kami bisa mengaktifkan kembali untuk mengevakuasi," bebernya.
Tantangan yang dihadapi Basarnas yaitu terkait dengan cuaca.
"Dalam pelaksanaan operasi SAR, cuaca itu jadi kendala utama dalam pelaksanaan, tapi kalau hanya ombak, angin kencang itu tidak jadi kendala kami tetap kami lakukan operasi SAR kecuali badai maka kami menepi," paparnya.
Kalau operasi SAR di sungai yang jadi kendala terjadinya air bah dari hulu ke hilir. "Kalau air naik tiba-tiba maka kami tetap menepi. Kami tunggu air reda dulu baru kami lakukan kembali pencairan," tandasnya.((*/Jefry)