Jumat, 6 Maret 2026

Hari Patriotik Gorontalo

Danrem dan Wakapolda Gorontalo Puji Strategi Nani Wartabone Proklamirkan Kemerdekaan

 Danrem 133/Nani Wartabone, Brigjen TNI Hari Pahlawantoro dan Wakapolda Gorontalo, Brigjen Pol Simzon Zet Ringu memuji perjuangan Pahlawan Nasional

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Danrem dan Wakapolda Gorontalo Puji Strategi Nani Wartabone Proklamirkan Kemerdekaan
TribunGorontalo.com/Herjianto
Wakapolda Gorontalo Simson Zet Ringu bersama Danrem 133/Nani Wartabone Hari Pahlawantoro saat diwawancarai wartawan di Makam Nani Wartabone, Kamis (23/1/2025). 

Belakangan keduanya disebut sebagai Dwi Tunggal dari tanah Sulawesi.

Pembacaan proklamasi dilakukan di lapangan terbuka, saat ini disebut sebagai Taruna Remaja. 

Teks proklamasi dengan lantas dibacakan Nani Wartabone di depan rakyat Gorontalo tepat pukul 10.00 Wita. 

Jika dirunut, Hari Patriotik Gorontalo adalah puncak perjuangan masyarakat untuk lepas dari penjajahan Belanda.

Gerakan Nani Wartabone dan sejumlah pejuang lainnya dipantik oleh kemarahan terhadap rencana Belanda. Bangsa yang sudah menjajah Indonesia berpuluh-puluh tahun itu berencana membumihanguskan Gorontalo. 

Belanda yang sudah mencium kekalahan berencana menghilangkan aset-aset hasil jajahannya di Gorontalo. 

Beruntung, sebelum rencana itu dilancarkan, Saripa Rahman Hala, seorang penyidik di Pemerintahan Belanda membocorkan informasi kepada para pejuang Gorontalo.

Baca juga: Saksi Sebut Marten Taha Terima Uang Terdakwa Korupsi Jl Nani Wartabone saat Jadi Wali Kota Gorontalo

Dari Saripa, informasi diketahui Kaharu dan Ahmad Hippy, lalu sampai ke telinga Kusno Danupoyo, hingga akhirnya terdengar juga oleh Nani Wartabone.

Sebagai masyarakat Gorontalo yang sudah lama menyaksikan kekejaman Belanda ini, lantas bergerak untuk berjuang. Ia mengumpulkan rekan-rekannya dan menyusun strategi mengakhiri kekuasaan Belanda di Gorontalo.

Basri Amin dalam tulisannya menyebut, bahwa Nani Wartabone membentuk kumpulan tokoh pejuang bernama “Komite 12”. Pertemuan itu dilakukan di sebuah kediaman Kusno Danupoyo di Ipilo yang posisinya berada persis di depan Gedung Nasional saat ini. 

Komite 12 dibentuk sebagai gerakan solid melawan kondisi Gorontalo saat itu. 

Ketika itu, situasi kota Gorontalo di malam hari mencekam. Karena Pemerintah Hindia Belanda sudah membentuk Vernielings Corps (VC), atau bagian kepolisian yang akan membumi hanguskan kota Gorontalo,” tulis Basri Amin. 

Saat itu menurut Basri, pasukan Belanda panik akan kedatangan Jepang yang sudah menguasai sejumlah titik di Sulawesi.

Saat itu pada Desember 1941, Perang Asia Timur Raya (Daitoa Senso) yang dikobarkan Jepang dengan secara tiba–tiba menyerang Pearl Harbour di Kepulauan Hawai.

Dampaknya hingga menghancurkan pasukan dan kapal Angkatan Laut Amerika Serikat. Tak lama setelah itu, menyerang kilang minyak di Balikpapan pada 6 Januari 1942.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved